Saturday, April 22, 2017

Tips Mencari Professor di Jepang

TIPS MENCARI PROFESSOR DI JAPAN


Tulisan ini insya Allah akan melengkapi beberapa tulisan terdahulu mengenai langkah langkah yang perlu ditempuh untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri (khususnya ke Jepang) bagi rekan-rekan yang membutuhkannya. Penjelasan di sini berlaku sangat umum, sehingga perbedaan dalam kondisi “real”-nya kemungkinan masih akan ditemui. Rekan-rekan tinggal menyesuaikannya saja.
Salah satu hal penting dalam proses aplikasi untuk lanjut studi ke Jepang adalah mencari Professor/pembimbing potensial yang bersedia menerima kita untuk bergabung bersama grup atau laboratoriumnya. Banyak yang bingung atau sering melakukan kesalahan minor dalam proses pencarian professor ini, terlebih saat proses komunikasinya. Berikut akan saya coba jelaskan kira-kira langkah apa saja yang perlu ditempuh agar komunikasi dengan Professor dapat berjalan dengan lancar.

SIAPKAN STUDY PLAN DAN RESEARCH PLAN/RESEARCH PROPOSAL


Ini langkah penting yang sepertinya perlu sekali disiapkan sebelum mengkontak Professor yang kita inginkan. Karena akan bagus sekali kalau kita bisa menyertakan rencana studi dan rencana penelitian kita bersamaan dengan e-mail perdana saat mengontak Professor tersebut. Biasanya Professor akan meminta gambaran study plan dan research plan yang kita miliki. Maka menyiapkan rencana studi dan rencana riset yang baik kiranya perlu dilakukan.
APA BEDANYA ANTARA STUDY PLAN DENGAN RESEARCH PLAN?
Study plan (rencana studi) adalah gambaran aktivitas apa saja yang akan kita lakukan dan apa tujuan yang ingin kita raih selama proses studi kita itu. Misal, jika Anda apply untuk S2, maka selama 2 tahun apa saja yang ingin Anda tempuh/lakukan berkaitan dengan bidang studi Anda (misalnya: ikut kelas utk dapat SKS, belajar teknik ini dan itu, nulis dan publikasi paper dan lain-lain), sertakan timeline (kronologis waktu) selama proses masa studi yang akan Anda tempuh itu. Sementara Research plan (rencana penelitian) adalah gambaran detail dan spesifik kira-kira selama masa studi Anda (misal S2), penelitian apa yang ingin Anda lakukan dan apa harapan dari penelitian itu nantinya. Sertakan juga timeline kegiatan risetnya kira-kira seperti apa.
Untuk dua hal ini, Anda tidak perlu membuat terlalu banyak tulisan. Singkat, Jelas, dan Padat serta gunakan bahasa Inggris yang baik. Sekiranya maksimal 5-7 halaman untuk masing-masing berkas di atas adalah ukuran yang pas, mengingat banyak Professor potensial yang seringkali tidak punya waktu banyak untuk membaca sehingga pembahasan/penggunaan kata-kata yang bertele2 bisa mengakibatkan tidak minatnya beliau terhadap calon pelamar, padahal bisa saja ide/gagasanya bagus sekali, namun penyampaiannya yang tidak pas.
Originalitas ide/gagasan adalah kuncinya dan seberapa besar impact penelitian itu nantinya yang akan membuat sebuah research plan/proposal menjadi sesuatu yang menarik. Untuk itu Anda perlu banyak membaca literatur dan berbagai sumber mengenai update terkini dalam bidang yang ingin Anda tekuni. Siapkan juga CV yang lengkap dan bagus sehingga calon Professor potensial pun bisa melihat gambaran diri Anda seperti apa.

MENCARI PROFESSOR POTENSIAL

Anda bisa mencari calon Professor potential melalui banyak cara. Antara lain:

a.) Melalui jurnal-jurnal ilmiah internasionalatau situs penyedia jurnal-jurnal internasional tersebut (semisal http://www.sciencedirect.com). Jika Anda memiliki print out atau file jurnal ilmiah yang menurut Anda sesuai dengan bidang yang ingin Anda tekuni nantinya, maka Anda bisa melihat halaman terdepan paper/jurnal dan menemukan alamat e-mail correspondent-nya atau melihat dalam urutan penulis jurnal itu, nama siapa yang paling belakang. Biasanya nama Professor ada di urutan paling belakang. Sementara e-mail correspondent-nya bisa jadi adalah E-Mail penulis pertama dan utama yang merupakan mahasiswanya, tapi tak jarang email correspondentnya adalah si Professor itu sendiri. Selanjutnya Anda tinggal membuka Google dan mengetikkan namanya disertai dengan afiliasinya di institusi mana untuk memastikan bahwa orang yang dimaksud adalah benar-benar Professornya. Sebagai contohnya:

 Misal Anda menemukan jurnal / situs ini yang kira-kira bidangnya cocok dengan Anda (ini hanya contoh, sesuaikan dengan bidang Anda!)
Anda bisa melihat bahwa penulisnya ada dua yaitu Yoshihito Takano dan Takeo Horiguchi (Professor-nya). Afiliasinya adalah Hokkaido University. Email korespondensinya ada di bagian bawah halaman pertama.
Maka Anda tinggal mencari profil dan lab-nya di internet dan mempelajarinya.
b.)  Langkah kedua, Anda bisa mencari Professornya dengan mencoba mengunjungi alamat situs2 universitas di Jepang dan browsing satu-persatu halamannya hingga menemukan profil Professor atau Lab-nya. Anda bisa mencoba dengan memasukkan kata kunci di Google misalnya: List of University in Japan dan yang senada.
Biasanya alamat websitenya tersedia dalam bahasa Inggris, namun ada juga yang hanya menyediakan bahasa Jepang, tinggal menginstal plug-in google translator atau semacamnya untuk mendapatkan gambaran translasi halaman web-nya ke dalam bahasa Inggris atau lainnya. Cara ini terkadang menyita waktu banyak, karena kita perlu browsing dan membaca profilnya apakah sesuai atau tidak. Terkadang tidak semua universitas di Jepang memiliki bidang yang kita inginkan.
c.)   Langkah yang ketigaAnda bisa bertanya ke kakak kelas/dosen yang sedang berada di Jepang apakah mereka memiliki info mengenai Professor potensial yang sesuai dengan bidang Anda atau tidak. Terkadang cara ini juga dapat membuahkan hasil yang bagus.
d.)  Langkah lainnya yang bisa Anda tempuh adalah dengan berkenalan dengan Professor saat ada konferensi / seminar internasional / proyek kunjungan mereka ke Indonesia. Sekiranya bidangnya tidak sesuai dengan Anda, tidak ada salahnya jika bisa mendapat kontak (kartu nama) beliau dan bertanya nantinya apakah beliau mengenal rekan Professor yang memiliki bidang yang ingin Anda tekuni. Terkadang mereka akan dengan senang hati mengenalkan dengan koleganya, meski tak jarang juga mereka tidak memiliki kenalan dengan bidang yang Anda maksud. Tapi tak ada salahnya mencoba, bukan?!
Sekiranya Anda telah menemukan Professor potensial yang cocok dengan bidang yang ingin Anda tekuni, tinggal mencoba mengkontak sang Professor dengan alamat e-mail yang tercantum dalam jurnal atau website Lab-nya dengan menyertakan rencana studi dan proposal penelitiannya.

MENJALIN KOMUNIKASI DENGAN CALON PROFESSOR POTENSIAL

Salah satu langkah penting namun sering disepelekan dan akhirnya berbuah pada kegagalan mendapatkan Professor di Jepang adalah: Proses komunikasi. Komunikasi yang kita lakukan dengan calon Professor biasanya berlangsung melalui e-mail (komunikasi pasif / tertulis), sehingga ada tata krama atau aturan umum yang perlu kita ikuti.
Usahakan selalu menuliskan email dengan format berikut: Salam pembuka, introduksi (misal pengenalan diri secara singkat), bagian inti (apa tujuan mengkontak, misal tertarik dengan bidangnya dan ingin melanjutkan studi ke Jepang), Penutup (misalnya dengan menyebutkan bahwa Anda menyertakan file rencana studi dan proposal riset) serta salam penutup. Usahakan semuanya dalam format penulisan yang jelas, singkat, dan padat (efektif dan efisien). Kira-kira e-mailnya seperti ini (silakan disesuaikan):
SUBJECTS: Asking the possibility to enroll as graduate student in your laboratory
Dear Professor (Sebutkan namanya)
My name is Agung Wicaksono. I graduated from Departement of Plant Pests and Diseases (Laboratory of Bacteriology) Faculty of AgricultureBrawijaya University in Indonesia.
I completed my bachelor program (B.Sc) in 2015 and joined short visiting research course in the bioorganic chemistry laboratory, Faculty of Agriculture, Seoul National University, Korea in 2015. I am very eager to continue my study for a higher degree.
My thesis is about optimizing of agrolyzer (Urea, Triple Super Phosphate (TSP), and ZA) for the growth of Chlorella sp. in laboratory culture. The research is intended to find the best combination of the three agrolyzer to meet the fastest and highest mass culture for the current strains. Further use of this research is mean to be applied for the discovery of potential microalgal bioactive compound and bio energy development using photobioreactors (PBR).
Currently I work independently on my small-scale project in developing photobioreactor for the mass culture of microalgae by implementing the result of my former research activities. Unfortunately, there are only few phycologist in Indonesia who worked in this field, hence the information, basic skills and research design needed are difficult to be acquired. My supervisors recommend me to continue my study this knowledge and skills from abroad and I am looking for possibilities to join your laboratory as graduate student.
I have read from the website of your university that there is a chance to enroll for master degree through the Japanese Government Scholarship in 2015, and I am eager to try my best for it.
I should be grateful and feel honored if I you would give me the chance to join into your laboratory.
I enclose a Curriculum Vitae, study plan and my research proposal (in PDF file), please let me know if you are interested and require any further details or documents. I hope to hear from you in the near future.
Thank you very much in advance,
Sincerely,
Agung Wicaksono
Email di atas saya tulis ketika tengah mencari jalan untuk short course ke Jepang tahun 2014 silam. Alhamdulillah setelah beberapa kali proses pencarian Professor. dan mirip prosesnya ketika saya mengikuti short course di Seoul National University, South Korea pada tahun 2015

Kesalahan minor yang sering dilakukan ketika menulis e-mail adalah: Bertele-tele dalam menuliskan e-mail perkenalan, misalnya dengan menyebutkan hal-hal yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan rencana studi Anda. Misalnya menceritakan bahwa bisa lanjut studi ke Jepang adalah IMPIAN Anda sejak kecil… well  memiliki impian studi ke Jepang memang bagus… tapi dalam kasus ini (menjalin komunikasi dg Professor) sepertinya tidak perlu untuk disebutkan saat ini Lainnya, misalnya Anda menceritakan bahwa Anda tertarik ke Jepang karena budayanya, iklimnya, dan lainnya yang tidak secara langsung berkaitan dengan riset / studi Anda. Kecuali bidang studi Anda adalah Kebudayaan Jepang/Sastra Jepang, maka hal di atas perlu dihindari, karena bisa mengkesankan bahwa Anda sebenarnya “kurang” bisa fokus ke studi dan riset utamanya. Perlu diingat bahwa kita ke Jepang untuk studi dan bukan jalan-jalan… jikapun kita memang tertarik dengan suasana Jepang… anggap saja itu adalah hal yang sifatnya tambahan/bonus saja. Tunjukkan bahwa kita itu memang berminat untuk studi dan serius dengan bidang kita selama di Jepang nantinya.
·      Penggunaan bahasa yang kurang baku (baik struktur kalimat atau katanya). Bagi yang kira-kira lemah dalam hal ini, alangkah baiknya jika sebelum mengirim Email, Anda minta bantuan teman/dosen atau lainnya untuk mengecek tulisannya apakah oke atau tidak. Anda bisa juga melihat berbagai contoh tulisan surat/Email di internet. PEDE memang bagus… tapi kalau terlalu PEDE dengan tulisan bahasa Inggrisnya sampai lupa untuk re-check struktur dan lainnya… bisa-bisa itu nantinya membuat kesan Anda kurang baik di mata Professor, karena beliau akan menilai bahasa Inggris Anda kurang bagus.
·      Kadang saya menemukan ada adik kelas atau rekan di Facebook yang menulis status dalam bahasa Inggris, tapi strukturnya kacau balau dengan alasan yang penting PEDE hehe… (tenses-nya yang seharusnya past tense jadi digabung dengan future dan lainnya… kesannya jd kurang mengena hehe… tapi kalo kita bantu koreksi malah berpotensi salah persepsi dan akhirnya berdebat gak perlu hehe… yang satu niatnya baik ingin mengoreksi tapi disalahartikan oleh yg satunya lagi sebagai bentuk “penghinaan” di forum umum karena dianggap gak bisa berbahasa Inggris… hehe).
·      Terkadang tidak selalu berhasil mendapatkan Professor dalam percobaan pertama mengirim E-Mail. Terkadang tidak dibalas atau terkadang balasnya bisa lama sekali. Ada banyak faktor tentunya mengapa demikian. Misal: Si Professor memang terlewat membaca e-mail Anda, atau beliau sedang tidak ingin/tidak bisa menerima mahasiswa asing / baru di lab-nya, bisa jadi beliau sedang berada di luar, dan lainnya… Yang penting terus mencoba.
·      Sekiranya Anda mendapatkan balasan positif bahwa calon professor potensial bersedia menerima Anda di Lab-nya, maka langkah selanjutnya adalah menjaga komunikasi yang aktif dan positif. Tentunya tidak setiap hari mengirimkan e-mail ke beliau. Tapi paling tidak secara berkala mengirimkan e-mail yang isinya adalah progress apa yang sedang Anda lakukan selama ini.
·      Mengapa haru menjalin komunikasi aktif? Karena terkadang ada jenjang waktu antara kita mendapatkan Professor yang mau menerima kita di Lab-nya dengan waktu pendaftaran kuliah / seleksi beasiswanya. Nah selama jeda waktu itu kita perlu tetap menjalin komunikasi yang positif.
·      Seperti apa? Tentu sebisa mungkin yang berkaitan dengan riset/studi Anda. Misalnya Anda menulis laporan kegiatan ilmiah yang sedang dilakukan dan mengirimnya ke beliau. Tujuannya agar memberikan kesan positif kepada Professor. Dan banyak cara lainnya yang bisa ditempuh. Terkadang Professor sendiri yang akan memberikan bahan bacaannya dan Anda diminta untuk membaca dan membuat review berdasarkan bacaan lainnya.
·      PENTING SEKALI saya sampaikan juga di sini… bahwa Professor pun manusia biasa, ada kelebihan dan kekurangannya. Penting juga untuk bisa mengetahui sebanyak mungkin tentang beliau, tidak hanya terkait dengan bidang penelitian, namun jika memungkinkan juga berkaitan dengan pribadinya (sifat manusiawinya sehari-hari). Hal ini bisa Anda lakukan dengan bertanya dengan orang Indonesia yang mungkin sedang menempuh di Universitas tempat Professor itu berada.
·      Ini seringkali penting untuk dilakukan karena terkadang masalah yang muncul setelah tiba di Jepang adalah kurang cocoknya mahasiswa asing dengan Professornya. Tentu masalahnya bisa muncul dari keduanya, tapi tak jarang juga kondisinya disebabkan oleh sifat sang Professor. Misal mahasiswanya sudah rajin, aktif, dan pintar… tapi sifat bawaan Professornya kurang mendukung (misalnya Professornya melepas mahasiswanya untuk melakukan apa saja secara mandiri atau kebalikannya… si Professor sangat tegas dan “kejam” hehe). Jika si Professor terlalu melepas mahasiswanya, ini bisa jadi masalah bagi mahasiswanya karena progress studinya jadi gak terkontrol sehingga outputnya kurang bagus… jika Professornya terlalu tegas (strict), bisa jadi mahasiswnya tertekan dan stress… akibatnya studi jadi gak nyaman dan hasilnya juga kurang baik.
·    So… sebelum memutuskan untuk mengkontak Professor sebagai salah satu langkah untuk memulai studi ke Jepang… kumpulkan info sebanyak-banyaknya terkait dengan bidang/Professor yang ingin Anda temui kelak. Harapannya agar tidak ada masalah di kemudian hari dan agar proses studinya berjalan dengan sebaik-baiknya.
Share: