Skip to main content

Awardee LPDP University of Birmingham, UK


Sebagai anak penjual sayur di kabupaten kecil Sleman, Yogyakarta, Janu Muhammad membuktikan bahwa yang terpenting dalam hidup bukanlah dari mana seseorang berasal, tapi ke mana dia mau pergi. Janu— panggilan akrab pemuda itu—melanglang buana dari Amerika Serikat hingga India untuk mereguk ilmu dalam dimensi yang beragam. Kini, dia menjelajah berbagai kota dan negara-negara di dunia dari Britania Raya sembari menyelesaikan studi S2 di sana. Pada September 2016, Janu memulai program pendidikan MSc Research in Human Geography di University of Birmingham, Inggris dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ke manapun dia pergi, nasihat ibu dipeluknya erat-erat. “Nak, belajarlah yang rajin, milikilah kejujuran, jadilah anak sholeh dan bermanfaat untuk masyarakat,” kata laki-laki kelahiran 7 Januari 1993 tersebut mengingat petuah ibunya.  Janu bersyukur dilahirkan dari keluarga sederhana. Meskipun sang ibu hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) dan ayahnya bahkan berhenti sekolah di kelas tiga SD, mereka selalu bekerja keras demi pendidikan anak-anak. “Kedua orang tua saya tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi, tapi mereka adalah profesor terbaik yang pernah saya miliki,” ujar anak sulung dari dua bersaudara itu. Pada upacara wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bulan Agustus 2015, Janu dinobatkan menjadi lulusan terbaik di Jurusan Pendidikan Geografi. Dia juga menyandang gelar aktivis terbaik di Fakultas Ilmu Sosial. Pada tahun yang sama, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bupati Sleman memberikan penghargaan sebagai Pemuda Pelopor di bidang pendidikan. Janu mempersembahkan prestasi-prestasi gemilang itu untuk kedua orang tua yang telah mengantarkannya meraih gelar sarjana.
Perjuangan Keras
“Setelah lulus dari UNY, saya harus merawat Mamak yang baru menyelesaikan operasi sembari mengikuti kursus TOEFL karena skor saya masih rendah,” kata Janu memulai kisahnya memperjuangkan beasiswa S2 dari LPDP. Seringkali dia juga harus pergi ke pasar Sleman untuk membantu orang tuanya berjualan sayuran Pada pertengahan Oktober 2015, Janu mendaftar program seleksi beasiswa LPDP jalur afirmasi prestasi dari keluarga kurang mampu. Dia dipandu oleh kakak senior sesama alumni UNY yang saat itu tengah menempuh studi di University of Birmingham dalam proses penulisan esai. Setelah melalui rangkaian seleksi, pada Desember 2015, Janu dinyatakan lulus. Yang istimewa, pengumuman kelulusan LPDP kala itu hampir bersamaan dengan pengumuman beasiswa YSEALI Academic Fellowship ke Arizona State University, Amerika Serikat. Dinyatakan lulus seleksi LPDP baru menjadi langkah awal bagi Janu. Pada saat itu, skor ujian bahasa Inggris Janu belum memenuhi kriteria untuk mendapatkan surat dinyatakan diterima tanpa syarat dari kampus yang ingin dituju. Dia pun mesti mengikuti program pengayaan bahasa di kampus Institut Teknologi Bandung selama tiga bulan. Janu hampir menyerah dan ingin menunda kuliah. Lima kali tes bahasa Inggris, belum cukup juga nilainya. Belasan juta rupiah telah habis-habisan dikeluarkan dari kantongnya. “Saya sempat bekerja dan menabung untuk membayar biaya tes itu,” kata Janu. Upaya kerasnya berhasil di titik akhir. Dia dinyatakan diterima di University of Birmingham.
Geografi Manusia
Di Birmingham, Janu belajar bidang ilmu Geografi Manusia atau Human Geography. Bidang ilmu itu adalah cabang dari disiplin ilmu geografi yang mempelajari aspek-aspek keruangan beserta gejalagejala yang terjadi di permukaan bumi dengan manusia sebagai objek pokoknya. “Saya mempelajari sisi sosial dari ilmu geografi yang di antaranya mencakup geografi ekonomi, kota, pembangunan, politik, dan budaya,” ujar Janu.
Fokus studi Janu adalah pada kajian geografi kota (urban geography) dengan minat bidang riset pada fenomena gentrifikasi dan regenerasi kota. Janu memiliki alasan yang kuat untuk menekuni kajian geografi kota. “Menurut saya, kontribusi ilmuwan geografi (geograf) kota di Indonesia masih minim, terutama pada bidang strategis perencanaan kota berkelanjutan,” kata dia. Padahal, dengan mempelajari bidang tersebut, geograf kota dapat melakukan riset dan memberikan pengaruh pada perumusan kebijakan tata kota dalam perspektif geografi. Menurut Janu, Indonesia masih kekurangan ilmuwan geografi, sedangkan jumlah permintaan tenaga profesional di bidang ini sebetulnya sangat tinggi. Utamanya pada beberapa sektor strategis seperti pembangunan wilayah, pengelolaan sumber daya alam, mitigasi bencana, tata kota, dan geospasial. Di Indonesia saat ini, hanya ada dua Fakultas Geografi dari dua kampus dan 31 perguruan tinggi dengan jurusan geografi. Sebagai bagian dari program studi S2-nya, Janu tengah melakukan persiapan penelitian di Rotterdam, Belanda. Penelitiannya bertujuan untuk menganalisis dampak-dampak serta strategi yang perlu dilakukan dengan adanya fenomena gentrifikasi dan urban redevelopment di Kop van Zuid. “Dari penelitian ini, saya berharap ada pelajaran yang bisa diambil untuk kota-kota di Indonesia, terutama di daerah yang kini sedang melakukan pembangunan secara masif seperti di Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta,” kata Janu. Harapannya, pembangunan di kotakota tersebut bukan hanya untuk mencapai aspek kesejahteraan ekonomi, melainkan juga memperhatikan aspek kelingkungan dan sosial masyarakat.
Rencana ke Depan
Janu mantap menatap dirinya di masa depan sebagai seorang dosen geografi manusia serta peneliti. “Saya juga berharap agar hasil penelitian yang saya lakukan dapat digunakan sebagai rekomendasi kebijakan pembangunan kota di tempat kelahiran saya, Sleman atau kota lainnya,” kata dia. Untuk mencapai mimpinya menjadi dosen dan peneliti, Janu berencana mengejar kesempatan studi doctoral selepas S2 nanti. “Kini, saya sedang mempersiapkan segala syarat-syaratnya,” ungkapnya. Peraih berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional itu merasa LPDP menjadi jembatan emas untuk menjemput mimpi-mimpi anak muda seperti dirinya. “Berkat dukungan LPDP, di tengah padat-padatnya studi di Birmingham, saya berkesempatan mengikuti konferensi geografi internasional di India,” kata Janu melanjutkan. Pada konferensi itu, Janu bertemu dan berdiskusi langsung dengan presiden geograf dunia serta bidang geografi kota untuk beberapa proyek di masa depan. Janu berharap akan semakin banyak lagi generasi muda yang dapat melanjutkan studi dengan beasiswa LPDP. Selepas studi nanti, dia berharap para generasi yang menjadi tulang punggung bangsa di masa depan dapat kembali ke tanah air dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia sesuai bidang masing-masing.
Sumber: Media Keuangan Kemenkeu

Comments

Popular posts from this blog

StuNed Scholarships - Study in Holland

Kali ini saya akan berbagi pengalaman mendaftar Beasiswa StuNed {Apa itu StuNed? habis ini saya jelaskan} awal mulanya saat saya melakukan laporan penelitian di Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional beberapa teman lagi ngomongin beasiswa ini, saya tidak tertarik sih awalnya karena lagi onfire di kementerian hehe, tapi karena akan ada pengangkatan eselon dan salah satu syaratnya sudah berpengalaman tentunya, selain itu harus minimal Master atau Doctoral maka saya iseng mencoba mendaftar StuNed {lagian pendaftaranya online dan tidak ada interviewnya jadi tidak menyita banyak waktu tinggal summit berkas "beres" habis itu tinggal tunggu pengumuman intinya pendaftaran hanya melihat berkas dan prestasi/pengalaman pendaftar} pendaftaran dibuka setiap tahun, setiap tanggal 1 April batas pendaftaran dan dibuka mulai 5 February kalau tidak salah. perlu diingat bahwa intake kuliah untuk beasiswa ini Antara bulan agustus sampai november ditahun yang sama dan hanya di kampus N…

Australia Awards Scholarship 2017 Shortlisting Result

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi dalam menembus beasiswa Australia Awards Scholarship. Saat ini saya sedang bekerja di Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, yah saya sangat menikmati bekerja disini dan banyak ilmu dan pengalaman yang didapat tapi pada dasarnya saya dari SMA pengen bisa bekerja di Industry tapi saat itu belum dibuka recruitment calon pegawai yasudah saya di kementerian hehe. Sebetulnya habis lulus kuliah S1 saya binggung mau melanjutkan Master Degree atau Bekerja dahulu, dan ada kesempatan mendapat beasiswa KGSP dari pemerintah Korea Selatan setelah beberapa bulan kuliah di negeri ginseng saya mengundurkan diri alasannya Klik Disini Hasrat untuk sekolah di Luar Negeri sebetulnya masih sangat besar tapi banyak alasan mengapa saya harus tetap menetap sementara waktu di Indonesia untuk saat ini hehe. Saya suka iseng-iseng mendaftar beasiswa,  Pada bulan Januari 2017, saya telah mendapatkan Unconditional LoA ( Letter of Acceptance ) …

Pengalaman mendaftar StuNed 2017

Berbekal informasi dari teman, aku cari-cari lagi lebih mendalam segala informasi tentang S2 di Belanda. Setelah baca dan memilah-milih banyak website, artikel, dan blog banyak orang akhirnya aku melabuhkan pilihan ke Wageningen University and Research (WUR) program Environmental Sciences. Untuk beasiswa S2 ke belanda ada beberapa pilihan, diantaranya Netherlands Fellowship Programmes (NFP) dan Stuned. Tapi kedua beasiswa tersebut mengharuskan si pendaftar untuk mendapat LoA dari salah satu universitas di Belanda.
Selanjutnya. aku segera menyiapkan berkas untuk mendaftar ke WUR di sela-sela mempersiapkan berkas-berkas untuk Swedia. Sebetulnya waktu pendaftaran yang diberikan oleh pihak univ cukup panjang, namun waktu pendaftaran dibatasi bagi pendaftar yang ingin mendaftar beasiswa, terutama beasiswa NFP yang terlebih dahulu harus mendapat semacam invitation dari WUR (setelah mendapatkan LoA) untuk mendaftar beasiswa tersebut. Dokumen yang dibutuhkan memang ternyata gak ribet. Ga butuh…