/head>

Monday, January 15, 2018

Beasiswa Master (S2) yang sedang open 2018

Beasiswa Master (S2) yang sedang open 2018



Beasiswa Erasmus Mundus
https://eacea.ec.europa.eu/erasmus-plus/library/scholarships-catalogue_en

Swedish Institute Scholarships 2018
Deadline: 15 January 2018
https://si.se/en/apply/scholarships/swedish-institute-study-scholarships/

Master Scholarships at Université Paris-Saclay, France
https://www.universite-paris-saclay.fr/en/programme-de-bourses-internationales-de-master-20172018

Master Scholarships from VLIR-UOS, Belgium
Deadline: 1 February 2018
http://www.vliruos.be/scholarships

Fulbright Scholarships 2018
Deadline: 15 February 2018
https://www.aminef.or.id/grants-for-indonesians/fulbright-programs/scholarship/

4000 BSc/MSc/PhD Scholarships from Hungarian Government
Deadline: 16 February 2018
http://studyinhungary.hu/study-in-hungary/menu/stipendium-hungaricum-scholarship-programme

Beasiswa di Politecnico di Milano, Italy
http://www.polinternational.polimi.it/how-to-apply/laurea-magistrale/scholarships/

Master Scholarships from Invest Your Talent in Italy
Deadline: 28 February 2018
http://investyourtalentapplication.esteri.it/SitoInvestYourTalentApplication/progetto.asp

Brunei Darussalam Government Scholarships 2018
Deadline: 28 February 2018
http://www.mofat.gov.bn/Pages/BDScholarship.aspx

Scholarships from Austrian Government
Deadline: 1 March 2018
https://oead.at/en/news/article/2017/12/scholarships-for-austria-calls-for-20182019-are-now-open/

New Zealand ASEAN Scholarships 2019
Deadline: 14 March 2018
https://www.mfat.govt.nz/en/aid-and-development/scholarships/who-can-apply-for-a-scholarship-3/indonesia-scholarships-2/
Online Application: https://scholarship.force.com/communitylandingpage

85 BSc/MSc/PhD Scholarships from Romanian Government
Deadline: 15 March 2018
http://www.mae.ro/en/node/10251

Beasiswa Master dari STUNED, Netherlands
Deadline: 15 Maret 2018
http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/stuned/stuned-master
Pengalaman bisa dibaca Disini

Taiwan ICDF Scholarships 2018
Deadline: 16 March 2018
http://www.icdf.org.tw/ct.asp?xItem=12505&CtNode=30316&mp=2

BSc/MSc Scholarships at University of Bologna, Italy
Deadline: 30 March 2018
http://www.unibo.it/en/services-and-opportunities/study-grants-and-subsidies/unibo-actions-1-2-study-grants-and-tuition-fee-waivers-for-international-students/Unibo-actions-1-and--2-study-grants-and-tuition-fee-waivers-for-international-students

40 Master Scholarships from The Government of Flanders, Belgium
Deadline: 30 April 2018
http://www.studyinflanders.be/en/scholarship-programmes/master-mind-scholarships/
Share:

Monday, January 08, 2018

Wonderful Indonesia 2018

Wonderful Indonesia 2018



Logo “Wonderful dan Pesona Indonesia” mengalami reposisi di tahun 2017-2018 namun tetap mengedepankan sayap burung Garuda sebagai ikonnya. Logo ini akan meneruskan semangat pariwisata Indonesia lewat Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan destinasi di Indonesia berdasarkan konsep BAS (Branding, Advertising dan Selling). Keindahan dari logo Wonderful dan Pesona Indonesia telah dibangun selama beberapa tahun dan sekarang diperbaiki untuk meningkatkan efektifitas dari penggunaan logo tersebut. Pada reposisi terbarunya, kata “Wonderful/Pesona” diperbesar untuk memastikan tagline tetap terlihat jelas apabila logo tersebut dimuat dalam ukuran kecil pada pengaplikasiannya. Ukuran ikon burung Garuda juga diperbesar mengikuti komposisi kata “Wonderful Indonesia” atau “Pesona Indonesia”. Perubahan ukuran kata “Wonderful/Pesona” secara otomatis menggeser ikon burung Garuda ke sebelahan kanan sehingga kini ikon tersebut berada di luar kata “Wonderful Indonesia”. Kemudian sebagai harmonisasi, sayap burung Garuda berwarna hijau dan biru dibuat terkoneksi dengan huruf ‘a‘ dari kata “Indonesia”. Selain itu, ada perbaikan minor pada pembentukkan sayap dan ekor ikon burung Garuda agar keseluruhan logo termuat sempurna. Lengkungan ekor garuda dapat diatur sesuai dengan efektifitas ruang. Perbaikan ini bersifat opsional mengikuti ketersediaan ruang pengaplikasian logo. Ciri lain yang mudah dikenali pada pembaruan logo adalah terlihat pada huruf ‘e’ dimana bentuknya kini lebih jelas dan tegas. Pada logo lama huruf ‘e’ cenderung membulat seperti huruf ‘o’. 

Panduan penggunaan logo juga diberlakukan pada pemasangan avatar sosial media yang biasanya menerapkan ruang lebih kecil. Apabila sebelumnya ikon burung garuda harus ditampilkan utuh, kini pemotongan diperbolehkan dengan tujuan memperjelas inti dari ikon dengan syarat lima paduan warna burung garuda tetap terlihat. Sementara itu, dalam pengaplikasian di ruang horizontal yang ekstrem, kata “Wonderful/Pesona” dan “Indonesia” disejajarkan secara horizontal diikuti ikon burung Garuda di belakangnya. Dalam pengaturan tipografi, jenis font “Signika” tetap dipakai dengan ketentuan “Signika Semibold” untuk kata “Indonesia”, dan “Signika Light” untuk kata “Wonderful”.
 
Share:

Sunday, January 07, 2018

Cara menaklukan IELTS dengan Strategy

Cara menaklukan IELTS dengan Strategy



Salam semangat, para pemimpi!

Yap, tulisan ini saya dedikasikan kepada kalian yang memimpikan banyak hal, namun masih terganjal oleh sebuah handicap bernama IELTS. Handicap yang seolah menjadi pintu gerbang (yang saat ini masih tertutup rapat), menjadi sekat bagi kalian dari kota berjudul ‘melanjutkan kuliah di luar negeri’, ‘berpartisipasi dalam konferensi insternasional’, ‘mendaftar short course‘, atau bahkan ‘melamar pekerjaan ideal’.

ielts-banner

IELTS Bukan Pilihan

Boleh jadi, kalian memang sedang mengidam-idamkan salah satu dari hal yang saya sebutkan di atas, dan kalian mendapati diri kalian (sangat) tidak mumpuni ber-casciscus Inggris dan paranoid dengan bahasa Inggris. Lantas kalian berpikir, “adakah cara menggapai impian saya ini tanpa harus menaklukkan IELTS?”.

Sayang sekali, jawaban dari pertanyaan itu adalah TIDAK. IELTS, atau secara lebih general adalah English Proficiency Certificate sudah menjadi persyaratan wajib yang digunakan sebagai salah satu parameter kelayakan untuk mendaftar banyak hal, khususnya bersekolah di luar negeri Jadi mulai sekarang, jadilah rasional. Jika kalian hendak melanjutkan sekolah di luar negeri, maka kalian harus mendapatkan skor IELTS yang memadai. Implikasi ini bernilai mutlak. Berhentilah berandai-andai “saya akan tetap bisa menggapai mimpi saya (bersekolah di luar negeri) tanpa harus pusing-pusing belajar IELTS”.

Lalu, berapa skor yang harus menjadi target? Menurut saya, 6,5 adalah batas bawah yang cukup universal. Sebab sepanjang yang saya ketahui, rata-rata institusi yang mensyaratkan IELTS memberikan batas bawah 6,0-6,5 untuk skor keseluruhan, dengan ketentuan tambahan skor minimal 6,0 untuk masing-masing section (listening, reading, writing dan speaking).

Tips Mempersiapkan Diri

Seperti yang sudah saya sebutkan, tes IELTS terdiri dari 4 sesi, yang masing-masing memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri-sendiri. Berikut adalah gambaran masing-masing sesi lengkap dengan tips yang saya rekomendasikan untuk menggapai skor IELTS at least 6,5.

