Monday, September 11, 2017

Renungan di hari Wisuda

Hari ini Universitas Brawijaya mewisuda lulusannya untuk entah yang ke berapa kali dalam setahun. Dengan jumlah mahasiswa baru yang diterima per tahun sejak 2008 diatas 12.000, dan jumlah wisudawan per kali pelepasan sebanyak 1000, maka setidaknya ada 12 upacara wisuda yang harus dilaksanakan. Itu hitungan saya. Tetapi menurut keterangan seorang teman,  katanya UB tiap tahun menyelenggarakan upacara wisuda sekitar 14-15 kali. Artinya, jumlah mahasiswa baru yang diterima tiap tahun boleh jadi lebih dari 12.000. Luar biasa.

Saya lihat wajah-wajah gembira dari para wisudawan, orang tua serta handai tolan, seakan-akan hari  wisuda adalah hari kemenangan. Mereka berfoto ria, selfie dengan latar belakang gedung pusat dan gedung-gedung lain yang menjulang tinggi. Mungkin mereka beranggaoan, bawa hari wisuda ini adalah hari kemenangan setelah berjuang sekian tahun di kampus. Jadi wajar saja mereka bergembira ria.

Padahal, saat wisuda adalah saat dimulainya kehidupan yang riel di masyarakat. Pandangan masyarakat terhadap mahasiswa dan alumni itu beda banget. Kalau kita masih menyandang status mahasiswa, meski kita hidup dengan masih menggantungkan pada orang tua,  masih dianggap sebagai sesuatu yang lazim. Apapun yang disampaikan oleh seorang mahasiswa masih sesuatu yang dipandang ideal. Posisi mahasiswa, sebagai masa depan bangsa, masih sangat  dihormati di masyarakat. 

Tetapi kalau kita sudah lulus, lain sekali persoalannya. Apalagi jika masih  menggantungkan hidup pada orang tua. Atau, setelah kita mencari kerja berbulan-bulan, bahkan hingga tahunan belum juga mendapatkan pekerjaan, maka pujian dan harapan perlahan berubah menjadi cibiran. Sarjana, kok nganggur. Duh....

Maka, tiap kali saya menatap wajah-wajah yang ceria di hari wisuda, sungguh hati kecil saya menjerit. Akan kemana mereka  mencari pekerjaan setelah lulus  nanti? Mampukah para lulusan itu memenuhi harapan orang tua yang sdh sekian tahun membanting tulang, agar anaknya menjadi sarjana dan mampu mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga bisa menolong handai taulan ya?
Lebih menyedihkan lagi, bila untuk membiayai anaknya kuliah, para orang tua yang di desa tidak jarang yang hingga  menjual tanah sepetak satu-satunya. Apa jadinya bila anaknya yang sangat digadang-gadang, yang untuk dapat kuliah dan menjadi sarjana mereka para orang tua harus banting tulang siang malam, tetapi setelah lulus, anaknya tidak juga memperoleh pekerjaan yang layak dan justru jadi beban keluarga?

Bukan saya meragukan kemampuan mereka, sama sekali tidak. Para lulusan itu banyak yang mendapatkan IPK diatas 3.25, bahkan tidak sedikit yang diatas 3.5. Para wisudawan itu sebenarnya luar biasa.

Terus dimana masalahnya, kenapa perkejaan sulit sekali diperoleh?

Jawabnya, pekerjaan sulit didapat karena memang perkejaan yang tersedia sangat sedikit, sementara jumlah pencari kerjanya luar biasa banyak. Lho kok?

Tahukah Bapak Ibu sekalian bahwa sejak tahun 1970 hingga sekarang, penduduk Indonesia secara konsisten bertambah tiga juta orang per tahun?
Angka 3 juta per tahun itu muncul dari kelahiran sebanyak hampir 5 juta, dan kematian yang mendekati 2 juta dalam setahun. Jika diasumsikan bahwa yang meninggal sebagian besar adalah yang berusia lanjut, dan bukan lagi kelompok pencari kerja, maka tiap tahun harus disiapkan peluang kerja untuk setidaknya 4 juta orang. Jumlah itu sangat besar, bahkan untuk negara dengan perekonomian maju seperti Jepang  dan Amerika. Negara-negara tsb pasti akan terengah-engah kalau harus creating jobs untuk 4 jiwa per tahun.

Sanggupkah negara menciptakan lapangan pekerjaan untuk 4 juta orang tiap tahun?
Jangankan menciptakan lapangan kerja baru bagi 4 juta orang, mempertahankan lapangan kerja yang sdh ada saja demikian sulit, apalagi saat ekonomi lagi mengkeret seperti saat ini.

Inikah yang sering menjadi keprihatian saya. Tidak ke mahasiswa, tidak ke masyarakat umum, bahkan waktu diundang dalam plenary session  di ICTAP 2017 di Jogjakarta kemarin pun, hal itupun kami singgung. Kami pertanyakan kepada mereka, apa kontribusi yang dapat kita berikan untuk mengurai masalah yang sangat  ruwet ini?

Sekali lagi, 5 juta bayi-bayi tiap tahun dilahirkan sejak puluhan tahun lalu..

By: Dr. Muhammad Nur Huda, M.Si. Dosen Fakultas MIPA UB Malang
Share:

0 komentar:

Post a Comment

안녕 하세요 감사합니다
Mannaseo pangapseumnida