Sunday, January 21, 2018

Membagi waktu Belajar IELTS disela sela rutinitas kerja


Banyak orang yang menulis tips menembus berbagai macam beasiswa. Tips dari saya nggak jauh berbeda jadi nggak perlu saya tuliskan lagi info yang udah bertebaran itulah ya. Pemburu beasiswa sejati pasti udah luluslah Scholarship Application 180, alias dasar-dasar aplikasi beasiswa. Bagaimana cara daftar, kapan deadline-nya, itu termasuk Scholarship Application 108 juga. Saya di sini menulis pengalaman aja yang mungkin bisa beda dengan yang lain, atau mungkin sama tapi ingin saya tekankan.
Bikin semacam list perbandingan untuk semua beasiswa/program yang akan di-apply, kalau memang banyak, dan cantumkan semua persyaratan dan deadline supaya lebih mudah menentukan apa aja yang harus dipersiapkan dan mana yang harus diprioritaskan.
Persiapkan diri untuk tes IELTS
Tes IELTS. Pengalaman saya: alhamdulillah beruntung di bagian writing karena part 1 harus menjelaskan proses pembuatan sesuatu di pabrik dan part 2 temanya bisa dikaitkan dengan pertanian (fokus studi saya di S1 dan jurusan yang akan saya ambil di S2). Supaya beruntung gini nggak ada formula lain lagi sih selain latihan dan berdoa.
Motivation Letter. Pengalaman saya: sering-sering merenungkan masa depan dengan serius, baca-baca isu yang relevan sama jurusan yang mau diambil, sambil latihan nulis pakai bahasa Inggris. Bikin motivation letter mungkin cuma dalam hitungan hari sampai minggu, tapi merenungnya bisa sampai bulanan karena saya nggak mau motivation letter saya cuma manis doang tapi nggak masuk akal untuk saya realisasikan. Jangan lupa minta koreksi ke teman yang jago bahasa Inggris atau teman yang udah dapet beasiswa, minimal 2 orang.
Minta surat rekomendasi dari dosen dan/atau atasan, minimal dua, tiga lebih bagus. Pengalaman saya: pertama, minta dari jauh-jauh hari dan sekaligus untuk beberapa beasiswa/program, supaya nggak bolak-balik ke kampus. Kedua, siap-siap aja untuk bikin draft rekomendasi, karena ada dosen yang minta begitu, lalu draft itu dikirim ke beliau, dan beliau tinggal edit-edit aja. Nah, bikinnya yang menjual tapi realistis ya, dibuat sebisa mungkin dari perspektif dosen yang melihat cara kerja kita. Jangan terlalu narsis. Haha. Ketiga, jangan malu untuk follow up tapi juga jangan sembarangan setiap hari follow up, saya biasanya seminggu sekali.
Khusus pengalaman mendaftar beasiswa StuNed: di bagian motivasi saya jelaskan secara eksplisit kenapa harus belajar di Belanda (bukan cuma kenapa harus milih jurusan tertentu) dan saya fokuskan hubungan motivasi saya dengan perkembangan di bidang prioritas kerja sama Belanda-Indonesia.
Berdoa? Ya udah pasti, tapi nggak perlu saya share pengalaman berdoalah ya. Silakan berdoa dengan cara yang kamu yakini benar.
—————–
Saya ingin berbagi pengalaman saya belajar IELTS paket akademik tanpa kursus di tengah rutinitas kerja 8 jam sehari (total ada di kantor 9 jam plus istirahat) dalam 5 hari seminggu. Dengan kata lain, ketika saya cuma punya waktu luang pada malam hari dan akhir minggu, yaitu waktu-waktu yang sebenarnya sangat pas untuk istirahat. Saya ikut tes bulan Juli tahun 2015 lalu dan mulai belajar serius kira-kira dari 3 atau 2 bulan sebelumnya. Baru saya share sekarang karena baru ada keberanian untuk menuliskan semua ini… Keberanian? Ah, bukan inti dari tulisan ini kok. Hehehe.
Dengan belajar sendiri, waktu lebih fleksibel dan tentunya nggak mahal. Tes IELTS-nya sendiri perlu sekitar 3 juta, kalau masih harus keluar biaya untuk kursus juga… Hmm. Bagi saya sih, lebih baik biayanya dipakai buat persiapan yang lain (dalam kasus saya: persiapan studi) atau jalan-jalan aja sekalian.
Note: ingat, ini lebih ke berbagi pengalaman, bukan tips yang bisa diaplikasikan ke semua orang. Gaya belajar orang berbeda-beda dan inilah gaya belajar saya. Siapa tahu ada yang terbantu.
Inilah rutinitas weekdays saya secara garis besar:
07:00-17:30 Bangun, siap-siap, pergi ke kantor. Saya sengaja datang ke kantor lebih awal biar kantor masih sepi dan saya bisa baca berita berbahas Inggris dulu sebelum mulai kerja. Setelah itu lanjut kerja seperti biasa sampai sore.
17:30-20:00 Sampai kosan dan melakukan berbagai aktivitas yang dibutuhkan manusia pada umumnya. Haha. Sambil makan malam, saya nonton serial berbahasa Inggris.
20:00-00:00 Tidur
00:00-04:30 Simulasi 1 paket IELTS dari buku Cambridge IELTS. Namanya juga simulasi, saya kerjakan sesuai durasi tes aslinya dan lengkap semua sesi sesuai urutannya: listening, reading, writing, speakingSpeaking bisa terpisah karena tes aslinya pun terpisah. Tapi, kadang saya latihan langsung setelah writing dengan ngomong sendiri. Jadi, silakan cari buku Cambridge IELTS sebanyak-banyaknya (entah sudah ada berapa volume sekarang) supaya banyak stok untuk latihan setiap hari. Satu buku ada 4 paket tes.
04:30-07:00 Tidur lagi setelah shalat subuh
Note (2): Saya nggak suka bawa pulang kerjaan kantor jadi rutinitas seperti itu sangatlah mungkin. Apa yang terjadi di kantor ya terjadilah di kantor. Pintar-pintar mengatur waktu dan kerjaan aja supaya bisa pulang tepat waktu setiap hari. Akan jauh lebih mudah kalau punya bos super baik yang kerja di tempat yang beda zona waktu, seperti saya. Hehehe.
Begitu terus hampir setiap hari. Ya, hampir, kan saya juga manusia, kadang nggak bisa bangun tengah malam dan besoknya terbangun dengan penyesalan yang luar biasa. Haha. Untuk weekend, kalau lagi nggak ada kerjaan dan mood lagi bagus, saya bisa kerjakan 2 paket dalam satu hari. Tapi weekend nggak mesti belajar juga, sesekali lupakan dulu dunia IELTS dan mulai lagi hari Senin. Hehe.
Untuk weekdays, saya memilih belajar tengah malam karena kerja 8 jam sehari sudah cukup menguras energi dan pikiran. Kalau langsung belajar setelah kerja tanpa tidur dulu, jujur saya nggak sanggup. Lagipula tengah malam juga kosan lebih sepi, jadi meminimalisasi distraksi eksternal. Cuma ya, distraksi internal (ngantuk, malas, tergoda untuk browsing) selalu ada jadi harus punya niat yang maha kuat untuk bisa bangun dan produktif setiap tengah malam itu.
Selain simulasi, saya juga belajar dengan cara-cara lain:
a. Listening
Setiap hari nonton film berbahasa Inggris. Sesekali saya nonton tanpa subtitle (ya sesekali, nggak selalu, karena adakalanya saya juga mau nonton tanpa beban harus menyerap sesuatu, haha). Pekerjaan saya juga sebenarnya membantu. Saya terlibat proyek yang timnya ada di berbagai negara. Setiap 2 minggu sekali kami meetinglewat telepon, jadi mau nggak mau saya harus menajamkan pendengaran saya sekaligus berusaha memahami berbagai aksen bahasa Inggris. Berguna juga ini, karena di latihan-latihan listening yang ada di buku paket IELTS, saya menemukan penggunaan aksen yang bermacam-macam.
Hati-hati, listening dari buku paket kecepatannya mungkin cuma sepertiga dari listening saat tes asli. Saya sempat kaget waktu tes aslinya karena ternyata jauh lebih cepat daripada latihan.
b. Reading
Tipe pertanyaan untuk sesi reading memang bermacam-macam dan latihan dari buku paket adalah cara yang paling to the point untuk belajar. Tapi, saya merasa perlu melatih diri sendiri untuk terbiasa baca dan berpikir dalam bahasa Inggris juga, bukan sekedar untuk jawab pertanyaan. Jadi, setiap pagi sebelum kerja, saya baca setidaknya satu berita berbahasa Inggris. Pulang kerja kadang baca lagi. Setiap menemukan kata baru, saya langsung cari artinya dan tulis kata + artinya itu di kertas. Ingat ya tulis di kertas secara manual, bukan digital. Konon katanya menulis dengan tangan lebih efektif untuk mengingat sesuatu. Nah, kertas-kertas itu jangan sampai hilang, tapi disatukan dan dibaca sesekali kalau lagi luang. Dengan cara ini, kosakata saya bertambah setiap hari dan nggak dilupakan begitu aja. Ujung-ujungnya jadi membantu writing juga.
Ketika kita baca macam-macam berita di surat kabar yang sama, biasanya gaya penulisan atau pemakaian kata nggak begitu berbeda jauh. Jadi, setelah saya mendapat kosakata baru di artikel A, biasanya saya akan menemukan kosakata itu juga di artikel lain. Karena sudah tahu artinya sebelumnya, kosakata itu jadi lebih nempel dan baca pun lebih lancar. Saya baca berita dari sumber yang bervariasi, tapi biasanya nggak jauh-jauh dari Jakarta Globe, New York Times, BBC, atau apapun artikel berbahasa Inggris yang menarik.
c. Writing
Selain mendulang kosakata baru dari baca berita, coba baca-baca juga contoh jawaban writing yang nilainya tinggi. Banyak di internet, misalnya dengan kata kunci: IELTS writing sample band 9. Bukannya muluk-muluk harus mengejar score 9, tapi kalau belajar memang harus mengacu dari yang terbaik kan? Dengan baca berbagai macam jawaban orang lain, kita juga jadi belajar bagaimana membagi paragraf supaya semua pertanyaan terjawab dengan akurat, efektif, dan menarik. Dan jangan lupa pelajari berbagai sinonim untuk kata-kata yang sering dipakai dalam tulisan. Misalnya, biasanya kita ditanya pendapat apakah kita setuju atau tidak terhadap suatu pernyataan. Di jawaban kita, boleh aja sih kita tulis “I agree because… blablabla”. Tapi kalau muncul terus-menerus di beberapa bagian tulisan kan bosen juga, nggak menunjang untuk dapet nilai bagus juga. Dengan baca contoh jawaban orang, saya jadi dapet alternatif lain untuk mengungkapkan hal sama dengan cara yang berbeda.
d. Speaking
Sebelum latihan sendiri, ada baiknya tonton video contoh tes speaking. Supaya terbayang juga tesnya seperti apa dan jawaban macam apa yang bagus itu. Setelah itu baru latihan/simulasi dengan mengikuti buku paket. Jangan lupa waktunya dibatasi sesuai tes aslinya dan topiknya mengacu ke topik-topik yang sering diangkat di tes IELTS. Topik-topik ini bisa didapat dengan mudah di internet dan di buku paket IELTS juga pastinya. Saya latihan dengan dua cara: ngomong sendiri dan latihan dengan orang yang udah lulus IELTS duluan.
Setelah melalui perjalanan panjang yang sudah saya paparkan ini, bagaimana hasil IELTS saya? Nggak perlu saya sebutkan angkanyalah ya, nanti dikira sombong atau malah dikatai “segitu aja bangga”. Yang jelas, alhamdulillah nilai saya bisa dipakai untuk daftar ke semua universitas yang saya mau (yang mensyaratkan IELTS tentunya) dan berbagai program beasiswa. Beda bidang ilmu mungkin beda syarat minimum score IELTS. Saya sendiri selalu daftar untuk jurusan teknologi pangan, yang berarti termasuk bidang sains atau teknik. Kalau yang sudah mulai rajin “menginvestigasi” berbagai website universitas dan beasiswa, pasti tahulah kisaran nilai yang dibutuhkan berapa. Untuk yang belum, silakan dimulai  pencariannya disesuaikan dengan targetnya masing-masing.
Mendengar rutinitas tengah malam saya dan berbagai metode yang saya lakukan, teman saya pernah mengatai saya gila. Haha. Ya kalau benar-benar menginginkan sesuatu mungkin memang harus menggilai proses perjuangan yang dilalui dulu untuk bisa berhasil. Dan, untuk bisa sampai ke tahap gila tersebut, tentu aja prosesnya nggak instan. Tahapannya adalah: keinginan kuat -> niat kuat -> konsisten -> gila -> berhasil! Konsisten adalah tahapan yang paling sulit. Tapi, kalau dua tahapan sebelumnya sudah cukup kuat, insyaallah tahap ini akan lebih dimudahkan.
Selamat belajar IELTS!
Share:

1 comment:

  1. kakak anak tekpang di univ mana kak? goood job banget tulisannya aku sukaaaa

    ReplyDelete

안녕 하세요 감사합니다
Mannaseo pangapseumnida