Listening

Ini adalah sesi pertama dari tes berdurasi 30 menit. Pada sesi ini, kita akan diperdengarkan native speaker podcast yang berisi beberapa potongan percakapan yang membahas tentang berbagai topik. Jenis pertanyaan dalam sesi ini adalah mengisi isian singkat dan pilihan berganda sebanyak 40 soal.

Tips mempersiapkan diri:

Membiasakan diri mendengar percakapan native speaker, dengan banyak-banyak mendengarkan english podcast. Salah satu website penyedia english podcast yang baik adalah british council. Di sini, kalian bisa mendengarkan podcast series yang bagus sekali untuk mengakrabkan telinga dengan dialog beraksen Inggris tulen.
Latihan tes melalui Buku Cambridge IELTS Series. Buku ini TERBAIK deh untuk membantu kita mempersiapkan diri. Sebab berisi paket-paket tes IELTS dengan format yang sama persis dengan aslinya, pun demikian dengan kualitas soal-soalnya. Kesempurnaan buku ini untuk belajar menjadi paripurna dengan adanya kunci jawaban dari seluruh paket soal yang tersedia. E-book buku ini berikut dengan file audio listening-nya dapat diunduh disini.
Tips saat tes:

Jangan terlalu banyak berpikir dan stuck pada satu pertanyaan yang kita masih ragu-ragu akan jawabannya. Sebab, podcast tidak akan peduli dan akan terus diperdengarkan tanpa ada pengulangan. Kita akan kehilangan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Jadi, jika kita memang ragu-ragu akan suatu jawaban, tulis saja apapun yang kita tau, dan lupakan. Fokus pada pertanyaan selanjutnya.
Reading

Segera setelah sesi listening berakhir, tes akan dilanjutkan dengan sesi reading. Dalam durasi 60 menit, kita disuguhi 3 reading passages panjang-panjang dengan bahasa yang berbau scientific / ilmiah. Lantas, ketiga materi ini digunakn untuk menjawab 40 soal bertipe pertanyaan singkat, benar-salah-tidak diberikan, dan pilihan berganda.

Tips mempersiapkan diri:

Percayalah saat saya katakan bahwa reading passages dalam sesi ini relatif sangat panjang. Dilengkapi dengan pilihan kata yang ilmiah, akan sangat melelahkan dan menghabiskan waktu untuk membaca dan memahaminya jika kita tidak terbiasa. Maka dari itu, biasakanlah membaca artikel-artikel ilmiah seperti yang tersedia di Science Daily berikut. Portal berita internasional seperti The Guardian dan The Economist juga bisa jadi tambahan suplemen.
Berlatih dengan Cambridge IELTS Book. Sungguh buku ini ideal sekali sebagai media mempersiapkan diri.
Tips saat tes:

Bacalah setiap reading passage dengan komprehensif terlebih dahulu, sebelum menuju ke pertanyaan. Jangan sebaliknya. Sebab pertanyaan dalam sesi ini sangat analitik dan sama sekali tidak berjenis text book yang dapat dengan mudah dijawab seketika kita mendapatkan kata yang sama pada materi baca. Kita hanya akan bisa menjawab dengan baik saat kita betul-betul memahami konteks yang sedang ditanyakan.
Writing

Selesai berjibaku dengan deretan kata-kata sulit pada sesi reading, maka kita akan disambut dengan sesi yang akan menguji kemampuan berpikir kritis dan mengemukakan pendapat kita pada sesi writing. Sama dengan reading, sesi ini juga berlangsung selama 60 menit. Tugas kita adalah membuat dua tulisan atas persoalan yang disediakan.

Tulisan pertama, biasanya kita akan diberikan sebuah gambar, diagram proses, diagram batang/lingkaran, dan kita diminta untuk membuat rangkuman atas poin penting yang termuat dalam diagram tersebut dalam minimal 150 kata. Sedangkan tulisan kedua, kita diberikan suatu topik, lantas diminta untuk mengemukakan pendapat kita atasnya. Tulisan harus memuat minimal 250 kata.

Tips mempersiapkan diri:

Perbanyak menulis sedini mungkin! Sesi ini nampaknya sepele, kita seolah hanya diminta mendeskripsikan sesuatu dan pendapat kita tentang suatu hal. Kita tentu sudah terbayang hendak menuliskan apa. Namun jangan salah, menuliskan apa yang sudah terbayang dalam benak kita itu seringkali sangatlah tidak mudah. Kita harus memperhatikan koherensi tulisan, rasionaltitas, kesesuaian argumen, belum lagi kita harus memastikan grammar yang kita gunakan sudah tepat. Lebih lanjut, 150 dan 250 kata itu sama sekali bukanlah jumlah yang sedikit. Trust me! Jadi berlatih lah sedini mungkin, dengan berbagai macam topik. Situs IELTS Buddy menurut saya sangat bagus untuk membantu mempersiapkan diri pada sesi ini.
Jangan lupa berlatih pula dengan soal-soal pada Cambridge IELTS Book ya!
Tips saat tes:

Bacalah instruksi dan soal dengan teliti dan sebaik-baiknya. Pastikan bahwa tulisan kita betul-betul menjawab apa yang diminta oleh soal. Untuk diagram, pastikan kita tidak salah menyebut satuan atas data yang ditampilkan.
Speaking

Save the best for the last, mungkin istilah itu sangat pas menggambarkan sosok sesi bernama speaking ini. Setelah selesai dengan tiga sesi sebelumnya, kita dipersilakan break dan menunggu giliran untuk berdialog dengan bule. Karena sifat tes tak lagi paralel secara bersama-sama sekaligus, maka waktu tunggu menuju giliran dapat mencapai berjam-jam, padahal waktu tes per-orang tidak sampai 15 menit.

Dalam sesi ini, kita akan ditanya-tanya oleh si bule tentang random topic yang berhubungan dengan keseharian. Formatnya ada yang tanya jawab, ada pula sesi dimana kita disuruh bermonolog selama 2 menit tentang suatu topik.

Tips mempersiapkan diri:

Untuk pertama kali dan satu-satunya, Cambridge IELTS Book tidak banyak membantu. Satu-satunya cara mempersiapkan diri adalah dengan berlatih mandiri bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Alat bantu yang bisa digunakan adalah menonton video sesi speaking IELTS di Youtube.
Jika memang dirasa kemampuan berbicara Inggris kalian masih sangat dasar, maka saya sangat menyarankan untuk pergi dan belajar di Kampung Inggris Pare Kediri. Sebab disana, kita akan ditempa untuk berani speak up.
Tips saat tes:

Dengarkan dan pahami pertanyaan yang dilontarkan oleh si bule di depan kita. Jawablah sesuai dengan apa yang ditanyakan, dan jangan berlebih-lebihan dengan berbicara terlalu panjang kesana-kemari. Hal ini justru berpeluang menjatuhkan skor kita karena kita akan dinilai berkomunikasi secara tidak efisien.
***

Kesan Melaksanakan Tes IELTS di IALF Jakarta

Setelah mengetahui beberapa tips, pada bagian ini saya akan sedikit berbagi tentang pengalaman saya melaksanakan tes IELTS di IALF Jakarta. FYI, saya melakukan tes IELTS sebanyak dua kali (sebab yang hasil tes pertama tidak sesuai harapan) dan keduanya saya lakukan di IALF Jakarta.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan tes IELTS di IALF Jakarta sangat baik. Pendaftaran dan pembayaran fee tes dapat dilakukan secara online melalui situs mereka disini. Pada saat hari-H, urutannya dimulai dengan registrasi peserta (pastikan membawa identitas asli yang dipakai pada pendaftaran). Tas dan segala isinya (termasuk HP) wajib dititipkan di counter penitipan. Lalu kita akan difoto (untuk keperluan sertifikat) dan data sidik jari kita akan direkam. Jadi jangan harap kita bisa memakai jasa joki atau semacamnya.

Selanjutnya, peserta akan dipanggil satu persatu untuk memasuki auditorium (ruangan tes) dan duduk sesuai nomor registrasi. Panitia akan menawarkan pensil 2B yang siap dipakai (boleh ambil lebih dari satu) dan penghapus sesaat sebelum tes berlangsung. Kualitas speaker pada saat sesi listening juga bagus, suaranya jernih dan jelas.

Setelah seluruh rangkaian tes berakhir, kita dipersilakan untuk mengambil hasil tes (bagi yang berdomisili di Jakarta, yang diluar Jakarta akan dikirimkan via kurir) dalam 14 hari kerja (3 minggu). Terakhir, sertifikat tersebut memiliki masa berlaku selama 2 tahun dihitung sejak tanggal pelaksanaan tes.

