Friday, June 09, 2017

Perjalanan Membawa Vivo V5s

“It’s probably in Baku, or Tehran, or even Indonesia.” . Tambahnya lagi “What?”
Dua jam sebelumnya, saya dan Adhi –teman seperjalanan saya kali ini, tiba di Iran setelah tujuh jam perjalanan dari Kuala Lumpur, menggunakan Air Asia. Dari Tehran, kami berencana untuk langsung ganti penerbangan menuju Azerbaijan dengan Azerbaijan Airlines, tanpa perlu keluar bandara, dengan memanfaatkan Transfer Desk yang tersedia di Tehran.
Dari Indonesia, kami memiliki dua buah bagasi –yang tercatat atas nama saya, dua buah tas carrier, masing-masing seberat 8 Kg dan 7Kg, yang keduanya sudah dibungkus rapi dengan plastik wrap berwarna hijau. Hijau muda, bukan hijau PKB. Kebijakan maskapai Air Asia yang menerapkan batas maksimal barang bawaan dalam kabin seberat 7 Kg, membuat kami tak punya pilihan lain selain membeli bagasi lagi.
Bagasi Air Asia
Harap maklum, kami berencana untuk pergi selama sepuluh hari, sehingga barang bawaan dipastikan akan cukup banyak, karena kami juga membawa berbagai peralatan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Dalam carry on bag, saya membawa berbagai dokumen perjalanan (paspor, visa, uang, bukti pemesanan hotel, dll), peralatan fotografi (lensa, baterai, charger), kebutuhan elektronik (universal adapter, kabel, buku bacaan, juga handphone Vivo V5s dengan Sleek Unibody Design yang menawarkan sisi desain ramping, dengan panel samping dan tepi lengkungan yang melengkung indah.
Sementara, pada tas carrier yang masuk ke bagasi, saya membawa kebutuhan pakaian selama perjalanan (beberapa potong kaus, termasuk jersey original Atletico Madrid dengan sponsor Azerbaijan: Land of Fire, yang baru saya beli dua minggu sebelum keberangkatan, beberapa buah celana termasuk dua sempak baru (dengan teknologi cepat kering) seharga ratusan ribu, pakaian hangat, sandal, hingga jas hujan), tripod, obat-obatan, dan peralatan mandi.
Adhi, tak jauh beda dari saya, dia meletakkan sebagian besar pakaiannya ke tas carrier yang masuk ke dalam bagasi, sementara pada carry on bag, dia membawa sedikit pakaian, laptop, alat pemijat punggung, fidget kit, timbangan elektronik, hingga troli lipat. Iya, begitulah.
“Bagasinya 800 ribu ya, Mas.” Ucap petugas darat Air Asia di Soekarno Hatta Airport, Kamis 11 Mei 2017 sekitar pukul sepuluh pagi, ketika kami akan memulai perjalanan tersebut. “Nanti langsung ke Tehran, gak perlu diambil di Kuala Lumpur.”
“Oh, baiklah.” Jawab saya, sama sekali tidak menyangka bahwa akan terjadi drama bagasi dalam perjalanan kali ini.
Ketika tiba di Tehran pada tengah malam –bersama puluhan orang lainnya, kami langsung menyerahkan paspor, bukti pemesanan tiket ke Baku, e-Visa Azerbaijan yang sudah kami buat sebelumnya kepada petugas transfer desk yang berjaga di sana.
Petugas tersebut, seorang pria berkumis dengan jambang tipis –yang mengingatkan saya dengan Zachary Quinto, mengambil dokumen kami beserta dokumen para penumpang lain yang satu penerbangan lanjutan dengan saya.
Tehran Airport
“You wait here, and I will call you one hour before the flight.”
“I have two baggages.” Saya menjelaskan kepadanya, sambil memberikan tag bagasi yang saya dapat dari petugas bandara Soekarno Hatta.
“No problem, your baggages will fly directly to Baku.” Sebuah jawaban yang membuat saya tenang dalam penantian, karena informasi yang saya dapat sebelumnya, mengatakan bahwa apabila berencana untuk transit di Tehran, maka sebaiknya diusahakan tanpa bagasi, supaya tidak rumit prosesnya.
Pada ruangan luas tersebut, saya beserta para penumpang lain, termasuk beberapa backpacker dari Malaysia, dan seorang solo traveler asal Indonesia, Mathilda, menunggu penerbangan lanjutan. Sambil menanti, saya mengambil Vivo V5s dari tas, dan memanfaatkan Wi-Fi gratis di bandara.
“Lumayan, bisa kirim perfect selfie ke istri nih.”
Ya, Vivo V5s hadir dengan teknologi Selfie Softlight Terbaru dengan kamera depan berukuran 20 Megapixels yang mampu membawa teknologi selfie ke tingkat berikutnya dengan menghadirkan Crystal-Clear Selfie dengan tajuk “Perfect Selfie”.
Selain itu, update pada Selfie Softlight menawarkan solusi yang lebih baik untuk menangkap kulit cerah dalam setiap selfie yang saya lakukan. Tidak peduli malam hari maupun siang hari, dengan Selfie Softlight V5s terbaru, wajah saya akan terlihat semakin bersinar, glowing, apalagi selepas Jumatan.
Satu jam kemudianpetugas bandara lain meminta kami untuk naik ke lantai atas, dan menanti di Boarding Room. Tak lama, seorang petugas klimis dan berperut sedikit tambun telah siap dengan paspor dan boarding pass yang telah dicetaknya, dan mulai memanggil kami satu persatu.
“Muhammad Arif Rahman!” Serunya, dan saya maju untuk mengambil paspor serta boarding pass Azerbaijan Airlines yang sudah di-check-in-kan oleh si petugas berkumis.
Tehran Airport
Saya mengamati sekilas boarding pass yang telah saya pegang, “Where is my baggage tag?” saya mengajukan pertanyaan yang membuat sebelah alisnya terangkat.
“No problem, your baggage will fly directly to Baku.”
“Are you sure?” Tanya saya kembali untuk memastikan, karena nasib perjalanan saya sangat tergantung dengan bagasi tersebut.
“Yes, no problem.”
Saya melirik kembali boarding pass yang baru saja saya dapat, sebuah boarding pass Azerbaijan Airlines tanpa baggage tag. Pada balik boarding pass tersebut, saya mendapat sebuah keterangan bahwa penumpang Economy Class (iya, saya), akan mendapat Free 8 Kg Cabin Baggage, beserta tambahan sebuah personal item.
DHEG! Saya memandangi lekat-lekat boarding pass tersebut. Kok tidak ada kata-kata free baggage ya? Apa jangan-jangan kami harus membeli bagasi lagi untuk penerbangan tersebut? Masa iya, pesawat nomor satu di Azerbaijan ini tidak memberikan bagasi gratis untuk penumpangnya?
Tehran Airport
Beberapa pertanyaan tersebut terus menggantung tanpa jawaban, bahkan hingga saya sudah berada di pesawat dan diminta turun kembali karena pesawat terpaksa delay beberapa jam akibat cuaca buruk di Baku.
Selepas turun dari pesawat, kami berjumpa kembali dengan si Zachary Quinto, dan kali ini Adhi yang bertanya mengenai bagasi, karena kami mengalami kegelisahan yang sama karena bagasi ini.
“I’m sorry, we can’t check in your baggage, because you haven’t bought the additional baggage.” Jawabnya. Sebuah jawaban yang tentunya membuat kami panik.
“WHAT?” Kalau memang begitu kasusnya, kenapa tidak bilang ketika kami transit tadi? Kenapa main oke oce saja, ketika kami bilang bahwa kami mempunyai bagasi yang juga harus ditransfer? “So what happens with our baggage?”
“We will send them to your last destination.” Tanpa dosa, dia menjawab. “Your baggage will arrive maximum 48 hours on your last destination.
“Where is the last destination?” Saya bertanya kembali, “We will go to Baku, Tbilisi, Yerevan, Tehran, and go back to Indonesia, after 10 days.”
“It’s probably in Baku, or Tehran, or even Indonesia.”
Merasa tidak puas dengan jawaban si Zachary Quinto, kami mencari petugas resmi dari Azerbaijan Airlines yang bertugas di Bandara Tehran, dan menemukan seorang wanita, yang bertampang galak, entah karena memang galak, sedang period, atau karena kurang tidur –saat itu pukul tiga pagi.
Jawabannya, “Your baggage will fly with you to your last destination.”
“To Baku?”
“Yes, if you fly to Baku.”
Hmm, aneh, kenapa dua orang petugas mempunyai jawaban yang berbeda. Ketika menunggu jadwal terbang berikutnya akibat delay, kami mendatangi kembali si Zachary Quinto, dan jawaban dia tetap sama. Bagasi kami tidak ikut terangkut karena kami tidak membeli bagasi tambahan –senilai 25 Euro.
Pembelaan kami, ya kami tidak tahu kalau ternyata harus membeli bagasi lagi. “Can we buy it now?”
“No you can’t. The counter is closed now.” Ucapnya, “You can contact the Lost and Found Counter when you arrived in Baku. They will help you.”
“Huh?”
Tak puas kembali dengan jawabannya, saya mencari si petugas wanita, dan mengajukan pertanyaan yang sama, namun kali ini, jawabannya yang keluar darinya sungguh mengejutkan, mengingat posisinya adalah seorang petugas darat resmi dari maskapai, yang seharusnya dapat mewakili citra Azerbaijan Airlines, maskapai nomor satu di Azerbaijan.
“LISTEN TO ME, SIR. THIS IS MY LAST TIME I TELL YOU.” Ujarnya, sedikit membentak “YOUR BAGGAGE WILL COME WITH YOU.”
“In Baku?”
“YES IN BAKU, OR WHEREVER IS YOUR LAST DESTINATION.”
Tanpa sempat menjelaskan kekhilafan kami karena lupa membeli bagasi, petugas tersebut langsung menjawab seperti itu, dan meminta kami untuk langsung masuk ke ruang tunggu untuk menanti penerbangan yang tertunda.
Beberapa jam kemudian, kami mendarat di Baku, dengan keadaan letih karena belum beristirahat dengan baik, juga karena kepikiran masalah bagasi. Adhi sempat memberikan angin sejuk ketika dia mengatakan melihat bagasi kami diturunkan dari pesawat dan dibawa dengan mobil pengangkut barang, namun nyatanya, kami tidak menemukan bagasi kami di belt.
Seperti instruksi sebelumnya, kami langsung menuju ke bagian Lost And Found Heydar Aliyev Airport, Baku, dan menanyakan nasib bagasi kami. Petugas di sana berkata bahwa kami dapat menghubungi kantor Azerbaijan Airlines di bandara sebelah, di mana kantor buka pukul sembilan pagi, sementara saat itu baru pukul tujuh.
Sambil menanti, kami bergerak keluar terminal kedatangan di salah satu bandara terindah yang pernah saya kunjungi tersebut, dan mencari counter yang menjual SIM-Card lokal, untuk digunakan selama perjalanan kami di Azerbaijan. Pilihan kami saat itu jatuh kepada Azercell yang
mempunyai SPG yang cantik memberikan paket data 10 GB dan 20 menit telepon internasional seharga 17 Manat, atau sekitar 140.000 Rupiah.
Vivo V5s
Saya memasukkan SIM-Card lokal tersebut ke Vivo V5s dan menggunakannya sebagai personal hotspot untuk memayungi beberapa gawai yang saya dan Adhi bawa.
Sambil menunggu kantor buka, kami melakukan pekerjaan masing-masing dengan laptop dengan menggunakan data yang dipancarkan dari Vivo V5s tersebut. Saya bahkan berhasil menyelesaikan satu buah blogpost pagi itu, tentang e-Visa Georgia.
Di dalam kantor Azerbaijan Airlines, saya mendapati dua buah fakta, yang pertama adalah kantor memang buka mulai pukul sembilan pagi, sementara fakta kedua adalah bahwa memang wanita Azerbaijan cantik-cantik, yang dibuktikan dengan penampakan tiga orang petugas wanita dalam ruangan tersebut, yang memiliki kecantikan layaknya supermodel. Miss Universe, bukan Trubus.
Kembali, Adhi menceritakan kasus yang menimpa kami, dan menanyakan bagaimana tindakan yang dapat kami ambil. Oleh petugas di sana, kami diminta untuk menceritakan kasus tersebut via email resmi, sambil menanti jawaban dari mereka.
Sebuah saran yang langsung saya lakukan saat itu juga, sambil sarapan pagi di restoran yang terletak tak jauh dari sana. Selain mengirimkan email resmi ke pihak Azerbaijan Air, saya juga simultan menanyakan penanganan bagasi oleh petugas darat Air Asia di bandara Tehran melalui form aduan di situs resmi mereka, juga melalui media sosial.
Praktis, setengah hari pertama kami di perjalanan kali ini dihabiskan untuk memikirkan masalah bagasi yang tersangkut entah di mana.
Baku Airport
Sungguh, saat itu kami bagaikan Padi yang sedang Menanti Sebuah Jawaban. Kami menanti jawaban dari pihak Air Asia, sambil mendatangi petugas Bandara Baku kembali –karena email yang tidak kunjung mendapat jawaban, juga melakukan international call dengan Vivo V5s ke Iran (untuk menanyakan langsung ke petugas Lost and Found di Bandara Tehran) juga Malaysia (untuk menanyakan ke kantor pusat Air Asia di sana).
Dalam kasus ini, memang ada beberapa pihak yang saya anggap melakukan kesalahan: yaitu kami yang tidak tahu bahwa diharuskan membeli bagasi lagi, petugas darat Bandara Tehran yang tidak memberi tahu kami mengenai biaya tambahan untuk bagasi, juga petugas Azerbaijan Airlines yang membiarkan kami terlunta-lunta tanpa jawaban.
Lalu, apakah sudah ada kepastian hingga saat ini? Pada saat artikel ini ditulis di dalam kabin pesawat Ukraine International Airlines dalam perjalanan Kiev – Tehran di tanggal 20 Mei 2017, kami telah mendapat dua jawaban yang berbeda dari masing-masing maskapai.
Pihak Azerbaijan Airlines mengatakan bahwa bagasi kami saat ini sedang berada di Paris dan akan dikirim ke Baku dalam 1-2 minggu, sementara Pihak Air Asia mengatakan bahwa bagasi kami saat ini sudah berada di Kuala Lumpur dan dapat diambil dalam perjalanan pulang.
Bagaimana dengan pihak Bandara Tehran? Lupakan saja, karena telah beberapa kali dihubungi ke beberapa nomor yang tersedia, selalu dijawab oleh mesin penjawab yang tidak memberikan opsi bahasa Inggris.
UPDATE: Bagasi kami telah kembali, begitu kami mendarat di Soekarno Hatta Airport, sepulangnya dari Tehran di tanggal 22 Mei 2017. Adalah pihak Air Asia yang memulangkan bagasi kami ke Jakarta. 

Ya betul, selama perjalanan sepuluh hari lebih tersebut, saya jalan tanpa pakaian dan peralatan mandi (yang dibawa dari Jakarta).

Kemudian, bagaimana nasib perjalanan kami tanpa adanya bagasi, sempak, dan jersey Atletico Madrid yang mahal itu? Ya, walaupun kami diharuskan membeli beberapa keperluan pokok yang tertinggal di dalam bagasi –seperti pakaian dan peralatan mandi, namun kami harus tetap happy dalam perjalanan, kan ada Vivo V5s yang kece ini!

Share: