Monday, February 10, 2020

Tiamethoxam (C8H10ClN5S)

Tiamethoxam (C8H10ClN5S) dengan nama kimia 3-[(2-Chloro-1,3-thiazol-5-yl)methyl] -5-methyl-N-nitro-1,3,5- oxadiazinan-4-imine berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemistry disingkat (IUPAC) merupakan senyawa neonicotinoid, Neonicotinoid adalah  insektisida  yang  mempunyai  kemiripan  struktur  dengan nikotin. Aktivitas insektisidanya sangat luas khususnya terhadap serangga penghisap dan pengunyah, dengan  taraf  penggunaan  yang  rendah  melalui  mekanisme  kerja  model  baru dengan cara interaksi dengan reseptor target nicotinic acetylcoline (nAChRs).

Tabel 1. Insektisida Grup 4 IRAC.
Main Group and Primary Site of Action
Chemical
Sub-group
Active Ingredients
4
Nicotinic acetylcholine
receptor (nAChR)
competitive modulators
Nerve action
{Strong evidence that
action at  one or more of
this class of protein is
responsible for
insecticidal effects}
4A
Neonicotinoids
Acetamiprid, Clothianidin, Dinotefuran, Imidacloprid,
Nitenpyram, Thiacloprid, Tiamethoxam,
4B
Nicotine
Nicotine
4C
Sulfoximines
Sulfoxaflor
4D
Butenolides
Flupyradifurone
4E
Mesoionics
Triflumezopyrim

Tiamethoxam adalah nama umum ISO untuk (EZ)-3- (2-kloro-1,3-thiazol-5-ylmethyl) -5-methyl-1,3,5-oxadiazinan-4-ylidene (nitro) amina ISO nama umum mengacu pada E dan Z-isomer. Cara kerja Tiamethoxam adalah insektisida kontak dan termasuk golongan neonicotinoid kelas (IRAC Group 4A, subclass: thianicotinyl). Tiamethoxambertindak dengan mengganggu reseptor asetilkolin nikotin dari sistem saraf. Tiamethoxam tidak diklasifikasikan sebagai berbahaya jika kena kulit atau dihirup, dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit atau mata atau adanya sensitisasi kulit. Tidak ada efek mutagenik yang dicatat dalam tes in vitro dan in vivo. Hasil tes ekstensif menunjukkan toksisitas Tiamethoxam akut rendah. Berdasarkan uji toksisitas akut di laboratorium, tiaminoksam diklasifikasikan tidak beracun untuk ikan, daphnia dan alga. Tiamethoxam adalah serbuk granular berwarna putih. Ini memiliki volatilitas rendah dan memiliki titik leleh 139,1°C. Hal ini cukup larut dalam air 4,1 g/L pada 25°C. Sedangkan tidak larut dalam lemak. Hal ini dianggap stabil terhadap hidrolisis pada semua nilai pH yang relevan terhadap lingkungan. Tiamethoxam tidak memiliki konsentrasi disosiasi dalam kisaran pH 2 sampai 12.

Tiamethoxam adalah insektisida kontak dengan aktivitas translaminar dan dengan sistemik dan tindakan lambung. Penggunaan Pengendalian kutu daun, thrips, leafhoppers, whitefly, dan serangga pengisap lainnya. Formulasi tipe WS, FS, WG, GR, SC. Rumus empiris dari Tiamethoxam adalah C8H10ClN5S
Share:

Bispyribac sodium

3.1 Bahan Aktif Bispyribac sodium
Tabel 1. Herbisida Grup WSSA Grup 2
HRAC Groub
Site of Action
Chemical Family
Active Ingredient
WSSA Groub
B
Inhibition of acetolactate synthase ALS (acetohydroxyacid synthase AHAS)
Pyrimidiny
(thio) benzoat
Bispyribac- Na
2

Herbisida Bispyribac sodium memiliki nama kimia sodium 2,6-bis {(4,6-dimethoxy-2pyrimidinyl) oxy} benzoat dengan rumus kimia berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemistry disingkat (IUPAC). Herbisida Bispyribac sodium merupakan herbisida pasca tumbuh yang bersifat sistemik. Herbisida Bispyribac sodium adalah herbisida yang dapat mengendalikan gulma rumput tahunan, namun tidak seperti herbisida lainnya, herbisida Bispyribac sodium aman untuk tanaman padi. Herbisida ini dapat  memberikan kontrol yang sangat baik terhadap gulma rumput utama termasuk Echinochloaspp., Leptochloa chinensis, Digitarias pp. dan Eleusine indica (Tomlin, 2010).

Herbisida Bispyribac sodium merupakan herbisida yang mekanisme kerjanya menghambat aktivitas enzim Acetolactate synthase (ALS) dan biosintesis asam amino esensial, kemudian mengganggu pembepanen sel dan menyebabkan berhentinya pertumbuhan tanaman, menyebabkan klorosis, nekrosis, dan kematian tumbuhan. Selektivitas herbisida ini terutama disebabkan perubahan enzim Asetil-CoAkarboksilase (ACCase), dan karena perbedaan serapan daun. Selektivitas Bispyribac sodium banyak dipengaruhi oleh morfologi gulma, penetrasi dan retensi herbisida, penyerapan herbisida, translokasi, dan metabolisme diferensial (Tomlin, 2010).


Bispyribac sodium pertama kali dikenalkan pada tahun 1988 oleh Kumiai Chemical Industry Co.,Ltd. yang sekarang berubah nama menjadi Yokoyama et al., dan pertama dikomersialkan pada tahun 1997.
Share:

Nitenpyram (C11H15ClN4O2)

Nitenpyram (C11H15ClN4O2) dengan nama kimia (E)-N-(6-Chloro-3-pyridylmethyl)- N-ethyl-N'-methyl-2-nitrovinylidenediamine berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemistry disingkat (IUPAC) merupakan senyawa neonicotinoid, Neonicotinoid adalah  insektisida  yang  mempunyai  kemiripan  struktur  dengan nikotin. Aktivitas insektisidanya sangat luas khususnya terhadap serangga penghisap dan pengunyah, dengan melalui mekanisme interaksi dengan reseptor target nicotinic acetylcoline (nAChRs). Senyawa ini bekerja dengan cara memblok sinyal sel saraf dari sistem saraf pusat pada serangga dan mengikatnya secara ireversibel ke reseptor (nAChRs), menyebabkan aliran ion di membran postsynaptic dari neuron berhenti sehingga menyebabkan kelumpuhan dan kematian pada serangga sasaran.
Nitenpyram adalah insektisida sistemik racun kontak dan lambung dengan aktivitas translaminar. Digunakan untuk pengendalian kutu daun, thrips, pengorok daun, kutu putih, dan serangga pengisap lainnya pada tanaman padi dan kacang-kacangan. Pada padi, diaplikasikan pada 15-75 g / ha (aplikasi pada daun), 75-100 g / ha (dengan pengkabutan) atau 300-400 g/ha (aplikasi pada tanah). Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengendalikan kelompok kutu-kutuan. Bentuk formulasi yang direkomendasikan adalah bentuk DP, GR, dan SP.

Nitenpyram merupakan insektisida sistemik, racun kontak dan lambung yang digunakan sejak tahun 1989 oleh Takeda Chemical Industries Ltd yang sekarang berubah nama menjadi Sumitomo Chemical Company Ltd yang diluncurkan pada tahun 1995.  Nitenpyram dapat diformulasikan dalam bentuk SL (Soluble Concentrate), yaitu larutan dalam air yang mempunyai ukuran partikel sangat kecil (mikron). Formulasi ini biasanya memiliki kadar bahan aktif yang relatif tinggi dan bila dilarutkan dengan air akan membentuk suspensi. Aplikasi produk formulasi pestisida bentuk SL umumnya dilakukan dengan cara penyemprotan suspensi yang dibentuk menggunakan air bersih.
Share:

Cyphermethrin (C22H19Cl2NO3)

Cyphermethrin (C22H19Cl2NO3) dengan nama kimia Cyano-(3-phenoxyphenyl) methyl] 3-(2,2-dichloroethenyl)-2,2-dimethyl cyclopropane-1-carboxylate berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemistry disingkat (IUPAC) termasuk kedalam golongan senyawa pirethroid yang digunakan sebagai insektisida pada komoditas pertanian dan rumah tangga.
Tabel 2. Insektisida Group 3A IRAC.
Main Group and Primary Site of Action
Chemical 
Sub-group
Active Ingredients
3
Sodium channel
modulators
Nerve action
{Strong evidence that
action at  this protein is
responsible for
insecticidal effects}
3A
Pyrethroids
Pyrethrins
Acrinathrin, Allethrin, d-cis-trans Allethrin, d-transAllethrin, Bifenthrin, Bioallethrin, Bioallethrin S-cyclopentenyl isomer , Bioresmethrin, Cycloprothrin, Cyfluthrin, beta-Cyfluthrin, Cyhalothrin, lambda-Cyhalothrin, gamma-Cyhalothrin, Cypermethrin, alpha-Cypermethrin, beta-Cypermethrin, theta-
cypermethrin, zeta-Cypermethrin, Cyphenothrin ,(1R)-trans- isomers], Deltamethrin, Empenthrin (EZ)-(1R)- isomers], Esfenvalerate, Etofenprox,Fenpropathrin, Fenvalerate, Flucythrinate, Flumethrin, tau-Fluvalinate, Halfenprox, Imiprothrin, Kadethrin, Permethrin, Phenothrin [(1R)-trans- isomer], Prallethrin, Pyrethrins (pyrethrum), Resmethrin, Silafluofen, Tefluthrin, Tetramethrin, Tetramethrin [(1R)-isomers], Tralomethrin, Transfluthrin,
3B
DDT
Methoxychlor
DDT
Methoxychlor

Cyphermethrin  adalah  insektisida  racun  kontak  dan  lambung berbentuk kristal berwarna kuning kecoklatan yang dapat dielmusikan untuk  mengendalikan  hama-hama  penting  pada  tanaman  padi,  kubis, sawi,  kakao,  kedelai,  jagung,  teh,  tembakau  dan  kapas. Insektisida  ini dapat  mengendalikan  hama-hama  penting  antara  lain   pengisap  buah  kakao (Helopeltis  sp), perusak daun kapas (Helicoverpa  amigera), penggorok daun  kedelai  (Agromyza sp),  perusak  daun  kubis  (Crocidolomiabinotalis),  perusak  daun  padi  (Patanga  succincta), perusak daun  sawi (Crocidolomia binotalis),  perusak  daun  teh (Empoasca sp) dan perusak daun tembakau (Spodoptera litura) (Sudjak, 2011). Cyphermethrin dapat terserap pada permukaan dan jaringan daun, lalu menembus epidermis atas masuk ke jaringan parenkim pada mesofil daun (Mantzos, 2015). Didalam daun, Cyphermethrin mengalami proses ester cleveage menghasilkan senyawa α-cyano-3-phenoxybenzyl alcohol dan senyawa ini  toksik terhadap insektisida namun tidak bersifat  toksik pada tanaman (Jones,1995).
Share:

Chlorpyrifos (C9H11Cl3NO3)

Chlorpyrifos (C9H11Cl3NO3) dengan nama kimia O,O-diethyl-O-(3-5-6-trichloro-2 pyridinyl phosphorothioate) berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemistry disingkat (IUPAC) termasuk kedalam golongan senyawa organofosfat yang digunakan sebagai insektisida pada komoditas pertanian, rumah tangga, dan bangunan komersial.
Tabel 1. Insektisida Grou1B IRAC.
Main Group and Primary Site of Action
Chemical 
Sub-group
Active Ingredients
1
Acetylcholinesterase
(AChE) inhibitors
Nerve action
{Strong evidence that
action at  this protein is
responsible for
insecticidal effects}
1A
Carbamates
Alanycarb, Aldicarb, Bendiocarb, Benfuracarb,
Butocarboxim, Butoxycarboxim, Carbaryl, Carbofuran, Carbosulfan, Ethiofencarb, Fenobucarb, Formetanate, Furathiocarb, Isoprocarb, Methiocarb, Methomyl, Metolcarb, Oxamyl, Pirimicarb, Propoxur, Thiodicarb, Thiofanox, Triazamate,Trimethacarb, XMC, Xylylcarb
1B
Organophosphates
Acephate, Azamethiphos, Azinphos-ethyl, Azinphos-methyl, Cadusafos, Chlorethoxyfos, Chlorfenvinphos, Chlormephos, Chlorpyrifos, Chlorpyrifos-methyl, Coumaphos, Cyanophos, Demeton-S-methyl, Diazinon, Dichlorvos/ DDVP, Dicrotophos, Dimethoate, Dimethylvinphos, Disulfoton, EPN, Ethion, Ethoprophos, Famphur, Fenamiphos, Fenitrothion, Fenthion, Fosthiazate, Heptenophos, Imicyafos, Isofenphos, Isopropyl O-(methoxyaminothio-phosphoryl) salicylate, Isoxathion, Malathion, Mecarbam, Methamidophos, Methidathion,
Mevinphos, Monocrotophos, Naled, Omethoate, Oxydemeton-methyl, Parathion, Parathion-methyl, Phenthoate, Phorate, Phosalone, Phosmet, Phosphamidon, Phoxim, Pirimiphos- methyl, Profenofos, Propetamphos, Prothiofos, Pyraclofos, Pyridaphenthion, Quinalphos, Sulfotep, Tebupirimfos, Temephos, Terbufos, Tetrachlorvinphos, Thiometon, Triazophos, Trichlorfon, Vamidothion





Pestisida golongan organofosfat mulai diteliti pada abad 19 oleh Jean Louis Lassaigne dan Philippe de Clermont. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh kimiawan Jerman Willy Lange dan Gerde von Krueger pada tahun 1930an yang berhasil menemukan pengaruh senyawa tersebut pada sistem saraf kolinergik dengan gejala paparan kesulitan bernafas dan pandangan kabur. Senyawa organofosfat dapat  menurunkan  populasi  serangga secara  cepat  dengan sifat resistensi rendah pada hama sasaran sehingga senyawa ini banyak digunakan untuk menggantikan senyawa organoklorin. Sampai saat ini organofosfat masih merupakan insektisida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia (Zulkarnain, 2010). Senyawa golongan organofosfat merupakan turunan dari asam fosfat yang dapat dibedakan menjadi turunan alifatik seperti tetraetilpiriofosfat, azordin, diklorovos, mevinfos, dan metamidofos, turunan fenil seperti parathon, profenofos,  sulprofos,  dan  turunan  heterosoklik  seperti diazinon,  azinfosmetil, Chlorpyrifos (Minton dan Murray, 1988).
Chlorpyrifos  adalah  insektisida  golongan  organofosfat  yang  bersifat  non-sistemik  dan  bekerja  ketika terjadi  kontak  dengan  kulit,  termakan,  atau  terhirup (WHO,  2002). Cara kerja Chlorpyrifos  menghambat kolinesterase atau disebut enzim asetilkolinesterase adalah suatu enzim yang terdapat didalam membran sel terminal syaraf kolinergik juga terdapat pada membran lainnya, seperti dalam plasma darah, sel plasenta yang berfungsi sebagai katalis untuk menghidrolisis asetilkoline menjadi koline dan asetat. Asetilkoline adalah suatu agen yang terdapat dalam fraksi ujung syaraf dari sistem syaraf yang akan menghambat penyebaran impuls dari neuron ke ganglion.
Share:

Mesotrion (C14H13NO7S)

Mesotrion (C14H13NO7S) dengan nama kimia 2-(4-mesyl-2-nitrobenzoyl) cyclohexane- 1,3-dione berdasarkan International Union of Pure and Applied Chemistry disingkat (IUPAC) merupakan golongan triketone. Mesotrione termasuk dalam herbisida MoA HPPD (4-hydroxyphenyl-pyruvate-dioxygenase). Herbisida ini menyebabkan rusaknya klorofil sehingga tanpa klorofil tumbuhan tidak mampu melakukan fotosintesis dan mati. Daun muda berwarna pucat, daun tua menguning mulai dari jaringan terluar.


Tabel 2. Herbisida Groub F2 HRAC
HRAC
Mode of Action
Chemical Family
Active Ingredient
WSSA Groub
F2
Bleaching: inhibition of 4-hydroxyphenyl-pyruvate-dioxygenase (4-HPPD)
Triketone
Mesotrion
Sulcorione
27
Isoxazole
Isoxachlortole
isoxaflutole

Pyrazole
Benzofenap
Pyrazolynate
pyrazoxyfen

other
benzobicyclon


Mesotrion adalah jenis herbisida baru dalam kelompok triketon dan efektif terhadap spesies yang resisten terhadap herbisida atrazin dan herbisida penghambat ALS (Acetolactate synthase). Secara umum mesotrion bertindak sebagai penghambat pigmen (Hanh and Paul, 2002). Mesotrion terdaftar sebagai herbisida baru yang diaplikasikan pra tumbuh untuk pengendalian gulma dengan menghambat pembentukan dioksigenase 4-hydroxy phenylpyruvate (HPPD). Dalam penggunaannya, telah direkomendasikan untuk melakukan pencampuran secara tank mix dengan herbisida atrazin untuk meningkatkan kinerja produk.
Share: