Tuesday, June 13, 2017

Hidup Sekali, Bearti, Lalu Mati


"Besok kita jadi bukber ya, di tempat yg kemarin udah aku reserved"

Aku menutup aplikasi line setelah memastikan teman segrup mengiyakan. Beralih ke aplikasi kalender: besok bukber jurusan, lusa bukber unit, weekend bukber sma. Melewati tengah ramadhan, ajakan bukber masih saja padat. Sebelum pada pulang kampung katanya.

---

Namun malang, ternyata aku yang lebih dulu 'pulang'.

Bukber hari itu ditiadakan.
Teman-temanku berombong datang ke rumahku. Teman dekatku menangis, yang lain matanya sembab.

Lalu apa?

Semua grup line yang aku ikuti berisikan ribuan ucapan belangsukawa terindah.
Post berisikan wajahku dgn caption kenangan terbaik ramai memenuhi instagram.
Oh belum lagi ratusan notifikasi ucapan kangen dan tidak percaya aku telah tiada yang membludak di kolom komentar instagramku.
Dan papan bunga dengan namaku yang berdiri di depan gerbang kampus tercinta.

Lihat, begitu banyak orang yang mencintaiku. Tidak sia-sia aku sering menghabiskan waktu bonding dengan mereka, bukan?

---

I wish I could say that.

Namun kehidupan akhirat nyatanya tidak seindah itu.

Ucapan belasungkawa, post instagram, serta komentar kangen mereka di media tidak cukup kuat untuk menembus ke bawah tanah ini. Aku bahkan tidak tahu menahu itu ada.

Ratusan teman dan rekan di kampus katanya.
Aku di gelapnya kubur menunggu cahaya doa dari mereka-mereka yang lama kuhabiskan waktu dengannya.
Namun berapalah titik cahaya yang datang langsung dari doa di atas sajadah, bukan di atas keyboard?
Mungkin hitungan jari. Atau kurang.

Kemana kalian?
Bukankah kita sudah terlampau sering melakukan bonding bersama?
Bercanda dan terbahak bareng, nonton bareng, makan bareng, jalan bareng, kegiatan ini kegiatan itu, dan kau juga sudah menyebutku sebagai keluarga, ingat?

Atau memang selalu dan hanya akan sebatas ini sejak dulu.
Yang hidup di dunia akan tetap berkutat dengan dunianya.
Sedikit demi sedikit kenangan tentangku akan lenyap dihanyutkan kesibukan dunia.
Sebulan, setahun, lalu habis.

Dan tinggallah aku yang kan pergi mempertanggungjawabkan diri di akhirat.
Sendiri.

Kalaulah dahulu diperlihatkan seintip kehidupan akhirat yang nyata,

Pastilah aku akan memilih bonding dengan Sang Pencipta dibandingkan dengan makhluk-Nya.
Akan menggantikan belasan bukber yang sering tercampur bumbu ghibah itu dengan dzikir petang atau berkumpul dengan keluarga.
Akan menggantikan tidur sehabis subuh itu dengan dzikir pagi.
Akan menggantikan waktu marathon film itu dengan marathon hafalan Al-Quran.
Dan tentu tidak akan menyia-nyiakan bulan Ramadhan ini dengan amalan sekedarnya.

Bahkan tanpa diperlihatkan pun sebenarnya aku tahu, namun sering berpura lupa dan acuh mengabaikannya.

Hingga waktuku habis dan datanglah hari penyesalan ini.

---

Apalah artinya banyak tertawa bersama makhluk, jika menjadikan kita lupa untuk menangis kepada-Nya

“Andai kalian tahu apa yang aku tahu, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari dan Muslim)

#selfreminder
#ceritapendek

EPILOG:
Kudengar bukber di hari 'kepulanganku' itu diundur menjadi minggu depan. Tak ada yang berbeda, hanya berkurang satu kursi dari meja. Ternyata tanpaku pun mereka tetap bisa ramai dan banyak tertawa.
Share: