Saturday, July 08, 2017

MENGAPA HARUS MAPRES ?

Beberapa waktu belakangan saya mendapat beberapa pertanyaan dan juga diundang ke beberapa sesi atau seminar untuk sharing tentang kompetisi Mapres (Mahasiswa Berprestasi), tentang manajemen waktu, kiat presentasi ilmiah dan hal terkait mapres lainnya. Pada saat yang bersamaan, karena sudah mulai bekerja full-time di kementerian, tidak semua sesi sharing yang bisa saya datangi, terutama pada hari kerja.

Mungkin ada yang pernah menyentil bahwa orang yang ikut Mapres adalah orang yang `ambi` (walau saya sering gagal mengerti kenapa kata ambi atau ambisius sering memiliki konotasi negatif bagi banyak orang Indonesia setidaknya yang saya temui) dan seolah tidak peduli akan lingkungan. Padahal kata Ambisius sendiri (Menurut KBBI) berarti berkeinginan keras untuk mencapai suatu cita-cita atau harapan. Tidak ada elemen kekerasan atau pelanggaran terhadap hak orang lain dalam kata yang disebut ambisius. Klik disini

Karena itulah, tulisan ini saya tulis untuk berbagi pengalaman dan perspektif tentang mapres dan mengapa seorang mahasiswa yang ikut kompetisi Mapres adalah mahasiswa yang berani membuat perbedaan. Tulisan ini lebih ditujukan untuk mengajak Mahasiswa tingkat 3 atau 4 ikut mengeksplorasi diri; mengapa ikut kompetisi Mapres adalah suatu kebutusan yang benar.

Gambar 1. (7 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Pertanian)

Kutipan dari Ariana Huffington salah satu kata yang saya anggap sangat powerful; bahwa setiap orang bisa mencapai tujuannya ketika dia meletakkan fokusnya kepada tujuan tersebut dan tetap bertahan sampai tujuan tercapai. Begitu pula untuk menjadi Mapres (Mahasiswa berprestasi). Menjadi Mapres adalah menjadi seorang pribadi yang berani melampaui kemampuan yang dia pikirkan. Acap kali kita terhadang dengan bisikan seperti “emang gue bisa ya?“ “lawannya kan udah kaliber dan gak mungkin lah gue ikutan!“ dan ucapakan lainnya yang bersifat depresiatif terhadap diri sendiri.

Hal ini mengingatkan saya kembali kepada apa yang saya alami sekitar enam tahun yang lalu ketika masih bersekolah di SMA di Banyuwangi. Menjadi satu-satunya diantara teman peserta seleksi yang gagal tes pertukaran pelajar AMINEF dari tahap paling pertama, tidak bisa mengikuti perlombaan karena siswa lainnya jauh lebih unggul dan demotivasi berkepanjangan karenanya.

Suatu ketika saya berpikir bahwa orang-orang tersebut sangat mungkin dulunya tidak hebat seperti sekarang. Sampai saya pada kesadaran bahwa yang paling terpenting pada akhirnya adalah momentum ketika kita berani mengambil langkah pertama untuk melakukan sesuatu; kemudian berani untuk berpura-pura bisa sampai betul-betul bisa melakukannya “fake it till you become it!“ Dengan berpura-pura bisa-lah pada akhirnya orang belajar, refleksi dan improvisasi kemampuan diri. Yang terpenting mempersiapkan diri, mengatur strategi, melakukannya dengan upaya yang terbaik dan berpura-puralah!

Hahaha..Yak, itulah yang saya lakukan untuk bisa mencapai prestasi. Hasil adalah hal kedua, namun berprestasi bagi saya adalah kepuasan terhadap upaya maksimal yang dilakukan untuk mencapai misi yang ingin kita capai.

Mengapa ikut kompetisi Mapres?
Kompetisi Mahasiswa Berprestasi adalah suatu seleksi prestasi akademis dan non-akademis (termasuk IPK, Curiculume Vitae, Karya tulis ilmiah & kemampuan bahasa Inggris) yang setiap tahunnya diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan kebudayaan dengan tujuan untuk mengembangkan pemikiran saintifik dan kompetivitas di kalangan mahasiswa Indonesia dalam menciptakan dampak kepada masyarakat.

Mengikuti proses lomba ini pun tidaklah singkat, dari tingkat Jurusan hingga tingkat Nasional membutuhkan lebih kurang 4 bulan – sebuah komitmen yang cukup panjang. Tapi bukan berarti terlalu berat juga, yang jelas adalah bahwa seleksi ini memang harus diikuri mulai dari seleksi di tingkatan terkecil dari jurusan atau Fakultas dan hingga ke tingkat Nasional. Lalu mengapa kamu harus ikut Mapres?