***

Akhirnya, saya mengucapkan semoga sukses! Saya berdoa semoga seluIngat ruh perjuangan kita menggapai mimpi-mimpi kita dimudahkan oleh-Nya. Aamiin.

Share:
Study Master S2 ke Luar Negeri: Maunya Kemana?

Study Master S2 ke Luar Negeri: Maunya Kemana?

Mimpi pertama: S2 ke Prancis



Aku punya mimpi S2 ke luar negeri itu semenjak masih SMA. Jadi awalnya, guru aku bu Nikida nyuruh nulis mimpi masing-masing di selembar kertas. Mimpinya boleh apa aja, bebas sebebas-bebasnya, dan banyak sebanyak-banyaknya. Nah, diantara mimpi-mimpi aku itu tertulislah mimpi aku untuk S2 ke luar negeri. Aku ga nulis spesifik ke Prancis sih. Btw, kenapa keluar negeri? Aku waktu itu mah masih pengen-pengen aja gitu, kayaknya seru. Belum terlalu mikir yang ampe kemana mana. Kebetulan 14 Juli bulan kelahiran ku bertepatan hari kemerdekaan Franch atau Perancis. 

Waktu itu kepikiran Prancis tuh sebenernya asal nyeletuk. Kayaknya waktu itu juga lagi hype tentang Laskar pelangi deh, kan ceritanya si Ikal lanjutin sekolah ke Prancis tuh ya. Jadi waktu itu lagi di mobil bareng keluarga. Entah lagi ngomongin apa, terus aku bilang “Wicak mah mau S2 ke luar negeri, ke Prancis”. Akhirnya pada tau dah tuh sekeluarga, ampe nenek-kakek, om-tante, dan lain-lain. Bahkan pas aku ulang tahun, aku dikasih kado ama om aku berupa foto editan gitu, diprint gede, difigurain. Tau gak gambarnya apa? Gambar aku cuy belakangnya ada menara Eiffel

Kalo flashback lagi ke belakang, ternyata beberapa mimpi aku yang aku tulis di kertas itu Alhamdulillah mulai bisa dicoret loh satu-satu. Contohnya mimpi aku buat jadi mapres atau mahasiswa berprestasi tingkat Universitas Brawijaya . Ya walaupun aku cuma mapres Fakultas sih dan finalis di tingkat Universitas. Udah gitu cuma finalis bukan yang menang wkwk tapi tetap happy ya lumayan Mapres 1 tingkat Universitas dan Top Five tingkat Universitas. Tapi bisa lah dicoret ya *gitu. Mimpi buat S2 keluar negeri ini juga sepertinya bisa mulai aku coret. Alhamdulillah.

Jadi, kalo ada yg pernah bilang bahwa kalo kita punya mimpi sebaiknya ditulis, menurut aku itu bener. Intinya biar kamu selalu inget dan berjuang buat mimpi kamu itu. Kamu bakal ngerasain sensasi bahagia gimana gitu kalo udah nyoret satu mimpi kamu. Alhasil, kamu bakal jadi lebih semangat lagi buat nyoret list mimpi-mimpi kamu yang lainnya. Ga asal coret-coret aja gitu ya tapi maksudnya hehehe.

Mimpi kedua: S2 ke Inggris




The Houses of Parliament seen from the Royal Festival Hall, in LondonSource:

Pas udah masuk kuliah, mimpi aku belok dikit, yang tadinya mau ke Prancis akhirnya berubah jadi ke Inggris. Kenapa ke Inggris? Dulu aku mikirnya simple, S2 di Inggris cuma satu tahun dan aku ga pengen ribet belajar bahasa lain. Kalo bahasa inggris kan dari TK udah belajar yak. Tapi saat awal kepengen itu aku masih polos. Aku ga tau kalo minimum IELTS buat ke Inggris itu mayan tinggi cuy kalo dibanding requirement di negara-negara lain. Apalah aku yang bahasa inggrisnya biasa-biasa aja.

Makin mencicipi duduk di bangku kuliah, pikiran aku mulai terbuka. Dari yang tadinya pengen S2 cuma karena pengen-pengen aja, akhirnya jadi pengen beneran! Itu terjadi setelah ikut seminar-seminar scholarship gitu, dateng ke pameran-pameran universitas luar negeri, ngeliat hebatnya dosen-dosen di kampus aku yang ternyata kebanyakan lulusan S2 di luar negeri (bukan berarti yang ga lulusan luar negeri ga hebat loh ya) , dan baca –baca blog orang. Dari situ pun aku juga jadi punya mimpi baru yaitu jadi Dosen dan Peneliti. Akhirnya aku pun meluruskan niat dan berdoa semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik untuk aku karena semua semata-mata adalah untuk mencari ridho-Nya.

Niat itu penting loh, btw. Bahkan ada hadits yang bilang bahwa “Semua amal perbuatan tergantung niatnya”. Hadits itu mungkin udah familiar ya di telinga para muslim dan muslimah sekalian. Jadi, perbanyaklah doa ke Allah supaya tetap diluruskan niatnya dan tujuannya ke arah yang baik-baik. Biar jungkir balik usaha kita ga sia-sia dan diterima Allah. To be honest, aku juga masih belajar kok biar istiqomah ngelakuin itu sampe saat ini.

Mulai dari masa kuliah ini lah aku mulai merancang hidup aku biar mimpi aku bisa terwujud. Aku mikir kalo aku hidup datar-datar aja gimana aku bisa dapet ridho Allah dan bermanfaat bagi orang banyak coba. Akhirnya, aku mulai ikut ini itu macem lomba, konferensi, organisasi, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Satu-satu ternyata Allah ngasih bonus dengan memudahkan jalan aku menuju mimpi-mimpi aku. Salah satunya yang mapres tadi. Dosen-dosen mulai kenal aku dan aku merasa sangat dimudahkan oleh beliau-beliau dalam proses aplikasi ke universitas dan beasiswa aku ke S2 ini, bahkan salah satu dosen aku nawarin aku langsung kerja full time di penelitian dia setelah aku lulus S1. Dan pekerjaan itu pun aku rasa punya porsi yang cukup besar dalam mengendorse aku untuk lolos di beasiswa S2 yang aku dapet sekarang. Selain itu, ikut banyak kegiatan juga bikin aku punya banyak temen yang selalu ngedoain aku buat mimpi-mimpiku. Beruntung banget, kan?

Oh ya, tapi jangan anggep kuliah aku lurus-lurus aja. Pastinya ada saat dimana aku lagi jatoh sejatoh-jatohnya karena berbagai macam problematika kehidupan *ezik. Tapi aku sangat bersyukur kpd Allah SWT karena dari segala macem momen jatuh bangun itu Allah selalu nunjukin jalan dengan cara-Nya yang gak pernah diduga sebelumnya. Allah memang Maha Baik 🙂

Jadi intinya, bagi yang punya mimpi pengen S2 ke luar negeri pake beasiswa, nah coba dirapiin dulu niatnya dan rancang hidup kalian sebaik mungkin menuju mimpi kalian tersebut. Meskipun memang manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan Allah lah yang menentukan. Tapi Insya Allah kalo niatnya baik, pasti diarahkan oleh Allah menuju yang baik-baik.

Mimpi ketiga : S2 ke Swedia



Medical-jobs-in-SwedenSource:

Nah loh, bingung kan kenapa tujuan negaranya berubah lagi? Sama, aku juga bingung *lah wkwk. Enggak deng, jadi gini ceritanya. Menjelang lulus dari S1, aku mulai berpikir lebih realistis. Aku mikir kayaknya aku ga bisa stuck di satu pilihanku, yaitu Inggris. Aku mesti bikin plan A, B, C, dst.

Waktu itu kebetulan ada semacam seminar tentang studi S2 ke Swedia yang diadain di fakultas aku. Aku udah sempet searching informasi tentang S2 di Swedia dan banyak artikel yang bilang kalau sistem pendidikan di Swedia tuh oke punya. Aku sempet tertarik tuh. Karena kebetulan ada seminarnya, waktunya pun cocok dengan waktuku, akhirnya aku pun daftar seminar tersebut. Nama pembicaranya Mrs. Titi Holmgren. Beliau baiiikkk banget. Kenapa aku sampe hafal namanya? Karena aku akhirnya konsul ke beliau saat masa-masa pendaftaran S2 ke Swedia (lengkapnya aku ceritain dibawah).

Setelah ikut seminar itu, aku makin tertarik untuk ngelanjutin S2 aku di Swedia dan akhirnya berubah haluan dari yang tadinya pengen banget S2 di Inggris jadi pengen banget S2 ke Swedia. Aku pun mulai nyari-nyari info lebih banyak lagi di internet. Waktu itu pas banget semester terakhir aku kuliah S1. Sembari menyelesaikan segala kerempongan skripsi aku juga sembari membuat list apa-apa saja yang dibutuhkan untuk daftar universitas dan beasiswa ke Swedia. Dan hal paling pertama yang harus aku perjuangin adalah IELTS.

Setelah badai skripsi reda (meskipun dilanjutkan dengan badai penelitian lanjutan di tempat kerja), aku daftar les IELTS di UM karena harganya yang cukup murah dibanding yang lain, kualitas juga cukup oke, dan deket dari rumah. Aku les selama 3 bulan. Jeda seminggu dari selesai less, aku langsung nekat ambil tes IELTS beneran di IDP Surabaya. Itu nekat banget sih sebenernya. Aku merasa dengan kemampuan aku yang pas-pasan aku masih kurang belajarnya. Di tempat les, aku pun juga masuknya di level 2 yang harusnya naik ke level 3 dulu baru bisa dikatakan siap ambil tes IELTS beneran. Namun apa daya, kalau mau berangkat S2 di intake 2017 aku harus ambil IELTS segera dan harus tepat sasaran (minimal 6.5) dengan sekali tembak. Bismillah, dengan memaksimalkan usahaku semampunya, minta doa ke keluarga, aku serahkan semuanya ke Allah.

Di hari pengumuman, aku mesti ambil hasilnya langsung ke kantor IDP di Surabaya. Pas dapet amplopnya aku ga langsung buka. Aku pun langsung pulang ke rumah ga pulang ke kosan. Aku maunya mamaku aja yang buka. Kali ada kalo tangan mamaku yang buka, hasilnya jadi bagus hahaha. And, surprise! Alhamdulillah, hasilnya tepat sasaran meskipun pas-pasan. Tapi itu udah Alhamdulillah banget. Satu pintu menuju S2 pun terbuka.

Setelah pengumuman, aku langsung tancap gas untuk nyicil semua dokumen yang dibutuhin untuk daftar universitas dan beasiswa S2 ke Swedia. Enggak deng bo’ong :p hehehe. Aku galau dulu abis nerima hasil IELTS. Galau, mending diterusin apa engga ya. Ngeliat waktu pendaftaran yang agak singkat dan ngebayangin ribetnya ngurus semua dokumen itu, aku sempet terbesit pikiran untuk mundur aja. Tapi disaat masa pergalauan itu, ada email masuk. Ternyata dari Mrs. Titi Holmgren. Beliau menanyakan rencana lanjut S2 ke Swedia, apakah masih tertarik atau tidak. Sepertinya beliau email ke semua yang datang ke seminar waktu itu sih karena beberapa temenku yg ikutan juga dapet. Tapi email itu seakan jadi alarm buat aku yg teriak “Woy bangun woy! Galau mulu lu. Cepet gerak!”. Setelah bales-balesan email dengan Mrs. Titi, aku pun memutuskan untuk lanjut berjuang dan Mrs. Titi pun dengan baik hati bersedia membantu serta menawarkan ketemuan untuk konsul lebih lanjut sekaligus periksain dokumen-dokumen aplikasi aku. Subhanallah, baik banget kan?

FYI, pendaftaran universitas dan beasiswa S2 di Swedia bisa dilakukan secara paralel. Semua didaftar secara online. Untuk daftar universitas, kita bisa daftar di www.universityadmissions.se. Sistemnya semacam kayak SBMPTN. Kita bikin akun dulu di situs itu lalu kita bisa milih 4 universitas yang diurutkan berdasarkan prioritas kita. Waktu itu aku daftar univ-univ ini:

Lund University – Environmental Studies and Sustainability Science
Lund University – Environmental Management and Policy
Stockholm University – Environmental Science
Uppsala University – Sustainable Development

Abis itu, upload dokumen-dokumen yang dibutuhin seperti IELTS, paspor, ijazah, transkrip, dan dokumen pendukung lain. Nah tapi universitas dan jurusan beda-beda dokumen pendukung yang dibutuhkan. Ada yang butuh CV, motivation letter, recommendation letter, research proposal atau malah ga butuh dokumen pendukung sama sekali. Jadi dibaca baik-baik di website universitas masing-masing ya. Setelah itu jangan lupa bayar, biayanya 900 SEK. Hehehe, mayan uga sih.

Untuk beasiswanya, aku daftar Swedish Institute (bisa dikepoin disini ). Awalnya aku mau daftar LPDP juga. Tapi saat itu sedang ada ketidakjelasan informasi untuk pendaftaran LPDP. Waktu itu belum ada informasi resmi dari LPDP-nya sendiri. Aku dapet informasi dari temenku yang magang disana, sebut saja Pisau, katanya memang akan ada perubahan peraturan dan periode pendaftarannya ga akan sebanyak biasanya yang 4x setahun. Yak, akhirnya aku fokus di peluang lain aja yg saat itu informasinya lebih jelas.

Beasiswa Swedish Institute (SI) terdiri dari 2 tahap. Semua prosesnya dilakukan secara online. Tahap pertama kayak isi formulir online yang isinya ada pertanyaan tentang motivasi kita daftar beasiswa dan rencana kita kedepannya. Kalo yang tahap 2, kita mesti upload dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti motivation letter, CV dengan format Europass, recommendation letter, paspor, dan proof of work and leadership experience. Jadi kalo mau daftar beasiswa ini kita mesti punya pengalaman kerja minimal 3000 jam kerja. Tapi ga mesti harus kerja di kantor atau organisasi yang digaji gitu kok, bisa aja masukin pengalaman di bidang lain, misal jadi ketua atau staff di organisasi kemahasiwaan, asisten dosen, asisten lab, dan lain-lain. Semua dokumen udah ada templatenya sendiri dari SI yang bisa didownload di websitenya. Jadi, kita mesti ikutin segala yang tertera di template, seperti maksimal jumlah kata, butuh atau enggaknya pakai cap, jumlah maksimal halaman, dan lain sebagainya. Oh ya, kalau misalkan kita daftar di empat pilihan berarti kita mesti bikin dokumen itu juga empat rangkap. Isinya boleh beda atau sama. Kalo jurusan-jurusan yang kita pilih beda sih saranku lebih baik beda juga isinya khususnya di dokumen motivation letter.

Butuh perjuangan juga bagi aku untuk merampungkan semua dokumen yang dibutuhkan, baik untuk daftar ke universitas maupun beasiswa. Selama sekitar 1 bulan, aku bolak balik ke beberapa dosen dan beberapa tempat untuk minta surat rekomendasi serta mengurus segala urusan administrasi lainnya. Satu bulan menurutku waktu yang sebentar banget buat nyelesain itu semua ditambah pekerjaan di tempat kerja yang juga harus diselesaikan. Beruntungnya, Mrs. Titi dengan sangat baik hati mau meluangkan waktunya untuk aku konsultasi dan memeriksa serta memberi masukan ke beberapa dokumenku. Temen aku, Vania, dan tante aku yang jago bahasa inggris pun rela untuk proofreading tulisanku. Sungguh beruntungya aku :”)

Di sela-sela persiapan aku mengurus semua berkas-berkas untuk S2 ke Swedia, aku ketemu temenku yang namanya Diba. Ternyata Diba daftar univ dan beasiswa untuk S2 ke Swedia juga. Waktu itu kami akhirnya saling tukar informasi dan bersama-sama berburu surat rekomendasi dari dosen. Diba bilang, sebenarnya Swedia adalah pilihan kedua dia. Pilihan pertama dia adalah Belanda. Diba pun menyarankan aku untuk daftar ke Wageningen University and Research di Belanda karena proses pendaftarannya juga gak terlalu ribet. Saran dari Diba ini akhirnya membawaku ke mimpi aku yang selanjutnya.

