/head>

Monday, January 22, 2018

The 2nd Walailak University Cultural Camp 2018 (WUCC2018)

The 2nd Walailak University Cultural Camp 2018 (WUCC2018)



The 2nd Walailak University Cultural Camp 2018 (WUCC2018)
Theme: In Honour of HRH Princess Chulabhorn Walailak: Cultures without Borders

Date: 16th – 23rd June 2018
Venue: Walailak University, Nakhon Si Thammarat Province and Bangkok, Thailand

Participants: 100 Non-Thai citizens and 60 Thai students from Walailak University. Walailak University students must apply through your School/Faculty.

WUCC2018 aims to promote a global students’ network among 160 international participants. Throughout the 8-day program, the camp participants will have opportunity to EXPLORE Nakhon Si Tammarat Province, the historical city on the eastern part of southern Thailand, and Bangkok, the capital city of Thailand, EXCHANGE cultures, ENGAGE in various activities among global youth, and ENJOY every moment together.

The camp participants must be university students or graduates in any degree program, not over 30 years old and able to communicate well in English. For the detail of WUCC2018, please see the links below:

    Tentative Camp Program
    Qualifications and Registration Requirements
    Online Application
    Health Certificate
    Frequently Asked Questions (FAQs)


Benefits for camp participants:
– Free accommodation
– Free meals
– Free transportation from/to airport and during the program
– Free one-way ticket from Nakhon Si Thammarat Province to Bangkok on 20th June 2018

The camp participants will only be responsible for:
– Round-trip International air-ticket to Thailand, Suvarnabhumi International Airport or Donmueang International Airport
– One-way air-ticket from Bangkok, Donmueang International Airport, to Nakhon Si Thammarat Airport on 16th June 2018
– Accident and health insurance

The application is opened from now until 15 March 2018. The list of successful applicants will be announced on Facebook Page https://www.facebook.com/ciawalailak/ by 1st May 2018.
Share:

Sunday, January 21, 2018

Membagi waktu Belajar IELTS disela sela rutinitas kerja

Membagi waktu Belajar IELTS disela sela rutinitas kerja


Banyak orang yang menulis tips menembus berbagai macam beasiswa. Tips dari saya nggak jauh berbeda jadi nggak perlu saya tuliskan lagi info yang udah bertebaran itulah ya. Pemburu beasiswa sejati pasti udah luluslah Scholarship Application 180, alias dasar-dasar aplikasi beasiswa. Bagaimana cara daftar, kapan deadline-nya, itu termasuk Scholarship Application 108 juga. Saya di sini menulis pengalaman aja yang mungkin bisa beda dengan yang lain, atau mungkin sama tapi ingin saya tekankan.
Bikin semacam list perbandingan untuk semua beasiswa/program yang akan di-apply, kalau memang banyak, dan cantumkan semua persyaratan dan deadline supaya lebih mudah menentukan apa aja yang harus dipersiapkan dan mana yang harus diprioritaskan.
Persiapkan diri untuk tes IELTS
Tes IELTS. Pengalaman saya: alhamdulillah beruntung di bagian writing karena part 1 harus menjelaskan proses pembuatan sesuatu di pabrik dan part 2 temanya bisa dikaitkan dengan pertanian (fokus studi saya di S1 dan jurusan yang akan saya ambil di S2). Supaya beruntung gini nggak ada formula lain lagi sih selain latihan dan berdoa.
Motivation Letter. Pengalaman saya: sering-sering merenungkan masa depan dengan serius, baca-baca isu yang relevan sama jurusan yang mau diambil, sambil latihan nulis pakai bahasa Inggris. Bikin motivation letter mungkin cuma dalam hitungan hari sampai minggu, tapi merenungnya bisa sampai bulanan karena saya nggak mau motivation letter saya cuma manis doang tapi nggak masuk akal untuk saya realisasikan. Jangan lupa minta koreksi ke teman yang jago bahasa Inggris atau teman yang udah dapet beasiswa, minimal 2 orang.
Minta surat rekomendasi dari dosen dan/atau atasan, minimal dua, tiga lebih bagus. Pengalaman saya: pertama, minta dari jauh-jauh hari dan sekaligus untuk beberapa beasiswa/program, supaya nggak bolak-balik ke kampus. Kedua, siap-siap aja untuk bikin draft rekomendasi, karena ada dosen yang minta begitu, lalu draft itu dikirim ke beliau, dan beliau tinggal edit-edit aja. Nah, bikinnya yang menjual tapi realistis ya, dibuat sebisa mungkin dari perspektif dosen yang melihat cara kerja kita. Jangan terlalu narsis. Haha. Ketiga, jangan malu untuk follow up tapi juga jangan sembarangan setiap hari follow up, saya biasanya seminggu sekali.
Khusus pengalaman mendaftar beasiswa StuNed: di bagian motivasi saya jelaskan secara eksplisit kenapa harus belajar di Belanda (bukan cuma kenapa harus milih jurusan tertentu) dan saya fokuskan hubungan motivasi saya dengan perkembangan di bidang prioritas kerja sama Belanda-Indonesia.
Berdoa? Ya udah pasti, tapi nggak perlu saya share pengalaman berdoalah ya. Silakan berdoa dengan cara yang kamu yakini benar.
—————–
Saya ingin berbagi pengalaman saya belajar IELTS paket akademik tanpa kursus di tengah rutinitas kerja 8 jam sehari (total ada di kantor 9 jam plus istirahat) dalam 5 hari seminggu. Dengan kata lain, ketika saya cuma punya waktu luang pada malam hari dan akhir minggu, yaitu waktu-waktu yang sebenarnya sangat pas untuk istirahat. Saya ikut tes bulan Juli tahun 2015 lalu dan mulai belajar serius kira-kira dari 3 atau 2 bulan sebelumnya. Baru saya share sekarang karena baru ada keberanian untuk menuliskan semua ini… Keberanian? Ah, bukan inti dari tulisan ini kok. Hehehe.
Dengan belajar sendiri, waktu lebih fleksibel dan tentunya nggak mahal. Tes IELTS-nya sendiri perlu sekitar 3 juta, kalau masih harus keluar biaya untuk kursus juga… Hmm. Bagi saya sih, lebih baik biayanya dipakai buat persiapan yang lain (dalam kasus saya: persiapan studi) atau jalan-jalan aja sekalian.