1. Impact measurement: Salah satu alat ukur 4 tahun masa kuliah
`The more we do, the more we gain` tentunya selama 3-4 tahun kuliah, kita telah melakukan berbagai hal, aktivitas, pengalaman dan prestasi di bidang kita masing-masing. Mengikuti kegiatan Mapres bukan berarti menjadi ajang pembuktian bahwa kita adalah yang terhebat, tetapi fokusnya dikembalikan kepada diri sendiri. Bahwa setiap manusia pasti haus akan ekplorasi diri, improvisasi dan pembangunan kapasitas. Melalui serangkaian tes dan kegiatan yang dilalui dalam kompetisi Mapres inilah saya merasa ajang ini pada akhirnya menjadi suatu alat ukut terhadap kemampuan dan pemikiran yang kita telah bangun selama bertahun-tahun menjadi seorang Mahasiswa. Sudah efektifkah kita dalam mengembangkan diri mencapai tujuan dan mimpi?

Sebagai misal, seleksi Mapres di tingkat Fakultas Pertanian,Universitas Brawijaya: rangkaian seleksi Mahasiswa Berprestasi dilakukan dengan kunjungan penelitian ke sebuah desa di Cangar, Batu Malang. Disana para finalis Universitas (ada sekitar 15 orang saat itu) melakukan penelitian rapid assessment terhadap kondisi permasalahan masyarakat yang ada di Desa tersebut dan menerjemahkan rekomendasi solusi terhadap masalah tersebut dari segi ilmu sosial dan sains sesuai minat dan jurusan yang para peserta tekuni. Saat itu saya membahas tentang analisis penyakit tanaman hortikultura yang ada disana.

Selain penelitian ini, selama proses seleksi Mapres, kita juga akan dinilai berdasakan IPK, prestasi akademis dan non akademis serta kemampuan presentasi ilmiah dan bahasa inggris. Hal yang berbeda dari seleksi pada tahun sebelumnya adalah penilaian prestasi dalam CV yang dibatasi menjadi penilaian terhadap 10 prestasi terbaik dan yang paling dibanggakan. Hal ini tentunya berdampak pada semakin kecilnya marjin perbedaan penilaian CV kandidat mapres sehingga kompetisi nilai di aspek lainnya, seperti karya ilmiah, presentasi dan kemampuan berbahasa inggris menjadi lebih kompetitif.

Kemampuan diatas adalah kompetensi esensial bagi seorang mahasiswa. Perjalanan bersama kompetisi mapres telah menjadi salah satu jalan bagi saya untuk mengukur kemampuan yang telah saya bangun selama kuliah dan merefleksikannya untuk menjadi peningkatan kapasitas diri.

Untuk informasi saja, tingkat Indeks Pembangunan Manusia tahun 2012 di negara kita belum begitu baik, masih berada di peringkat 121 di seluruh dunia. Masih ragukah kita untuk menjadi bagian dari pembangunan Indonesia sebagai seorang mahasiswa yang ungul dan berprestasi?

2. Mengembangkan Ide Praktis Sosial!
Berbeda dengan lomba karya tulis umum atau presentasi ilmiah lainya, komponen penilaian dalam karya tulis mapres dituntut untuk memiliki nilai orisinalitas untuk menciptakan ide solusi yang kontribustif bagi masyarakat. Disinilah kompetisi Mapres, menurut saya, dapat menjadi suatu katalisator bagi Mahasiswa untuk menggunakan ide segar dan inovatifnya terlibat dalam isu kekinian yang ada dalam masyarakat. Sebagai seorang akademisi junior, kita dapat mencoba untuk mengambil bagian dan berpartisipasi dalam isu pembangunan kemasyarakatan. Kapan lagi kita bisa ikut terlibat dalam memikirkan solusi dari tataran teoritis menjadi suatu tataran praktis bagi masyarakat. Seleksi Mapres menjadi salah satu jalan bagi saya untuk melakukan hal ini.

3. Tak ada awal dan akhir tuk terus belajar
Mengikuti prosesi seleksi mahasiswa berprestasi dari tingkat jurusan, universitas hingga tingkat Nasional adalah suatu tahapan pembelajaran yang inspiratif . Tidak begitu sering kita memiliki kesempatan untuk mengadu pemikiran dengan rekan yang berasal dari disiplin ilmu yang berbeda sama sekali. Anak sosial bisa banyak belajar dari teman dari rumpun sains dan sebaliknya; tujuannya sama, yaitu pemikiran untuk menciptakan suatu solusi atas permasalahan kompleks yang ada di tengah masyarakat. Kompetisi mapres inilah yang juga menyadarkan saya bahwa pada akhirnya tidak ada batasan awal dan akhir untuk belajar, tidak ada batas disiplin yang harus membatasi keinginan kita untuk belajar dari perspektif lain.

Di seleksi tingkat Universitas, saya mempresentasikan penelitian yang berjudul `Kemitraan Publik-Privat dalam Mitigasi MDG’s: Solusi Alternatif Efektivitas Sistem Mandiri Energy di Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini saya lakukan atas dasar pengetahuan yang saya dapatkan selama studi pertukaran di Hongkong dan beberapa kegiatan kesiagaan jika mengalami krisis Energy. Meskipun topik ini tidak secara langsung terkait dengan jurusan saya, Hama Penyakit Tanaman, namun program studi saya telah banyak membantu kerangka berpikir dalam analisis kebijakan publik dalam kebijakan mitigasi MDG’s.

Selain itu, ada Agustin Capriati dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan yang membuat suatu teknologi pelestarian karang yang hampir punah sebagai suatu sistem penopang ekosistem di Kabupaten Banyuwangi, Selain itu Seorang mahasiswi Fak. Teknologi Pertanian sebut aja Asusti Ara, yang juga peraih penghargaan International Assosiation Agriculture in the World, ikut menginspirasi saya dalam semangatnya untuk mengajukan proposal terhadap suatu bentuk reformasi sistem ketahanan pangan dengan mengandalkan produk lokal; serta ada pula Muhammad Ikhsan Putra dari Fakultas Ilmu Administrasi yang mempresentasikan karya ilmiahnya tentang Teknologi kemitraan di pesisir Malang dan Anggun Sugiarti dari Fakultas Teknik yang mempresentasikan karya ilmiah tentang pendidikan karakter. Semua cerita dan ilmu ini saya dapatkan di seleksi Mapres. Yang lebih mengesankan lagi sebenarnya adalah bagiamana para peserta kompetisi menunjukkan antusiasme dan semangat tingginya terhadap perubahan yang dia ingin ciptakan. Terinspirasi oleh Mapres lainnya adalah salah satu momen tak terlupakan bagi saya. Mereka orang yang sangat berpengaruh rata rata telah mempersembahkan Medali untuk Brawijaya dan Indonesia di Kancah Internasional.

4. Leverage yourself
Selain mendapatkan inspirasi dari mapres lainnya, mengikuti kompetisi mapres bagi saya juga dapat menjadi kesempatan untuk bisa berbagi dan menginspirasi orang lain  membangun suatu reputasi sebagai mahasiswa berprestasi. Dengan menjadi Mapres suara kita akan lebih didengarkan oleh publik yang lebih luas. Dengan menjadi mahasiswa berprestasi kita akan memiliki kesempatan untuk menyebarkan semangat berprestasi dan kontribusi untuk masyarakat dan ikut membangun Indonesia yang lebih baik.

Mengikuti kompetisi Mapres bisa dibilang sebagai kesempatan sekali dalam seumur hidup yaitu ketika masih duduk di tingkat pendidikan Sarjana atau Diploma. Sudah selayaknya seorang mahasiswa yang berani menantang dirinya melakukan hal yang lebih dari apa yang dia pikirkan. Berani ikut seleksi Mapres juga berarti berani mencoba berkontribusi secara intelektual untuk membangun masyarakat dan menyebar semangat kompetivitas di kalangan mahasiswa. Semuanya berawal dari keyakinan diri dan pepatah yang selalu saya pegang `Fake it till you become it!`

Hal ini sontak mengingatkan saya akan "kegagapan" saya dulu pada saat awal-awal mengikuti Mawapres. Saat itu mindset yang ada dalam pikiran saya adalah mawapres hanya untuk kalangan Mahasiswa "eksklusif" dengan IPK tinggi, aktif, dan menang lomba sana-sini. Saya merasa saya bukan golongan dari mahasiswa seperti itu dan mungkin belum siap terlibat di kompetisi itu (ditambah lagi, apa iya mahasiswa Pertanian seperti saya bisa bersanding dengan Mahasiswa Kedokteran, HI, dan lainnya. Apalagi setelah saya cari tahu kandidat dari Fakultas lain ternyata ada yang sudah mempersiapkannya bahkan sejak hampir setahun yang lalu dan melakukan pelatihan panjang, yah. it made me feel so small. Beruntung waktu itu saya dekat dengan kakak senior yang terus menyemangati dan memotivasi saya. Sedikit demi sedikit saya mencoba mematahkan ketakutan itu dan memulai langkah berani, resiko kalah atau malu? ah.. itu dipikir nanti saja dan lagian saya juga sudah terbiasa kalah dan sedikit malu hahahaha, setidaknya saya unggul untuk masalah berani bersaing dan berani bekerja ekstra. Seperti kata Andresen dalam puisinya Take The Leap, Realize, you have some "skills", it is time to put into practice Give joy to a face full of tear and sadness, really Also, two help with all the good things we do in this journey let go off the luggage from all our past lives, really. Create your own life and not just survive. 

Ya.. kira-kira itu yang saya lakukan untuk berani menjejakkan kaki sampai sejauh ini, self-motivation. Hasil memang penting, tapi bukan yang terpenting. Bagi saya, bercumbu dengan proses adalah kenikmatan tersendiri.
***
Jadi, apa pentingnya ikut Mawapres?
1. Measuring Self-Bravery
Alasan paling awal adalah untuk mengukur keberanian diri. Kita, terutama kawan-kawan Fakultas Pertanian UB, tidak hidup sendirian di dunia ini, melainkan terus bersaing setiap hari, setiap saat. Hanya mereka lah yang berani yang akan mendapatkan konfidensi atau kepercayaan diri yang kuat untuk bersaing. Jangan pernah mengasumsikan bahwa persaingan itu hanya terjadi di kampus dan dalam lingkup akademi saja, namun persaingan dapat terjadi dalam bentuk yang bermacam-macam. Dengan mengikuti mapres, paling tidak kita sudah mempersiapkan mental dan keberanian untuk bersanding dengan para mahasiswa dari universitas-universitas ternama.

2. A Very Big Chance to Explore Your Skill and Knowledge
Seperti alur seleksi yang telah ditetapkan, Mawapres tidak hanya menilai Hard-skill saja, tetapi juga Soft-skill. Setelah tiga atau empat tahun menimba ilmu di universitas, ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengetahui sejauh mana kualitas "produk" kita dan seluas apa pengalaman kita. Produk yang saya maksud adalah pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan karya ilmiah, sedangkan pengalaman yang dibuktikan dengan speech (pidato) berbahasa Inggris yang dilakukan secara impromtu (serta merta), Forum Group Discussion, dan pengalaman lain yang terekam dalam sertifikat.

3. Direct Contribution to People and Being Paragon
Mengikuti Mawapres secara tidak langsung akan membuka kesempatan bagi kita untuk berkontribusi kepada orang lain dalam bentuk motivasi. Alumni kompetisi Mawapres biasanya akan diundang untuk mengisi beberapa acara tentang bagaimana tips untuk berprestasi. Disini sebisa mungkin menjadi contoh yang baik yang mampu menginspirasi banyak orang, walaupun menjadi Mapres bukanlah akhir dari kreatifitas, karena selama kita hidup selama itulah kita diwajibkan belajar. Kontribusi lain adalah kontribusi yang ditujukan untuk universitas, tempat dimana kita menimba ilmu, mendapatkan teman-teman yang baik, dan tempat dimana kita mempersiapkan bekal untuk meraih cita-cita. Kalau kita tidak bisa membantu dalam bentuk nyata untuk mengembangkan kampus, paling tidak kita ikut membantu mengharumkan namanya di kancah Nasional maupun Internasional.

4. Self-Satisfaction and Make Your Parents Smile
Dapat mengikuti Mawapres adalah kepuasan tersendiri, setelah usaha yang keras, maka sebenarnya tidak ada ikhtiar yang sia-sia, pasti ada rasa lega dan puas dalam hati. Namun diatas itu semua, jika sudah berusaha semaksimal mungkin, hal yang paling memuaskan adalah seeing our parents smile and hearing their prayer. Pasti akan ada seuntai senyum dan sepilin doa itu yang akan membuat kita 

Dengan keyakinan dan usaha yang keras hingga mengantarkan saya menjadi Mawapres Utama Fakultas Pertanian  UB 2014 dan Top Five Mawapres  Universitas Brawijaya 2014 prosesnya dalam dibaca Disini

Jangan takut untuk menjadi mahasiswa yang berbeda, banyakin ikut event internasional dan nasional, tidak semua mahasiswa yang aktif nilai akademik nya rendah kok yang penting kita bisa bertanggung jawab akan pilihan kita. 

Banyak manfaat nya dijamin deh, setelah lulus pun mudah mendapatkan pekerjaan dan keterima di kampus Favourite jika mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Tapi yang tergantung kualitas masing-masing individu kok. 

Selamat berkompetisi di Mahasiswa Berprestasi!


Gambar 2. (Mendapatkan Medali Emas bersama Ulfah Purwaningsih )


Gambar 3. (Bersama Rektor Universitas Brawijaya)

Gambar 4. (Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Pertanian 2014)
Share:

0 komentar:

Post a Comment

안녕 하세요 감사합니다
Mannaseo pangapseumnida