Mimpi keempat : S2 di Korea Selatan






Hal yang ingin saya ceritakan diawal tulisan ini adalah respon orang ketika mendengar jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan kepada saya terkait aktifitas yang sedang/akan saya jalani, ketika saya menjawab akan kuliah di Korea, reaksi yang diberikan adalah sebagai berikut: mau belajar K-POP (?), mau operasi plastik (?), mau jalan-jalan ke Jeju Island (?) atau mau ketemu Suju, Lee Minho, SNSD, Sungha Jung dll (?). Pokoknya semua reaksi yang diberikan adalah hal-hal yang identik dengan sesuatu yang ”berbau” hiburan dan jalan-jalan. Jarang yang bertanya kenapa memilih kuliah di Korea, ada apa dengan Korea atau bagaimana keilmuan (khusunya bidang teknik) di Korea dan hal-hal lain yang lepas dari mainstream tentang artis, hiburan dan jalan-jalan tersebut. Dari reaksi itu saya semakin meyakini betapa hebatnya Korea berekspansi dan membentuk citra dirinya terhadap halayak sehingga semua orang (khususnya orang Indonesia, lebih khusus lagi orang-orang yang dikenal dan mengenal saya) mengetahui bahwa Korea adalah pusat dari segala macam hiburan dan jalan-jalan seperti yang disebutkan.

Terlepas dari mindset orang terkait Korea, saya ingin menyampaikan pendapat saya terkait Korea dan mengapa saya (memilih) kuliah di negeri Gingseng ini. Alasan pertama yang bisa jadi membuka sisi lain dari Korea untuk teman-teman yang masih beranggapan bahwa Korea (hanyalah) negeri hiburan adalah industri di Korea saat ini sangatlah pesat perkembanganya. Siapa yang tidak tahu Samsung dengan segala macam produk elektroniknya khususnya dipasar Handphone, siapa yang belum pernah mendengar barang-barang elektronik bermerk LG, ada juga mobil yang kini semakin sering kita lihat di jalanan Indonesia bermerk Hyundai,  dan sekarang ada juga pabrik yag memproduksi baja bernama Posco di kota Cilegon, Banten dan lain-lainnya yang belum kita sadari padahal industri tersebut berasal dari Korea. Intinya diluar dunia hiburan yang begitu terkenal, Korea juga sekarang sedang menjadi Negara Maju yang berkembang dari segala sektor, tak terkecuali diantaranya adalah dari sisi Industri.

Jika kita perhatikan majunya dunia industri disebuah negara tidak lain karena majunya penelitian yang dilakukan dinegara tersebut, dan jika lebih jauh lagi diamati kita akan mengetahui korelasi antara pendidikan dengan industri karena penelitian adalah buah atau aplikasi dari sebuah sistem pendidikan. Jadi, majunya Korea saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena dukungan pemerintah Korea dan kalangan lain diluar pemerintah terhadap dunia pendidikan disana. Dimana dunia pendidikan ini terintegrasi dengan baik dengan dunia industri sehingga riset-riset ilmiah yang dihasilkan mampu diaplikasikan secara masal melalui dunia industi. Program riset ini pula lah yang saya dapatkan dalam menempuh study S2 di Seoul National University 

Alasan kedua mengapa Korea “menjanjikan” untuk dipilih sebagai tempat melanjutkan kuliah adalah karena budaya dan bahasa. Bagi saya yang baru tahu hanya dari hasil membaca dan mendengar tentang sifat dan etos kerja orang-orang Korea, yang diantaranya adalah tidak mengenal lelah dan pantang menyerah dalam menjalankan tugas, adalah sebuah hal menarik untuk dikaji dan dipelajari yang ujungnya adalah agar mampu memiliki semangat etos kerja yang sama dengan mereka. Karena jika diibaratkan sebagai orang kaya, negara korea bukanlah kaya karena warisan yang ada di perut bumi mereka tetapi mereka kaya karena kerja keras yang mereka lakukan. Etos kerja semangat dan pantang menyerah ala orang Korea ini ingin rasanya menular pada diri saya dan membentuk karakter saya nantinya. Maka menimba ilmu secara langsung di negeri asalnya adalah cara terbaik menurut saya untuk menggapai keinginan tersebut.

Alasan Bahasa yang berbeda juga mejadi “penarik” bagi saya, karena saya mimiliki sebuah keyakinan semakin banyak bahasa yang kita kenal dan kuasai semakin mudah kita membangun relasi. Saya selalu memimpikan memiliki pengetahuan diluar 3 bahasa (Bahasa daerah, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) yang selama ini digunakan. Berkuliah di Korea, meskipun kelas inernasional yang akan saya pilih, mempelajari bahasa Korea adalah sebuah keharusan agar kita mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang diluar kelas. Sehingga kesempatan saya untuk bisa berbahasa diluar 3 bahasa utama, sangat mungkin terwujud. Selain itu, dengan melihat ekspansi yang begitu besar dari perusahaan dan budaya Korea, penguasaan bahasa Korea menjadi nilai plus bagi kita untuk masuk ke industri-industri global yang dimiliki oleh Korea tersebut dimasa yang akan datang.

Dua alasan besar itulah yang menjadikan mengapa Korea, bagi saya, layak untuk dijadikan pilihan melanjutkan kuliah. Any way, saya juga ingin bercerita lebih jauh tentang kuliah yang akan saya ikuti dan bagaimana bisa mendapatkan kesempatan tersebut. 


Mimpi kelima : S2 dan S3 ke Netherlands



Bercerita tentang alasan memilih tempat studi di luar negeri memang tidak ada habisnya. Di sisi lain, bagi pendengar atau pembaca kisah tadi, banyak hikmah maupun pesan yang bisa dipetik. Satu cerita dengan cerita yang lain bisa jadi berbeda rasanya sekalipun berkisah tentang sebuah negeri tujuan studi yang sama. Maklumlah, semua itu karena setiap cerita didasari oleh kesan dan pengalaman unik dari pribadi penulis atau penuturnya. Bagi saya, setiap cerita yang disajikan tanpa –maaf- unjuk kesombongan tentu menarik untuk disimak. Pun saya yakin dalam setiap cerita atau tulisan tadi pasti terkandung luapan semangat yang bisa menjalar pada diri kita serta pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kita timba.

Jujur saja, pilihan saya akan Belanda sebagai tempat tujuan studi bukanlah buah perenungan selama satu jam, dua jam bahkan semalam. Proses menentukan pilihan ini berlangsung agak lama. Keputusannya pun tidak semata-mata didasarkan pada keinginan kuat untuk studi ke luar negeri, tetapi ada hal-hal lain yang turut mengarahkan saya pada pilihan tersebut. So, mengapa Belanda? Setelah mendengarkan pendapat dan pengalaman beberapa kawan yang pernah studi di Belanda, pilihan saya jatuh pada negeri kincir ini sebagai pelabuhan untuk studi. Belanda saya pilih, walaupun banyak pendapat miring. Meski demikian, saya tetap tidak bergeming. Salah satu yang membuat saya menetapkan pilihan Belanda sebagai tempat studi adalah kultur akademiknya yang ‘memaksa’ mahasiswa belajar dan berlatih mandiri serta independen dalam menjalani aktivitas penelitian dan studinya. Masa studi  yang terbilang lama tidak saya hiraukan. Justru di kemudian hari, saya baru merasakan manfaatnya mempunyai masa studi yang lebih panjang. Setidaknya, saya tidak kekurangan waktu untuk belajar, bukan hanya topik penelitian yang saya geluti, tetapi juga bagaimana menguasai proses penelitian itu sendiri, dari hulu sampai ke hilir. Hulu di sini adalah proses menyiapkan suatu topik penelitian, mulai dari studi literatur, menulis ringkasan, menulis proposal hingga mencari dana. Sedangkan hilir adalah proses akhir dari sebuah kegiatan penelitian, seperti membuat laporan dan menulis publikasi. Di antara keduanya adalah kegiatan penelitian itu sendiri, baik berupa eksperimen maupun simulasi dan permodelan. Baiklah, mari kita lihat bagaimana proses belajar di Belanda, agar semakin jelas mengapa saya memilih menimba ilmu di negerinya Raja Willem-Alexander ini?.

Di masa inilah, seorang promovendus, merumuskan rencana penelitiannya, dan nantinya dituangkan dalam bentuk proposal maupun ringkasan hasil studi literatur. Fase ini menuntut sang promovendus banyak membaca dan mencerna hasil-hasil penelitian yang relevan dengan topik yang diteliti. Setelah itu, barulah ditulis dan didiskusikan dengan pembimbing atau profesor. Ada kalanya, di fase ini dilakukan eksperimen kecil-kecilan sebagai start-up atau preliminary study, misalnya sekedar menguji apakah sampel atau peralatan yang tersedia di laboratorium dapat bekerja sesuai dengan harapan atau tidak. Belajar menggunakan peralatan atau instrumen juga ada baiknya dilakukan pada fase ini, mengingat semakin cepat menguasai peralatan, semakin banyak ide atau gagasan yang muncul. Tahun pertama ini tampaknya mudah dan santai untuk dijalani, namun sebenarnya adalah masa paling berat, setidaknya berdasarkan apa yang pernah saya alami. Di tahun atau fase pertama ini, arah penelitian harus bisa dipetakan, walaupun semuanya masih abstrak karena kita belum mempunyai data hasil penelitian sama sekali. Selain itu, universitas-universitas di Belanda pada umumnya menerapkan aturan Go/No Go yang menjadi penentu apakah sang promovendus diperbolehkan meneruskan studinya di tahun-tahun selanjutnya atau tidak. Jika tidak, atau No Go, maka karier sebagai promovendus akan diberhentikan di akhir tahun pertama.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, Belanda mempunyai kultur edukasi yang khas, berbeda dengan negara-negara di Asia, bahkan dengan beberapa negara Eropa yang lain. Salah satunya adalah tentang budaya membaca dan menulis. Sependek pengalaman saya hidup di negara ini, budaya orang Belanda mungkin tidak seperti yang ada di Jepang, dimana orang-orang di Negeri Sakura itu tampak gemar sekali membaca. Bahkan, yang pernah saya dengar dari kawan maupun media, saat menunggu sesuatu atau berada di kereta orang Jepang pasti sudah asyik dengan buku atau koran yang dibacanya. Di Belanda ternyata tidak demikian. Saya tidak selalu menemui semua orang yang khusyuk membaca buku atau koran di dalam kereta, walaupun satu atau dua orang tetap saja ada yang melakukannya. Mereka justru tampak sering ngobrol, atau memainkan gadget mereka di dalam kereta. Lho, lalu budaya membaca dan menulisnya dimana? Budaya membaca dan menulis di Belanda tampaknya tersirat dalam sistem edukasinya. Ini yang saya tangkap setelah mulai terbiasa dengan ritme kehidupan di salah satu kampus di Belanda. Sistem pendidikan tinggi di negeri ini mengajarkan mahasiswa untuk belajar sendiri, sementara dosen hanya memberikan kuliah pada bagian-bagian pentingnya saja. Tugas akan diberikan oleh dosen dan selanjutnya dikerjakan oleh mahasiswa baik secara individu maupun berkelompok. Buku, paper dan informasi dari dunia maya selalu menjadi rujukan dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut.  Dua hal inilah yang menjadi pertimbangan saya. Bila dipetakan pada kebutuhan untuk dunia edukasi dan riset di Indonesia tercinta, produktivitas dan kualitas karya tulis ilmiah rasanya adalah dua hal yang masih harus digenjot agar negeri kita ini juga mampu menunjukkan tajinya di forum ilmiah internasional. Lihat saja dari data yang disajikan Scimago. Indonesia masih terpuruk di peringkat 61 dalam produktivitas karya tulis ilmiah dengan angka rerata sitasi per dokumen hanya sebesar 11,86 saja. So, inilah alasan mengapa saya akhirnya memutuskan untuk memilih Belanda sebagai tempat belajar lagi.

Ulasan saya tentang alasan saya memilih Belanda sebagai tempat tujuan studi lanjut sudah saya jabarkan dengan nuansa dan bahasa yang sedikit serius, agak jauh dari kesan emosional saya sebagai penulisnya. Di tulisan kali ini, sekaligus menutup trilogi tulisan bertitel “Mengapa Belanda?” ini, saya ingin berbagi cerita tentang alasan saya yang lebih emosional memilih Belanda sebagai tempat studi lanjut. Harapan saya, para pembaca juga menemukan sisi-sisi manusiawi yang menyelubungi keputusan saya atas pilihan ini.

***

Wageningen adalah tempat tujuan saya saat itu. Kota yang terletak di ujung utara Belanda itu menjadi persinggahan saya sekitar 11 hari saja. Itupun harus dikurangi total waktu perjalanan pergi-pulang Surabaya-Amsterdam yang memakan waktu hampir tiga hari. Meski sebentar, inilah perjalanan pertama yang membuka mata saya tentang dunia luar. Kepergian saya kali itu bagaikan angin segar yang menyejukkan. Saya merasa seperti meneguk segarnya air pegunungan di tengah riuhnya cerita para dosen senior di kampus yang membuat saya hanya bisa menelan ludah. Sering sekali mereka bercerita tentang kisah dan pengalamannya hidup dan studi luar negeri. Saya, kala itu, sama sekali belum pernah bepergian ke luar negeri! Jangankan ke luar negeri, naik pesawat terbang saja belum pernah ketika itu!

Proses pendaftaran di kampus belanda bisa dibaca disini Prosedur pendaftaran kampus di Netherlands

***
Share:
Pengalaman mendaftar StuNed 2017

Pengalaman mendaftar StuNed 2017


Berbekal informasi dari teman, aku cari-cari lagi lebih mendalam segala informasi tentang S2 di Belanda. Setelah baca dan memilah-milih banyak website, artikel, dan blog banyak orang akhirnya aku melabuhkan pilihan ke Wageningen University and Research (WUR) program Environmental Sciences. Untuk beasiswa S2 ke belanda ada beberapa pilihan, diantaranya Netherlands Fellowship Programmes (NFP) dan Stuned. Tapi kedua beasiswa tersebut mengharuskan si pendaftar untuk mendapat LoA dari salah satu universitas di Belanda.

Selanjutnya. aku segera menyiapkan berkas untuk mendaftar ke WUR di sela-sela mempersiapkan berkas-berkas untuk Swedia. Sebetulnya waktu pendaftaran yang diberikan oleh pihak univ cukup panjang, namun waktu pendaftaran dibatasi bagi pendaftar yang ingin mendaftar beasiswa, terutama beasiswa NFP yang terlebih dahulu harus mendapat semacam invitation dari WUR (setelah mendapatkan LoA) untuk mendaftar beasiswa tersebut. Dokumen yang dibutuhkan memang ternyata gak ribet. Ga butuh surat rekomendasi maupun proposal riset. Dokumen yang butuh effort lebih menurutku hanya motivation letter. Aku inget banget waktu itu aku submit pendaftaran di hari terakhir mendaftar dan itu aku lagi di liburan di Bali bersama dosen dan tim riset. Orang-orang mah pada tidur pas di mobil, aku berusaha ngerampungin berkas. Dasar emang deadliner hahaha. Jangan ditiru ya.

Oh ya, sebenernya aku ga pernah punya mimpi sebelumnya untuk S2 ke Belanda loh. Soalnya aku udah minder duluan. Orang-orang bilang katanya orang Indonesia tuh kalo milih negara untuk S2 ke luar negeri paling banyak ke Inggris atau Belanda. Otomatis saingannya banyak, jadi peluang untuk dapetinnya jadi lebih sedikit. Nah, sebenernya aku ga boleh mikir begitu sih ya. Kita kan gatau ya Allah mau ngasih kita rejeki kemana. Udah suudzon aja ama Allah ya 😩

Tapi aku tetep jadi kok akhirnya daftar untuk S2 ke Belanda hehehe. Setelah sekitar semingguan setelah submit aplikasi ke WUR, eh aku dapet email dari WUR. Aku ga berekspektasi itu isinya hasil pengumuman karena mikir kayaknya ga mungkin secepat itu hasilnya keluar. Aku pun saat itu masih nunggu pengumuman univ dan beasiswa tahap 1 untuk Swedia. Eh ternyata, pas aku buka emailnya Alhamdulillah aku dapet LoA dari WUR. Waaah seneng banget rasanya, aku langsung bilang ke mamaku waktu itu. Ada sedikit perasaan lega di hati. Setidaknya sudah ada satu tempat yang aman. Perjalanan kedepan masih panjang.
Tidak beberapa lama berselang, aku dapet semacam invitation untuk mendaftar beasiswa NFP. Saat itu, pendaftaran untuk Stuned juga akan segera dibuka. Namun karena deadline-nya lebih dekat NFP, aku merampungkan berkas untu NFP duluan. FYI, beasiswa NFP dan Stuned semacam kembar tapi tak sama. Dari segi besaran beasiswa, mereka berdua jumlahnya sama. Namun, dari segi sasaran dan tujuan beasiswa, bidang prioritas, sumber dana, dan tahapan seleksinya berbeda. Secara singkatnya, NFP adalah beasiswa yang diberikan oleh Dutch Ministry of Foreign Affairs dan dikelola oleh Nuffic untuk kalangan profesional dari 51 negara kriteria NFP. Sedangkan, Stuned merupakan beasiswa kerja sama bilateral pemerintah Belanda dengan Indonesia yang dananya dikelola oleh Nuffic Neso. Jadi, Stuned itu memang beasiswa khusus untuk orang-orang Indonesia, hanya orang-orang yang berkewarganegaraan Indonesia aja yang boleh daftar. Baik NFP maupun Stuned, semua proses pendaftaran dilakukan secara online.

Saat menyiapkan berkas untuk NFP, status aku sudah lolos tahap 1 beasiswa Swedish Institute dan untungnya sudah rampung untuk tahap 2 karena memang sudah deadline hehehe. Jadi, kondisinya masih harap-harap cemas untuk pendaftaran ke Swedia ditambah lagi pendaftaran univnya juga belum ada hasil.

Seleksi beasiswa NFP ini ada 2 tahap. Tahap pertama, berkas kita akan diseleksi oleh pihak universitas. Jika kita mendapat rekomendasi, kita akan lanjut ke tahap 2 dan berkas kita akan dioper untuk diseleksi oleh pihak kementrian Belanda. Barulah dari situ ditentukan lolos atau tidaknya aplikasi kita. Berkas yang dibutuhkan hanya employer statement yang sudah ada format tersendiri dari pihak NFP. Menurut aku, berkas ini yang jadi kunci aplikasi kita. Disitu kita harus bisa menjelaskan secara clear tentang organisasi atau instansi tempat kita bekerja dengan segala visi dan misinya, job desk kita disana apa, apa yang akan kita lakukan untuk organisasi atau instansi tersebut setelah mendapat ilmu dari universitas tujuan dan beasiswa NFP, serta kenapa butuh S2 dan juga beasiswanya. Jadi, butuh berpikir dalam-dalam untuk isi dokumen itu. Sisanya hanya isian tentang data diri dan beberapa pertanyaan mengenai motivasi mendaftar beasiswa NFP. Segala tentang NFP bisa diliat disini.

Jujur, ketika mendaftar beasiswa NFP aku bener-bener yang sudah pasrah banget ke Allah SWT karena udah minder duluan pas baca persyaratan dan segala macemnya. Sempet ragu juga dan merasa out of criteria karena tempat kerjaku bukan semacam organisasi resmi gitu dan hanya sekedar tim riset yang bekerja untuk suatu proyek. Akhirnya dosen aku pun menyarankan untuk melampirkan surat tambahan yang ditandatangani oleh dosen aku sebagai ketua riset yang menjelaskan bahwa kami hanya tim riset bukan organisasi resmi agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari. Yaudah aku pasrah aja pas saat itu dan berdoa yang banyak dan minta didoain juga sama keluarga.

Rampung ngerjain berkas untuk NFP, aku pun mulai mencicil berkas untuk Stuned. Isiannya jauh lebih banyak dibanding NFP. Tapi untungnya bisa disave dan close lalu dikerjakan lagi nanti, kalau aplikasi NFP ga bisa. Jadi, kita harus isi kalau sudah siap upload dan submit. Perbedaannya lagi dengan NFP, di aplikasi Stuned ada isian untuk pengalaman organisasi, prestasi, dan list paper yang sudah dipublikasi. Bukti-bukti berupa sertifikat dan lainnya yang berkaitan juga mesti diupload. Motivation letter juga mesti diupload dengan template yang diberikan, jadi tidak hanya sekedar pertanyaan seperti ketika pendaftaran NFP. Format employer statement juga sudah diberikan, namun templatenya berbeda dengan NFP dan aku rasa isiannya lebih simple dibanding NFP.

Pengumuman itu datang juga, pengumuman Lulus beasiswa stuned. Selamat ya! ciee yang mau berangkat ke Belanda đŸ˜€

Proses Seleksi bisa di baca disini StuNed Scholarships 2017 - Study in Holland
Ups, tapi setelah itu ngapain ya? udah pengumuman terus harus ngapain? Berikut serpihan-serpihan kenangan yang masih saya ingat sesaat setelah mendapat beasiswa Stuned.
  1. Cari teman sepenanggungan sesama stuned awardee. Ini untuk memudahkan persiapan dan bisa berbagi info terkait keberangkatan. Dulu alhamdulillah temen-temen se-almamater saya banyak yang keterima, jadi bisa langsung gosip gosipan tentang apa ajah yang harus dipersiapkan. Kamu juga bisa posting di milis beasiswa, tanya ajah, siapa yang dapet beasiswa stuned batch ini. FYI, stuned awardee angkatan saya ada 96an. Saya gak tau deh stuned tahun ini berapa :D. Oia, setelah dapet temen sesama stuned awardee, buat group whatsapp or apapun  yang bisa memudahkan pertukaran informasi.
  2. Stuned ngasih waktu kamu untuk Berdiskusi dengan keluarga atau atasan, apakah kamu diizinkan untuk Mengambil beassiwa stuned apa gak. Nah, coba kamu sampaikan kabar gembira ini ke atasan dan keluarga dan liat respon mereka. So far, siapa sih yang gak seneng dapet beasiswa? hehehe, mostly mereka mendukung sih. Tapi in same cases, kayak misalnya kamu udah berkeluarga dan ternyata pasangan kamu punya rencana yang lain, itu kan musti didiskusikan secara matang tuh. Jangan lupa sholat istikharah juga, minta diberikan kemantapan hati untuk berangkat ke Belanda :D. Setelah merasa mantap, segera bales email pengumuman beassiwa yaaa, jangan lewat deadline!
  3. Cek paspor dan dokumen


Karena setelah ini kamu bakal ngurus visa dan izin tinggal di Belanda, ngecek tanggal berlakunya pasport perlu. Dulu ternnyata pasport saya nge pass banged tinggal 6 bulan masa berlakunya dan saya baru inget kemudian jadi banyak buang waktu ditengah2 persiapan hoho. Coba diliat lagi pasportnya, usahakan kamu punya pasport yang masih berlaku 2 tahun lagi biar gak ribet ngurus dokumen selama di belanda. Mending bersusah-susah urus dokumen di Indo deh daripada pontang panting di tengah kuliah buat ngurusin dokumen kita di Belanda!
Dokumen yang perlu di cek:
  1. Pasport, cek tanggal berlakunya, kalo kurang dari 2 tahun, mending segera perpanjang.
  2. Ijazah, coba di cek lagi, transkrip dan ijazah kamu udah ditranslate ke bahasa inggriskah? legalisirnya masih adakah? yook segera diurus kalo legalisirnya udah tinggal dikit. Dokumen ini berguna buat pengurusan daftar ulang dikampus setelah kamu sampai ke Belanda.
  3. Kartu keluarga, akte kelahiran, KTP, LOA ; coba cek lagi dimana kamu nyimpen  dokumen-dokumen keadministrasian kamu. Dokumen-dokumen ini penting buat ngurus Visa dan keimigrasian lainnya.
4. Beri tau kabar gembira ini ke universitas kamu. Ini contoh email yang saya kirim ke universitas:
Dear Student Service Center, 
My name is Agung Wicaksono and I will study in wageningen starting from September. 
I’ve got information from Nuffic neso Indonesia That I get Stuned scholarship. Therefore, would you tell me on boarding process that I must prepare? especially for MVV information and housing application. 

Thank you and best regards, 
Agung Wicaksono 


dan jawaban mereka:
5. Daftar kursus Bahasa Belanda
Ini sangat dianjurkan oleh Nesso. Lumayan juga loh ilmunya bermanfaat pas udah nyampe belanda. Durasi kursus biasanya 2 minggu full time, dari jam 8 sampe jam 3 sore. Buat daftarnya kamu tinggal kepoin ttg erasmus taalcentarum dan kirim email ke erasmus taalcentarum. Biasanya setelah itu mereka akan balas dan minta kamu attach LOA kamu. Buat tau lebih dalam ttg kursus ini, kamu bisa liat postingan saya atau kepoin beberapa sumber. Oia, tempat kursusnya ada di kedutaan belanda, di Jl. Kuningan deretan daerah kedutaan deeh. Kalo naik busway, turun di halte kuningan timur kayaknya.
6. Dateng Stuned gatering dan tanda tangan kontrak stuned, Pas tahun kemarin ada stuned gathering yang berisi pengarahan ttg beassiwa stuned. Gatheringnya di menara jamsostek, kantor Nesso. Disana sekalian kamu ttd kontrak beasiswa stuned. Nanti ada pemberitahuan ttg itu via email
7. Cari info housing; coba googling gimana cara dapet housing di kampus kamu. kepoin web universitas, googling dan gunain sosial media yang kamu punya. Coba tanya sama senior kampus juga.
7. Next Step nya ngapain? ngurus visa. Tapi waktu itu saya kira2 ngurus visa sebulan setelah pengumuman beasiswa
8. Legalisir dokumen ; kamu harus punya akte yang dilegalisir ke kemenkumham, kemendagri dan catatan sipil. Nah ini agak ribet nih ngurusnya. Dulu saya pake biro jasa ngurusnya, karena saya juga masih kerja saat itu #anaknyagakmauribet. Dulu saya pake jasa saharjo 39 dan biayanya sekitar 1,5 juta.
9. Ikut predeparture Nesso, Kayaknya tahun ini sekitar akhir Juli. Di acara ini kamu bakal kenalan sama sesama mahasiswa yang mau berangkat ke belanda. seru acaranya. Taun kemarin Pre departure nya ngedatengin artis-artis negeri van oranje. Dapet buku negeri Van oranje juga dan merchandise dari Nesso.
Itulah serpihan-serpihan kenangan yang saya inget tentang persiapan setelah mendapat pengumuman beassiwa Stuned. Buat tulisan lebih lengkapnya, Nanti ya, insyaAllah kalo saya udah lowong hehehe, a kepoin web kampus (ini perlu bangetttttt) buat tau tentang housing, visa, MVV dll. kepoin juga web dan sosmednya ppi belanda buat tau info tentang studi di Belanda. 
Sampai Jumpa di Belanda!
Share:
Call for Papers Conference on “Religious Authority in Indonesian Islam: Contestation, Pluralization, and New Actors”

Call for Papers Conference on “Religious Authority in Indonesian Islam: Contestation, Pluralization, and New Actors”


Call for Papers Conference on “Religious Authority in Indonesian Islam: Contestation, Pluralization, and New Actors”
ISEAS – Yusof Ishak Institute
Singapore, 3-4 July 2018
Introduction
Religious authority has never been monolithic and, in Sunni Islam, it has always been decentralized and contested (Azra 2010; Feillard 2010; Mandaville 2007; Norshahril 2018). Like in many other religious communities, the fragmentation of religious authority has become a feature of Islam throughout its history. In this modern day and age, the intensity of the contestations among the different religious elites is likely to grow. In Indonesia, at least three factors have significantly influenced recent contestations within the Islamic religious arena: globalization, post-Reformasi democratization, and the growing number of private television stations and social media (Facebook, Twitter, Instagram, and YouTube).
Religious authority is conventionally based on “the interaction between text, discursive method and personified knowledge, with constructions of the authoritative in Islam seen as combining these ingredients to varying degrees and in diverse configurations” (Mandaville 2007, 101). However, the above three factors have strong impact in shaping and animating the construction, contestation, fragmentation, and pluralization of religious authority in contemporary Indonesia.
Transnational movements, like Hizbut Tahrir (HT), for instance, have ridden on globalization and geopolitical issues as devices to frame religious discourse, sense of unity, identity, loyalty among their followers, and construct their authority. The democratization of Indonesia after the Reformasi in 1998 has made possible the emergence and establishment of religious organizations such as the FPI (Front Pembela Islam), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), and FUI (Forum Umat Islam). Some organizations that had been working underground, restricted or banned are now actively promoting their vision of Islam in the public sphere. Some of these organisations were JI (Jamaah Islamiyah), DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), and HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). These organizations have continuously challenged the authority of mainstream organizations like Muhammadiyah and NU (Nahdlatul Ulama).
The proliferation and establishment of private television channels and new modes of communication technologies have facilitated the rise of new preachers such as Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Abdul Somad, Mama Dedeh, and Felix Siauw.These new media have transformed lay Muslims with limited religious qualifications into new religious authorities.
The series of Aksi Bela Islam protests against then Jakarta governor Basuki Tjahaja Purnama at the end of 2016 provided a clear example of the rise of an alternative religious authority. The authority of NU and Muhammadiyah, previously regarded as mainstream Islamic organisations in Indonesia, was challenged. The act of ridiculing, mocking, and disrespecting traditionalist kiais and “high-brow” ulama, such as Ahmad Mustofa Bisri, Quraish Shihab, and Ahmad Syafii Maarif, has become more evident in recent years. This has resulted in the undermining of pesantren and UIN or IAIN (State Islamic University) as the traditional system for producing ulama and Islamic scholars. On the other hand, new preachers and habaib (descendants of the Prophet Muhammad) have emerged to gain significant standing among Muslims apart from thetraditional clergy.
The current phenomenon of contestation of religious authority can be seen, positively, as part of the democratization of religious authority. This can provide various Muslim communities access to religious authority and provide alternatives to the hegemony of NU and Muhammadiyah. On the other hand, religion could also be easily reshaped to cater to the demands of the market and capitalism, or prone to be manipulated to support certain political interests.
This conference intends to discuss and analyze the construction, contestation, pluralization, fragmentation, and segmentation of religious authority in Indonesian Islam. How was this authority traditionally constructed and recently re-constructed? Which religious groups currently have strong influence in Indonesia? How does religious authority influence democracy and the dynamics of politics in Indonesia, and vice versa? What is the role and influence of globalization, new media, and the Reformasi in shaping and reshaping Islamic religious authority in Indonesia? What is the response of mainstream Muslim organizations to challenges from new religious groups? These are some of the questions, among others, that will be addressed in this conference.
Objectives
1. To study conventional accounts of traditional structures and figures of Islamic religious authority.
2. To understand the underlying forces that shape and animate the construction, contestation, fragmentation, and pluralization of authority in contemporary Indonesian Muslim society.
3. To analyze the role and influence of democracy, globalization, new media in the contestation and pluralization of religious authority. The proliferation and establishment of private television channels and new forms of information and communication technologies like Facebook, Twitter, Instagram, and YouTube would be one of the main focuses.
4. To examine efforts to politicize religious authority in Indonesia for disparate political objectives.
5. To identify diverse trends of religious authority in Indonesian Islam and to speculate on the future of mainstream organizations, particularly the NU and Muhammadiyah.
Panel Topics
1. Ulama and religious authority in Islam: Conventional and contemporary accounts
2. New Islamic organizations and the challenges to mainstream Islamic organizations
3. The influence of globalization, transnationalism, and democracy in shaping religious authority
4. The role televisions and new media in the contestation of authority
5. New religious preachers, new santri, and the construction of religious authority
6. New contestation in interpreting religious texts: Fatwa, Tafsir, and shari’a
7. Religious authority among female preachers, ulama, and religious institution
8. The role of ethnicity (suku) and religious conversion in the making of new religious authority
9. Politicization of the pluralized religious authority in Indonesia
10. Religious education, capitalism, and religious authority
Venue and Date
This two-day conference will be held at ISEAS – Yusof Ishak Institute, Singapore.
Date : 3-4 July 2018
Important Dates
Deadline for Proposal Submission : 31 January 2018
Notification of the Accepted Proposals : 15 February 2018
Submission of Full Paper : 19 May 2018
Abstract and Paper Submissions
Paper proposals should include a title, name of author, institutional affiliation, email address, an abstract (250 words) and a brief personal biography (150 words). Those whose proposals are accepted will be expected to submit a full paper of 6000 words. Selected papers may be included in a special publication.
Funding
Accommodations will be provided for all overseas participants. For participants traveling from Asia, economy class airfare will be provided. Participants traveling from beyond Asia may receive partial funding for air travel. Reimbursements will only be made upon receipt of the full paper and attendance at the conference.
Accommodations will be provided for all overseas participants. For participants traveling from Asia, economy class airfare will be provided. Participants traveling from beyond Asia may receive partial funding for air travel. Reimbursements will only be made upon receipt of the full paper and attendance at the conference.
Organizers
This conference is jointly organized by ISEAS – Yusof Ishak Institute, Singapore and the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta.
Conveners:
Dr. Ahmad Najib Burhani : najib27@yahoo.com
Dr. Norshahril Saat : norshahril_saat@iseas.edu.sg
Websites:
https://www.iseas.edu.sg/
http://pmb.lipi.go.id/
Share: