Skip to main content

Cara menaklukan IELTS dengan Strategy



Salam semangat, para pemimpi!

Yap, tulisan ini saya dedikasikan kepada kalian yang memimpikan banyak hal, namun masih terganjal oleh sebuah handicap bernama IELTS. Handicap yang seolah menjadi pintu gerbang (yang saat ini masih tertutup rapat), menjadi sekat bagi kalian dari kota berjudul ‘melanjutkan kuliah di luar negeri’, ‘berpartisipasi dalam konferensi insternasional’, ‘mendaftar short course‘, atau bahkan ‘melamar pekerjaan ideal’.

ielts-banner

IELTS Bukan Pilihan

Boleh jadi, kalian memang sedang mengidam-idamkan salah satu dari hal yang saya sebutkan di atas, dan kalian mendapati diri kalian (sangat) tidak mumpuni ber-casciscus Inggris dan paranoid dengan bahasa Inggris. Lantas kalian berpikir, “adakah cara menggapai impian saya ini tanpa harus menaklukkan IELTS?”.

Sayang sekali, jawaban dari pertanyaan itu adalah TIDAK. IELTS, atau secara lebih general adalah English Proficiency Certificate sudah menjadi persyaratan wajib yang digunakan sebagai salah satu parameter kelayakan untuk mendaftar banyak hal, khususnya bersekolah di luar negeri Jadi mulai sekarang, jadilah rasional. Jika kalian hendak melanjutkan sekolah di luar negeri, maka kalian harus mendapatkan skor IELTS yang memadai. Implikasi ini bernilai mutlak. Berhentilah berandai-andai “saya akan tetap bisa menggapai mimpi saya (bersekolah di luar negeri) tanpa harus pusing-pusing belajar IELTS”.

Lalu, berapa skor yang harus menjadi target? Menurut saya, 6,5 adalah batas bawah yang cukup universal. Sebab sepanjang yang saya ketahui, rata-rata institusi yang mensyaratkan IELTS memberikan batas bawah 6,0-6,5 untuk skor keseluruhan, dengan ketentuan tambahan skor minimal 6,0 untuk masing-masing section (listening, reading, writing dan speaking).

Tips Mempersiapkan Diri

Seperti yang sudah saya sebutkan, tes IELTS terdiri dari 4 sesi, yang masing-masing memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri-sendiri. Berikut adalah gambaran masing-masing sesi lengkap dengan tips yang saya rekomendasikan untuk menggapai skor IELTS at least 6,5.

Listening

Ini adalah sesi pertama dari tes berdurasi 30 menit. Pada sesi ini, kita akan diperdengarkan native speaker podcast yang berisi beberapa potongan percakapan yang membahas tentang berbagai topik. Jenis pertanyaan dalam sesi ini adalah mengisi isian singkat dan pilihan berganda sebanyak 40 soal.

Tips mempersiapkan diri:

Membiasakan diri mendengar percakapan native speaker, dengan banyak-banyak mendengarkan english podcast. Salah satu website penyedia english podcast yang baik adalah british council. Di sini, kalian bisa mendengarkan podcast series yang bagus sekali untuk mengakrabkan telinga dengan dialog beraksen Inggris tulen.
Latihan tes melalui Buku Cambridge IELTS Series. Buku ini TERBAIK deh untuk membantu kita mempersiapkan diri. Sebab berisi paket-paket tes IELTS dengan format yang sama persis dengan aslinya, pun demikian dengan kualitas soal-soalnya. Kesempurnaan buku ini untuk belajar menjadi paripurna dengan adanya kunci jawaban dari seluruh paket soal yang tersedia. E-book buku ini berikut dengan file audio listening-nya dapat diunduh disini.
Tips saat tes:

Jangan terlalu banyak berpikir dan stuck pada satu pertanyaan yang kita masih ragu-ragu akan jawabannya. Sebab, podcast tidak akan peduli dan akan terus diperdengarkan tanpa ada pengulangan. Kita akan kehilangan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Jadi, jika kita memang ragu-ragu akan suatu jawaban, tulis saja apapun yang kita tau, dan lupakan. Fokus pada pertanyaan selanjutnya.
Reading

Segera setelah sesi listening berakhir, tes akan dilanjutkan dengan sesi reading. Dalam durasi 60 menit, kita disuguhi 3 reading passages panjang-panjang dengan bahasa yang berbau scientific / ilmiah. Lantas, ketiga materi ini digunakn untuk menjawab 40 soal bertipe pertanyaan singkat, benar-salah-tidak diberikan, dan pilihan berganda.

Tips mempersiapkan diri:

Percayalah saat saya katakan bahwa reading passages dalam sesi ini relatif sangat panjang. Dilengkapi dengan pilihan kata yang ilmiah, akan sangat melelahkan dan menghabiskan waktu untuk membaca dan memahaminya jika kita tidak terbiasa. Maka dari itu, biasakanlah membaca artikel-artikel ilmiah seperti yang tersedia di Science Daily berikut. Portal berita internasional seperti The Guardian dan The Economist juga bisa jadi tambahan suplemen.
Berlatih dengan Cambridge IELTS Book. Sungguh buku ini ideal sekali sebagai media mempersiapkan diri.
Tips saat tes:

Bacalah setiap reading passage dengan komprehensif terlebih dahulu, sebelum menuju ke pertanyaan. Jangan sebaliknya. Sebab pertanyaan dalam sesi ini sangat analitik dan sama sekali tidak berjenis text book yang dapat dengan mudah dijawab seketika kita mendapatkan kata yang sama pada materi baca. Kita hanya akan bisa menjawab dengan baik saat kita betul-betul memahami konteks yang sedang ditanyakan.
Writing

Selesai berjibaku dengan deretan kata-kata sulit pada sesi reading, maka kita akan disambut dengan sesi yang akan menguji kemampuan berpikir kritis dan mengemukakan pendapat kita pada sesi writing. Sama dengan reading, sesi ini juga berlangsung selama 60 menit. Tugas kita adalah membuat dua tulisan atas persoalan yang disediakan.

Tulisan pertama, biasanya kita akan diberikan sebuah gambar, diagram proses, diagram batang/lingkaran, dan kita diminta untuk membuat rangkuman atas poin penting yang termuat dalam diagram tersebut dalam minimal 150 kata. Sedangkan tulisan kedua, kita diberikan suatu topik, lantas diminta untuk mengemukakan pendapat kita atasnya. Tulisan harus memuat minimal 250 kata.

Tips mempersiapkan diri:

Perbanyak menulis sedini mungkin! Sesi ini nampaknya sepele, kita seolah hanya diminta mendeskripsikan sesuatu dan pendapat kita tentang suatu hal. Kita tentu sudah terbayang hendak menuliskan apa. Namun jangan salah, menuliskan apa yang sudah terbayang dalam benak kita itu seringkali sangatlah tidak mudah. Kita harus memperhatikan koherensi tulisan, rasionaltitas, kesesuaian argumen, belum lagi kita harus memastikan grammar yang kita gunakan sudah tepat. Lebih lanjut, 150 dan 250 kata itu sama sekali bukanlah jumlah yang sedikit. Trust me! Jadi berlatih lah sedini mungkin, dengan berbagai macam topik. Situs IELTS Buddy menurut saya sangat bagus untuk membantu mempersiapkan diri pada sesi ini.
Jangan lupa berlatih pula dengan soal-soal pada Cambridge IELTS Book ya!
Tips saat tes:

Bacalah instruksi dan soal dengan teliti dan sebaik-baiknya. Pastikan bahwa tulisan kita betul-betul menjawab apa yang diminta oleh soal. Untuk diagram, pastikan kita tidak salah menyebut satuan atas data yang ditampilkan.
Speaking

Save the best for the last, mungkin istilah itu sangat pas menggambarkan sosok sesi bernama speaking ini. Setelah selesai dengan tiga sesi sebelumnya, kita dipersilakan break dan menunggu giliran untuk berdialog dengan bule. Karena sifat tes tak lagi paralel secara bersama-sama sekaligus, maka waktu tunggu menuju giliran dapat mencapai berjam-jam, padahal waktu tes per-orang tidak sampai 15 menit.

Dalam sesi ini, kita akan ditanya-tanya oleh si bule tentang random topic yang berhubungan dengan keseharian. Formatnya ada yang tanya jawab, ada pula sesi dimana kita disuruh bermonolog selama 2 menit tentang suatu topik.

Tips mempersiapkan diri:

Untuk pertama kali dan satu-satunya, Cambridge IELTS Book tidak banyak membantu. Satu-satunya cara mempersiapkan diri adalah dengan berlatih mandiri bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Alat bantu yang bisa digunakan adalah menonton video sesi speaking IELTS di Youtube.
Jika memang dirasa kemampuan berbicara Inggris kalian masih sangat dasar, maka saya sangat menyarankan untuk pergi dan belajar di Kampung Inggris Pare Kediri. Sebab disana, kita akan ditempa untuk berani speak up.
Tips saat tes:

Dengarkan dan pahami pertanyaan yang dilontarkan oleh si bule di depan kita. Jawablah sesuai dengan apa yang ditanyakan, dan jangan berlebih-lebihan dengan berbicara terlalu panjang kesana-kemari. Hal ini justru berpeluang menjatuhkan skor kita karena kita akan dinilai berkomunikasi secara tidak efisien.
***

Kesan Melaksanakan Tes IELTS di IALF Jakarta

Setelah mengetahui beberapa tips, pada bagian ini saya akan sedikit berbagi tentang pengalaman saya melaksanakan tes IELTS di IALF Jakarta. FYI, saya melakukan tes IELTS sebanyak dua kali (sebab yang hasil tes pertama tidak sesuai harapan) dan keduanya saya lakukan di IALF Jakarta.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan tes IELTS di IALF Jakarta sangat baik. Pendaftaran dan pembayaran fee tes dapat dilakukan secara online melalui situs mereka disini. Pada saat hari-H, urutannya dimulai dengan registrasi peserta (pastikan membawa identitas asli yang dipakai pada pendaftaran). Tas dan segala isinya (termasuk HP) wajib dititipkan di counter penitipan. Lalu kita akan difoto (untuk keperluan sertifikat) dan data sidik jari kita akan direkam. Jadi jangan harap kita bisa memakai jasa joki atau semacamnya.

Selanjutnya, peserta akan dipanggil satu persatu untuk memasuki auditorium (ruangan tes) dan duduk sesuai nomor registrasi. Panitia akan menawarkan pensil 2B yang siap dipakai (boleh ambil lebih dari satu) dan penghapus sesaat sebelum tes berlangsung. Kualitas speaker pada saat sesi listening juga bagus, suaranya jernih dan jelas.

Setelah seluruh rangkaian tes berakhir, kita dipersilakan untuk mengambil hasil tes (bagi yang berdomisili di Jakarta, yang diluar Jakarta akan dikirimkan via kurir) dalam 14 hari kerja (3 minggu). Terakhir, sertifikat tersebut memiliki masa berlaku selama 2 tahun dihitung sejak tanggal pelaksanaan tes.

***

Akhirnya, saya mengucapkan semoga sukses! Saya berdoa semoga seluIngat ruh perjuangan kita menggapai mimpi-mimpi kita dimudahkan oleh-Nya. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

StuNed Scholarships - Study in Holland

Kali ini saya akan berbagi pengalaman mendaftar Beasiswa StuNed {Apa itu StuNed? habis ini saya jelaskan} awal mulanya saat saya melakukan laporan penelitian di Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional beberapa teman lagi ngomongin beasiswa ini, saya tidak tertarik sih awalnya karena lagi onfire di kementerian hehe, tapi karena akan ada pengangkatan eselon dan salah satu syaratnya sudah berpengalaman tentunya, selain itu harus minimal Master atau Doctoral maka saya iseng mencoba mendaftar StuNed {lagian pendaftaranya online dan tidak ada interviewnya jadi tidak menyita banyak waktu tinggal summit berkas "beres" habis itu tinggal tunggu pengumuman intinya pendaftaran hanya melihat berkas dan prestasi/pengalaman pendaftar} pendaftaran dibuka setiap tahun, setiap tanggal 1 April batas pendaftaran dan dibuka mulai 5 February kalau tidak salah. perlu diingat bahwa intake kuliah untuk beasiswa ini Antara bulan agustus sampai november ditahun yang sama dan hanya di kampus N…

Australia Awards Scholarship 2017 Shortlisting Result

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi dalam menembus beasiswa Australia Awards Scholarship. Saat ini saya sedang bekerja di Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, yah saya sangat menikmati bekerja disini dan banyak ilmu dan pengalaman yang didapat tapi pada dasarnya saya dari SMA pengen bisa bekerja di Industry tapi saat itu belum dibuka recruitment calon pegawai yasudah saya di kementerian hehe. Sebetulnya habis lulus kuliah S1 saya binggung mau melanjutkan Master Degree atau Bekerja dahulu, dan ada kesempatan mendapat beasiswa KGSP dari pemerintah Korea Selatan setelah beberapa bulan kuliah di negeri ginseng saya mengundurkan diri alasannya Klik Disini Hasrat untuk sekolah di Luar Negeri sebetulnya masih sangat besar tapi banyak alasan mengapa saya harus tetap menetap sementara waktu di Indonesia untuk saat ini hehe. Saya suka iseng-iseng mendaftar beasiswa,  Pada bulan Januari 2017, saya telah mendapatkan Unconditional LoA ( Letter of Acceptance ) …

Pengalaman mendaftar StuNed 2017

Berbekal informasi dari teman, aku cari-cari lagi lebih mendalam segala informasi tentang S2 di Belanda. Setelah baca dan memilah-milih banyak website, artikel, dan blog banyak orang akhirnya aku melabuhkan pilihan ke Wageningen University and Research (WUR) program Environmental Sciences. Untuk beasiswa S2 ke belanda ada beberapa pilihan, diantaranya Netherlands Fellowship Programmes (NFP) dan Stuned. Tapi kedua beasiswa tersebut mengharuskan si pendaftar untuk mendapat LoA dari salah satu universitas di Belanda.
Selanjutnya. aku segera menyiapkan berkas untuk mendaftar ke WUR di sela-sela mempersiapkan berkas-berkas untuk Swedia. Sebetulnya waktu pendaftaran yang diberikan oleh pihak univ cukup panjang, namun waktu pendaftaran dibatasi bagi pendaftar yang ingin mendaftar beasiswa, terutama beasiswa NFP yang terlebih dahulu harus mendapat semacam invitation dari WUR (setelah mendapatkan LoA) untuk mendaftar beasiswa tersebut. Dokumen yang dibutuhkan memang ternyata gak ribet. Ga butuh…