Note: ingat, ini lebih ke berbagi pengalaman, bukan tips yang bisa diaplikasikan ke semua orang. Gaya belajar orang berbeda-beda dan inilah gaya belajar saya. Siapa tahu ada yang terbantu.
Inilah rutinitas weekdays saya secara garis besar:
07:00-17:30 Bangun, siap-siap, pergi ke kantor. Saya sengaja datang ke kantor lebih awal biar kantor masih sepi dan saya bisa baca berita berbahas Inggris dulu sebelum mulai kerja. Setelah itu lanjut kerja seperti biasa sampai sore.
17:30-20:00 Sampai kosan dan melakukan berbagai aktivitas yang dibutuhkan manusia pada umumnya. Haha. Sambil makan malam, saya nonton serial berbahasa Inggris.
20:00-00:00 Tidur
00:00-04:30 Simulasi 1 paket IELTS dari buku Cambridge IELTS. Namanya juga simulasi, saya kerjakan sesuai durasi tes aslinya dan lengkap semua sesi sesuai urutannya: listening, reading, writing, speakingSpeaking bisa terpisah karena tes aslinya pun terpisah. Tapi, kadang saya latihan langsung setelah writing dengan ngomong sendiri. Jadi, silakan cari buku Cambridge IELTS sebanyak-banyaknya (entah sudah ada berapa volume sekarang) supaya banyak stok untuk latihan setiap hari. Satu buku ada 4 paket tes.
04:30-07:00 Tidur lagi setelah shalat subuh
Note (2): Saya nggak suka bawa pulang kerjaan kantor jadi rutinitas seperti itu sangatlah mungkin. Apa yang terjadi di kantor ya terjadilah di kantor. Pintar-pintar mengatur waktu dan kerjaan aja supaya bisa pulang tepat waktu setiap hari. Akan jauh lebih mudah kalau punya bos super baik yang kerja di tempat yang beda zona waktu, seperti saya. Hehehe.
Begitu terus hampir setiap hari. Ya, hampir, kan saya juga manusia, kadang nggak bisa bangun tengah malam dan besoknya terbangun dengan penyesalan yang luar biasa. Haha. Untuk weekend, kalau lagi nggak ada kerjaan dan mood lagi bagus, saya bisa kerjakan 2 paket dalam satu hari. Tapi weekend nggak mesti belajar juga, sesekali lupakan dulu dunia IELTS dan mulai lagi hari Senin. Hehe.
Untuk weekdays, saya memilih belajar tengah malam karena kerja 8 jam sehari sudah cukup menguras energi dan pikiran. Kalau langsung belajar setelah kerja tanpa tidur dulu, jujur saya nggak sanggup. Lagipula tengah malam juga kosan lebih sepi, jadi meminimalisasi distraksi eksternal. Cuma ya, distraksi internal (ngantuk, malas, tergoda untuk browsing) selalu ada jadi harus punya niat yang maha kuat untuk bisa bangun dan produktif setiap tengah malam itu.
Selain simulasi, saya juga belajar dengan cara-cara lain:
a. Listening
Setiap hari nonton film berbahasa Inggris. Sesekali saya nonton tanpa subtitle (ya sesekali, nggak selalu, karena adakalanya saya juga mau nonton tanpa beban harus menyerap sesuatu, haha). Pekerjaan saya juga sebenarnya membantu. Saya terlibat proyek yang timnya ada di berbagai negara. Setiap 2 minggu sekali kami meetinglewat telepon, jadi mau nggak mau saya harus menajamkan pendengaran saya sekaligus berusaha memahami berbagai aksen bahasa Inggris. Berguna juga ini, karena di latihan-latihan listening yang ada di buku paket IELTS, saya menemukan penggunaan aksen yang bermacam-macam.
Hati-hati, listening dari buku paket kecepatannya mungkin cuma sepertiga dari listening saat tes asli. Saya sempat kaget waktu tes aslinya karena ternyata jauh lebih cepat daripada latihan.
b. Reading
Tipe pertanyaan untuk sesi reading memang bermacam-macam dan latihan dari buku paket adalah cara yang paling to the point untuk belajar. Tapi, saya merasa perlu melatih diri sendiri untuk terbiasa baca dan berpikir dalam bahasa Inggris juga, bukan sekedar untuk jawab pertanyaan. Jadi, setiap pagi sebelum kerja, saya baca setidaknya satu berita berbahasa Inggris. Pulang kerja kadang baca lagi. Setiap menemukan kata baru, saya langsung cari artinya dan tulis kata + artinya itu di kertas. Ingat ya tulis di kertas secara manual, bukan digital. Konon katanya menulis dengan tangan lebih efektif untuk mengingat sesuatu. Nah, kertas-kertas itu jangan sampai hilang, tapi disatukan dan dibaca sesekali kalau lagi luang. Dengan cara ini, kosakata saya bertambah setiap hari dan nggak dilupakan begitu aja. Ujung-ujungnya jadi membantu writing juga.
Ketika kita baca macam-macam berita di surat kabar yang sama, biasanya gaya penulisan atau pemakaian kata nggak begitu berbeda jauh. Jadi, setelah saya mendapat kosakata baru di artikel A, biasanya saya akan menemukan kosakata itu juga di artikel lain. Karena sudah tahu artinya sebelumnya, kosakata itu jadi lebih nempel dan baca pun lebih lancar. Saya baca berita dari sumber yang bervariasi, tapi biasanya nggak jauh-jauh dari Jakarta Globe, New York Times, BBC, atau apapun artikel berbahasa Inggris yang menarik.
c. Writing
Selain mendulang kosakata baru dari baca berita, coba baca-baca juga contoh jawaban writing yang nilainya tinggi. Banyak di internet, misalnya dengan kata kunci: IELTS writing sample band 9. Bukannya muluk-muluk harus mengejar score 9, tapi kalau belajar memang harus mengacu dari yang terbaik kan? Dengan baca berbagai macam jawaban orang lain, kita juga jadi belajar bagaimana membagi paragraf supaya semua pertanyaan terjawab dengan akurat, efektif, dan menarik. Dan jangan lupa pelajari berbagai sinonim untuk kata-kata yang sering dipakai dalam tulisan. Misalnya, biasanya kita ditanya pendapat apakah kita setuju atau tidak terhadap suatu pernyataan. Di jawaban kita, boleh aja sih kita tulis “I agree because… blablabla”. Tapi kalau muncul terus-menerus di beberapa bagian tulisan kan bosen juga, nggak menunjang untuk dapet nilai bagus juga. Dengan baca contoh jawaban orang, saya jadi dapet alternatif lain untuk mengungkapkan hal sama dengan cara yang berbeda.
d. Speaking
Sebelum latihan sendiri, ada baiknya tonton video contoh tes speaking. Supaya terbayang juga tesnya seperti apa dan jawaban macam apa yang bagus itu. Setelah itu baru latihan/simulasi dengan mengikuti buku paket. Jangan lupa waktunya dibatasi sesuai tes aslinya dan topiknya mengacu ke topik-topik yang sering diangkat di tes IELTS. Topik-topik ini bisa didapat dengan mudah di internet dan di buku paket IELTS juga pastinya. Saya latihan dengan dua cara: ngomong sendiri dan latihan dengan orang yang udah lulus IELTS duluan.
Setelah melalui perjalanan panjang yang sudah saya paparkan ini, bagaimana hasil IELTS saya? Nggak perlu saya sebutkan angkanyalah ya, nanti dikira sombong atau malah dikatai “segitu aja bangga”. Yang jelas, alhamdulillah nilai saya bisa dipakai untuk daftar ke semua universitas yang saya mau (yang mensyaratkan IELTS tentunya) dan berbagai program beasiswa. Beda bidang ilmu mungkin beda syarat minimum score IELTS. Saya sendiri selalu daftar untuk jurusan teknologi pangan, yang berarti termasuk bidang sains atau teknik. Kalau yang sudah mulai rajin “menginvestigasi” berbagai website universitas dan beasiswa, pasti tahulah kisaran nilai yang dibutuhkan berapa. Untuk yang belum, silakan dimulai  pencariannya disesuaikan dengan targetnya masing-masing.
Mendengar rutinitas tengah malam saya dan berbagai metode yang saya lakukan, teman saya pernah mengatai saya gila. Haha. Ya kalau benar-benar menginginkan sesuatu mungkin memang harus menggilai proses perjuangan yang dilalui dulu untuk bisa berhasil. Dan, untuk bisa sampai ke tahap gila tersebut, tentu aja prosesnya nggak instan. Tahapannya adalah: keinginan kuat -> niat kuat -> konsisten -> gila -> berhasil! Konsisten adalah tahapan yang paling sulit. Tapi, kalau dua tahapan sebelumnya sudah cukup kuat, insyaallah tahap ini akan lebih dimudahkan.
Selamat belajar IELTS!
Share:
Beasiswa LPDP, STUNED, NFP 2018

Beasiswa LPDP, STUNED, NFP 2018


Oleh Dyah Ayu Kartika
Sebagian besar mahasiswa ISS mendapat beasiswa penuh untuk hidup di Belanda, tapi ada juga yang mendapat beasiswa parsial dan biaya sendiri atau self-funded. untuk teman-teman program master dari PPI kota Den Haag angkatan 2015-2016, semuanya disponsori beasiswa, antara lain Stuned, NFP, LPDP, Spirit, dan beasiswa unggulan DIKNAS. Di rubrik ini, kami akan menjelaskan pengalaman beasiswa yang mungkin bisa dipertimbangkan sebelum menjadi mahasiswa ISS.
  1. StuNed (Studeren in Nederland)
Stuned berada di posisi pertama di tulisan ini bukan karena bias penulis yang mendapatkan sponsor dari Stuned ya, hehe. Melainkan karena sebagian besar (6 orang) anggota PPI KDH tahun ini mendapat dana dari StuNed.
Stuned merupakan beasiswa hasil kerjasama bilateral antara pemerintah Indonesia dan Belanda sejak tahun 2000. Berdasarkan perjanjian tersebut, terdapat beberapa bidang-bidang prioritas (dapat dilihat diweb Stuned). Namun, bukan berarti mustahil untuk mendapatkan beasiswa ini jika jurusan kalian tidak termasuk dalam bidang prioritas. Sebagian besar jurusan-jurusan di ISS dapat dikategorikan dalam bidang prioritas ini.
Stuned tidak hanya mensponsori program master, tetapi juga short-course (individu) dan tailor-made training (grup). Untuk beasiswa master,  beasiswa ini meliputi biaya visa untuk ke Belanda, tiket perjalanan Jakarta-Belanda-Jakarta (dan biaya daerah asal ke Jakarta bagi yang berasal dari luar Jakarta), tuition fee, settlement allowance sebesar €275, biaya untuk materi perkuliahan sebesar €310, biaya hidup selama di Belanda sebesar €970 per bulan, asuransi, dan biaya penelitian hingga €850. Proses pembuatan visa dan pembelian tiket pesawat akan dibantu oleh pihak Stuned, Anda hanya datang dan mengikuti proses yang berlangsung. Hal ini juga berarti Anda tidak bisa memilih maskapai penerbangan karena Stuned sudah bekerjasama dengan airlines tertentu.
 Meskipun dalam website pihak Stuned mengatakan salah satu persyaratan adalah pernah bekerja selama 2 tahun, sejak tahun 2014, Stuned membuka kesempatan bagi fresh-graduate untuk mendaftarkan diri. Tahun 2015, terdapat ± 15 fresh-graduates yang mendapat beasiswa, dua diantaranya mahasiswa ISS. Persyaratan dan informasi yang lebih lengkap bisa dilihat dalam tautan berikut ini: 
Proses seleksi Stuned tergolong sederhana, cukup melengkapi dokumen yang diminta oleh pihak Stuned (tanpa wawancara). Sekitar 1-2 bulan sejak tenggat waktu pendaftaran, Anda akan mendapatkan pemberitahuan bahwa Anda (1) diterima, (2) menjadi cadangan, atau (3) ditolak. Setelah mengonfirmasi bahwa Anda menerima beasiswa ini, langkah selanjutnya adalah tandatangan kontrak. Perhatikan dengan seksama terkait kontrak ini karena  akan menjadi pegangan selama hidup di Belanda.
Terdapat tiga kegiatan yang wajib dihadiri jika menjadi Stuned Awardee, yaitu welcoming session, program akulturasi, dan pre-departure briefing. Welcoming session merupakan acara untuk memperkenalkan Stuned Awardee secara lebih dekat dengan Stuned dan orang-orang di belakang layarnya. Acara ini juga menjadi ajang pertemuan denga awardees lain. Program akulturasi merupakan program yang disusun untuk memberi pengetahuan terkait budaya dan bahasa Belanda selama satu minggu penuh dengan tujuan untuk meminimalisasi culture shock ketika awardee sampai di Belanda. Sementara itu, pre-departure briefing merupakan acara yang dibuat sebelum keberangkatan dimana kita dapat berkonsultasi dengan alumni universitas tujuan terkait kehidupan di universitas tersebut. Acara ini terbuka untuk semua calon mahasiswa yang akan berangkat ke Belanda, tidak eksklusif untuk Stuned saja.
Selama di Belanda, Anda akan mendapatkan uang untuk biaya hidup yang ditransfer oleh Erasmus (biasanya setiap tanggal 28) setiap bulannya. Mahasiswa yang disponsori Nuffic diwajibkan untuk tinggal di housing ISS selama program master berlangsung (16 bulan). Bagi yang tinggal di housing yang dimiliki ISS, uang yang ditransfer setiap bulan sudah dipotong untuk uang akomodasi. Tapi, sejak 2016, beberapa housing ISS dipindahtangankan ke pihak DUWO yang berarti setiap bulannya kita harus mentransfer uang sewa ke DUWO. Lebih lengkap terkait housing bisa dlihat di sini: http://www.iss.nl/prospective_students/accommodation_and_student_life/.  Pihak ISS juga akan otomatis memotong €100 dari uang materi perkuliahan untuk biaya fotokopi-print-scan yang tersimpan dalam student card kita sebesar €10 dan materi perkuliahan lainnya (buku dan jurnal yang tersedia online).

  1. NFP (Netherland Fellowship Program)
Beasiswa ini merupakan salah satu dari beasiswa yang disediakan pemerintah Belanda bagi pelajar-pelajar dari seluruh dunia. Terdapat lebih dari 50 negara yang menjadi sasaran dari beasiswa ini, termasuk Indonesia. Beasiswa ini juga memberi kesempatan yang besar bagi kandidat perempuan dan warga negara sub-sahara Afrika. Salah satu hal yang membedakan NFP dengan Stuned adalah sasaran beasiswa. NFP menyasar kepada para profesional baik dari pemerintah maupun non-pemerintah yang dibuktikan dengan adanya employer statement dalam syarat dokumen yang diberikan ke pihak nuffic. Employer statement ini juga menunjukkan bahwa kandidat akan tetap menerima honor selama masa studinya di Belanda.
Beasiswa NFP tidak hanya mencakup beasiswa untuk program master, tetapi juga short course, tailor made training, dan PhD. Beasiswa ini mencakup biaya visa dan tiket perjalanan Jakarta-Belanda-Jakarta, settlement allowance sebesar €275, tuition fee, biaya untuk materi perkuliahan sebesar €310, biaya hidup selama di Belanda sebesar €970 per bulan, dan asuransi. Perlu dicatat bahwa sejak tahun 2016, NFP tidak lagi menyediakan anggaran untuk riset bagi mahasiswanya.  Informasi lebih lengkap terkait persyaratan NFP bisa didapatkan di tautan berikut: http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/netherlands-fellowship-programme-nfp.
Setelah mendapatkan Letter of acceptance, pihak ISS akan menginformasikan kepada Anda terkait kesempatan untuk disponsori oleh NFP serta detil terkait aplikasi beasiswa ini. Tahap berikutnya adalah melengkapi seluruh dokumen yang diminta dan mengirimnya ke pihak ISS. Anda akan diberi kabar oleh pihak ISS apakah Anda diterima atau tidak sebagai penerima beasiswa. Pastikan bahwa Anda diterima dengan meminta surat resmi yang mencantumkan nama Anda. Kemudian, Anda akan dikirimkan kontrak kosong antara Anda dengan pihak Nuffic. Jika setuju dan tidak ada hal yang perlu diperjelas lagi, Anda diharapkan menandatangani, men-scan, lalu mengirimkannya kembali ke pihak kampus. Selama proses administrasi, Anda hanya berhadapan dengan pihak admission office universitas.
Berbeda dengan Stuned yang diharapkan untuk hadir di berbagai kegiatan Neso, kandidat NFP tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan apapun. Kandidat tetap diinformasikan terkait  pre-departure briefing yang diselenggarakan Neso Indonesia meskipun tidak wajib untuk mengikuti acara tersebut. Selama di Belanda, penerima NFP diperlakukan sama dengan penerima Stuned; mendapat biaya hidup setiap bulan, tinggal di housing ISS selama 16 bulan, dan mendapat uang untuk materi studi sejumlah €200 (setelah dipotong €100 oleh pihak ISS).

  1. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)
Tentu beasiswa ini tidak lagi asing bagi pemburu beasiswa. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang lebih dikenal dengan beasiswa LPDP sudah menelurkan ribuan mahasiswa master maupun doktor untuk bersekolah di dalam maupun luar negeri meskipun usianya masih terbilang ‘muda’. Tahun ini, terdapat dua mahasiswa ISS yang mendapat sponsor dari LPDP, salah satunya sudah berkeluarga dan membawa keluarganya ke Belanda. Kehidupan dan pengalaman awardees BPI ini akan saya jelaskan dalam sesi ini.
BPI merupakan beasiswa yang berasal dari pemerintah Indonesia. Seperti halnya Stuned, BPI juga memiliki bidang prioritas, tetapi tidak berarti jurusan di luar bidang prioritas tidak akan diterima oleh beasiswa ini. BPI memiliki daftar nama universitas yang termasuk dalam universitas tujuan, salah satunya Erasmus University Rotterdam dimana ISS menjadi bagian darinya. Untuk menjadi awardee, BPI tidak mengharuskan seseorang untuk memiliki pengalaman bekerja akan tetapi terdapat batas usia maksimal, baik untuk program master maupun doktor. Selengkapnya bisa diakses di tautan ini: http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor/
BPI melakukan proses seleksi yang cukup ketat mengingat cakupan beasiswa yang sangat luas. Calon awardeeakan melewati tiga tahap seleksi sebelum berangkat ke negara tujuan. Tahap pertama adalah seleksi administrasi. Pada tahap ini, calon awardee diminta untuk menulis esai, mengisi formulir dari LPDP, dan menyertakan surat rekomendasi. Setelah itu, tahap kedua adalah wawancara, LGD, dan pembuatan esai di tempat. Tahap ketiga, adalah Persiapan Keberangkatan (PK) yang berisi serangkaian kegiatan untuk membangun nasionalisme dan memotivasi para awardee untuk kembali ke Indonesia selepas melesaikan studi di negara lain.
Dukungan dana yang diberikan BPI mencakup biaya visa, tiket perjalanan Jakarta-Belanda-Jakarta (dan biaya daerah asal ke Jakarta bagi yang berasal dari luar Jakarta), tuition fee, asuransi, settlement allowance sebelum keberangkatan sebesar €1200 yang dikonversikan ke rupiah dan dikirim ke rekening di Indonesia, settlement allowance setelah keberangkatan sebesar €1200, biaya hidup per bulan sebesar €1200 yang diberikan setiap triwulan, biaya materi perkuliahan sebesar 10 juta rupiah, serta biaya penelitian sebesar 25 juta rupiah untuk master dan 75 juta rupiah untuk doktor. Uang penelitian ini akan dikirim langsung ke rekening universitas atau dikirim ke rekening awardee dengan sistem reimburse. Bagi awardee yang membawa keluarga, BPI memberikan dana keluarga sebesar 25% dari biaya hidup bulanan sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ikut ke Belanda (maksimal 2 orang). Awardee dipersilakan untuk membawa anggota keluarga lebih dari dua orang tetapi tidak ditanggung oleh LPDP. Tunjangan keluarga ini juga baru dihitung sejak bulan ketujuh awardeemenetap di Belanda. Diasumsikan pada bulan ketujuh, awardee sudah beradaptasi dengan baik sehingga bisa menerima kedatangan keluarga yang menetap di sana.  Tunjangan keluarga ini TIDAK termasuk tiket pesawat anggota keluarga Jakarta-Belanda-Jakarta dan asuransi anggota keluarga selama hidup di Belanda.
Bagi awardee LPDP yang mendaftar tanpa dilengkapi dengan Letter of acceptance dari universitas, pastikan LoA segera didapat karena kontrak dari LPDP baru diberikan setelah LoA didapat. Berdasarkan pengalaman mahasiswa ISS tahun ini, softcopy kontrak dan Letter of Sponsorship diberikan secara softcopy. Kontrak harus dicetak, rangkap dua, ditandatangan, diparaf setiap halaman, dan dikirimkan kembali ke pihak LPDP untuk ditandatangani oleh direktur LPDP. Kontrak yang sudah ditandatangani harus diambil di kantor LPDP. Sementara itu, Letter of Sponsorhip yang dikirimkan berupa form kosong yang harus diisi dan dikirimkan kembali dalam bentuk softcopy.
Sebelum berangkat, awardee bisa mengajukan tanggal keberangkatan untuk dicarikan tiket pesawat. Maskapai penerbangan yang dipilih oleh LPDP adalah Garuda Indonesia, meskipun ada kemungkinan juga menggunakan maskapai lain jika tidak ada opsi lain. Awardee juga dipersilakan untuk membeli tiket di luar mekanisme LPDP, misalnya menggunakan agen travel biasa. Salah satu mahasiswa ISS yang membawa keluarga memutuskan untuk tidak mengajukan tiket dari LPDP tetapi menggunakan agen travel biasa. Biaya yang dikeluarkan sebelumnya akan direimburse setelah awardee mendapatkan visa.
Biaya hidup akan dikirim ±10 hari setelah awardee mengajukan permohonan. Untuk itu, awardee diminta untuk mengisi form dan memberikan bukti bahwa awardee memang sedang berkuliah di universitas tersebut, biasanya dengan menyertakan screen capture nilai maupun mata kuliah yang sedang diambil. Saat ini, LPDP sudah menggunakan sistem simonev untuk mempermudah proses pencairan dana bagi penerima beasiswanya. 
Awardee hanya perlu mengunggah nilai sebelum tanggal 25 di bulan pengajuan dana di website simonev. Jika melewati deadline, awardee tetap bisa mengajukan pencairan dana menggunakan sistem form seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Karena tidak berasal dari program Nuffic, awardee LPDP memiliki kontrak untuk menetap di housing yang disediakan ISS selama 12 bulan, setelah itu awardee diperkenankan untuk memperpanjang kontrak jika jumlah kamar masih mencukupi atau pindah ke apartemen atau housing lain di luar yang diselenggarakan ISS. Awardeejuga diharapkan untuk mentransferkan biaya sewa housing ISS ke rekening ISS, namun semenjak transisi kepemilikan housing antara ISS dengan DUWO, beberapa housing diserahkan ke pihak DUWO sehingga awardeejuga membayarkan biaya sewa kamar ke pihak DUWO.
Sementara itu, awardee yang membawa keluarga tidak dapat menetap di dalam housing ISS sehingga harus menyewa apartemen di luar. Pengurusan izin penyewaan rumah dilakukan dengan pihak IND Den Haag. Terdapat beberapa ketentuan yang harus dipersiapkan, terutama saldo di rekening bank Anda. Pemerintah daerah Den Haag mensyaratkan penyewa rumah memiliki saldo rekening yang sama atau lebih dari pendapatan bulanan (1400€) dikalikan lama tinggal. Penerima beasiswa LPDP bisa melampirkan Letter of Sponsorship sebagai jaminan kepada IND bahwa awardee memiliki pendapatan yang cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tunjangan keluarga hanya didapat sejak bulan ketujuh hingga akhir masa studi. Untuk mengajukan klaim terkait tunjangan keluarga ini, Anda akan membutuhkan boarding pass keberangkatan anggota keluarga, visa, kartu identitas setempat, dan surat pernyataan dari pimpinan jurusan bahwa diperbolehkan membawa keluarga. Selama hidup di Belanda, setiap anggota keluarga harus memiliki asuransi. Jika Anda menyampaikan dari awal kalau akan membawa keluarga, proses pengajuan asuransi untuk mereka akan dibantu oleh admission office dan bisa di-reimburse secara berkala sebanyak 3 kali. Asuransi yang bekerjasama dengan ISS adalah AON dengan biaya 950€ per orang.
Share: