Friday, May 05, 2017

Mawapres, Are You Brave Enough?


Ada banyak spekulasi yang beragam diluar sana saat saya berdiskusi atau tidak sengaja mendengar tentang Mahasiswa Beprestasi (Mawapres). Beberapa waktu yang lalu saat saya duduk lesehan menikmati masakan nasi padang sekitar UB, ada beberapa mahasiswa yang duduk bersebelahan dengan saya berkata kurang lebih seperti ini, "Eh, kandane rika meh daptar mawapres yak? lha mbuh nyong jek bingung, kayane angel (Eh, katanya kamu mau daftar mawapres? blom tau, kayaknya susah deh). Ketakutan serupa ternyata juga banyak dialami mahasiswa lain saat saya beberapa kali diundang untuk mengisi workshop atau diskusi mengenai mawapres.

Hal ini sontak mengingatkan saya akan "kegagapan" saya dulu pada saat awal-awal mengikuti mawapres. Saat itu mindset yang ada dalam pikiran saya adalah mawapres hanya untuk kalangan mahasiswa "eksklusif" dengan IPK 4.0, aktif, dan menang lomba sana-sini. Saya merasa saya bukan golongan dari mahasiswa seperti itu dan mungkin belum siap terlibat di kompetisi itu (ditambah lagi, apa iya mahasiswa pertanian seperti saya bisa bersanding dengan mahasiswa kedokteran, HI, hukum, dll?). Apalagi setelah saya cari tahu kandidat dari fakultas lain ternayata ada yang sudah mempersiapkannya bahkan sejak hampir setahun yang lalu dan melakukan pelatihan panjang, yah... it made me feel so small. Beruntung waktu itu saya dekat dengan mbak/mas senior yang terus menyemangati dan memotivasi saya. Sedikit demi sedikit saya mencoba mematahkan ketakutan itu dan memulai langkah berani, resiko kalah atau malu? ah.. itu dipikir nanti saja dan lagian saya juga sudah terbiasa kalah dan sedikit malu hahahaha, setidaknya saya unggul untuk masalah berani bersaing dan berani bekerja ekstra. Seperti kata Andresen dalam puisinyaTake The Leap,

Realize, you have some "skills", it is time to put into practice
Give joy to a face full of tear and sadness, really.
...
Also, two help with all the good things we do in this journey
let go off the luggage from all our past lives, really.
...
Create your own life and not just survive

Ya.. kira-kira itu yang saya lakukan untuk berani menjejakkan kaki sampai sejauh ini, self-motivation (terus memotifasi diri). Hasil memang penting, tapi bukan yang terpenting. Bagi saya, bercumbu dengan proses adalah kenikmatan tersendiri.

***

Jadi, apa pentingnya ikut Mawapres?

Jujur saja, kompetisi ini memang tidak sesederhana kompetisi lain. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan dan jenjang seleksi dari jurusan sampai nasional. Penilaianpun dilakukan berdasarkan Karya Tulis Ilmiah, Bahasa Inggris, Kemampuan Unggulan (dibuktikan dengan 10 sertifikat yang diunggulkan), psikologi, dan IPK (tidak dinilai di tingkat nasional). Entah kebetulan atau apa, saya bersyukur dulu saya dari semester awal mengikuti beberapa organisasi dan mewakili beberapa lomba (itung-itung biar sertifikat yang udah didapat nggak nganggur, hehe). Walaupun proses seleksi panjang dan penilaiannya diambil dari banyak aspek, tapi dalam praktiknya nggak berat-berat amat, rasanya persis kalau lagi dapat tugas kuliah, yang penting tidak banyak mengeluh.. cause there's nothing in vain. So, ada beberapa alasan untuk mengikuti kompetisi ini.

1. Measuring Self-Bravery

Alasan paling awal adalah untuk mengukur keberanian diri. Kita, terutama kawan-kawan FP UB, tidak hidup sendirian di dunia ini, melainkan terus bersaing setiap hari, setiap saat. Hanya mereka lah yang berani yang akan mendapatkan konfidensi atau kepercayaan diri yang kuat untuk bersaing. Jangan pernah mengasumsikan bahwa persaingan itu hanya terjadi di kampus dan dalam lingkup akademi saja, namun persaingan dapat terjadi dalam bentuk yang bermacam-macam. Dengan mengikuti mapres, paling tidak kita sudah mempersiapkan mental dan keberanian untuk bersanding dengan para mahasiswa dari universitas-universitas ternama.

2. A Very Big Chance to Explore Your Skill and Knowledge

Seperti alur seleksi yang telah ditetapkan, Mawapres tidak hanya menilai hard-skill saja, tetapi juga soft-skill. Setelah tiga atau empat tahun menimba ilmu di universitas, ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengetahui sejauh mana kualitas "produk" kita dan seluas apa pengalaman kita. Produk yang saya maksud adalah pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan karya ilmiah, sedangkan pengalaman yang dibuktikan dengan speech (pidato) berbahasa Inggris yang dilakukan secara impromtu (serta merta), Forum Group Discussion, dan pengalaman lain yang terekam dalam sertifikat.

3. Direct Contribution to People and Being Paragon

Mengikuti mawapres secara tidak langsung akan membuka kesempatan bagi kita untuk berkontribusi kepada orang lain dalam bentuk motivasi. Alumni kompetisi mawapres biasanya akan diundang untuk mengisi beberapa acara tentang bagaimana tips untuk berprestasi. Disini sebisa mungkin menjadi contoh yang baik yang mampu menginspirasi banyak orang, walaupun (biasanya saya menyampaikan bahwa) menjadi mapres bukanlah akhir dari kreatifitas, karena selama kita hidup selama itulah kita diwajibkan belajar. Kontribusi lain adalah kontribusi yang ditujukan untuk universitas, tempat dimana kita menimba ilmu, mendapatkan teman-teman yang baik, dan tempat dimana kita mempersiapkan bekal untuk meraih cita-cita. Kalau kita tidak bisa membantu dalam bentuk nyata untuk mengembangkan kampus, paling tidak kita ikut membantu mengharumkan namanya di kancah nasional maupun internasional.

4. Self-Satisfaction and Make Your Parents Smile

Dapat mengikuti Mawapres adalah kepuasan tersendiri, setelah usaha yang keras, maka sebenarnya tidak ada ikhtiar yang sia-sia, pasti ada rasa lega dan puas dalam hati. Namun diatas itu semua, jika sudah berusaha semaksimal mungkin, hal yang paling memuaskan adalah seeing our parents smile and hearing their prayer. Pasti akan ada seuntai senyum dan sepilin doa itu yang akan membuat kita

beberapa waktu yang lalu ketika jam kuliah ilmu penyakit tanaman ada dosen saya memberikan motivasi yang menarik tentang mahasiswa beliau sangat muda sebut saja mas Fery dan pemotivator kayaknya hehe, saya ingat ketika beliau bilang jangan jadi Mahasiswa yang biasa biasa saja jadilah Mahasiswa berbeda sejak itu saya berfikir aku harus lebih berbeda lagi dari sebelumnya. manfaatkan statusmu selagi menjadi Mahasiswa jangan menyesal dikemudian hari kata Pak Aminudin :) 

Dengan keyakinan dan usaha yang keras hingga mengantarkan saya menjadi Mawapres Utama Fakultas Pertanian 2014 dan 5 Besar Mawapres Universitas Brawijaya 2014 serta terbaik di beberapa kategori penilaian. 

Semua itu tidak terlepas dari Izin Allah SWT, Ridho Orang tua, teman teman yang membantu saya, dosen pembimbing yang banyak memberikan masukan serta dosen2 yang selalu memberikan motivasinya.
Berkat teman2 saya bisa mengejar ketertinggalanku dalam kuliah karna sering dispen 
SELAMAT BERKONTRIBUSI DAN BERJUANG DI MAHASISWA BERPRESTASI BERIKUTNYA

Sertifikat Mapres FP UBSertifikat Mapres FP UB
5 besar Mawapres UB5 besar Mawapres UB
Share:

0 komentar:

Post a Comment

안녕 하세요 감사합니다
Mannaseo pangapseumnida